Duka Pahlawan Samudera, Nanggala 402


Asscholmedia.net – Di usia 42 tahun ia retak. Nanggala 402 hidup di kedalaman samudera, ia bukan hanya melawan musuh negara tapi juga menahan tekanan arus segara. Usia tua tak membuatnya surut, mengarung dengan perkasa hingga akhirnya Nanggala 402 ditakdirkan menjadi mutiara di palung samudera. Selama ini kapal selam itu mungkin saja pernah mengeluh soal usianya, hanya saja suaranya tak pernah terdengar – atau jangan-jangan kita berusaha tak mendengar – hingga akhirnya “Sang Siluman” menunaikan tugas terakhirnya.

Nanggala 402 dilepas dalam hening. Heroisme memang tak selalu disambut tepuk tangan, ia kadang dilepas dengan duka yang membanggakan.

Alutsista tua kita tak pernah mengeluh, tak pernah berteriak atas badannya yang sejatinya berderit karat. Atau mungkin mereka sebenarnya pernah berbisik – hanya kita acuh – kalah oleh gemuruh agitasi dan adu domba. Berkali-kali Alutsista tua kita ditinggalkan lawan, mengejar musuh-musuh di permukaan laut yang berlari lebih kencang. Namun kisah-kisah itu tak pernah membuat kita sadar bahwa alat perang adalah akselerasi. Teknologi pertahanan negara adalah busung dada dalam ketiadaan perang sekalipun, ia harga diri, marwah tata batas dan superioritas kedaulatan.

Nanggala 402 telah sampai kepada tujuannya. Berada pada “maqomnya”. Semua benda bisa berhenti dimanapun, hingga akhirnya diam pada perhentiannya yang terakhir. Selebihnya adalah sejarah.

Nanggala 402 menegur. Musibah ini sedang bertatap muka dengan kerentanan alat pertahanan kita. Tak perlu ada perdebatan, karena tekad perubahan bukan soal kata-kata. Modernisasi Alutsista tidak butuh retorika, ia hanya butuh kesadaran para pemangku kepentingan. Kita tidak menyukai perang, tapi setidaknya bangsa kita butuh keyakinan dan kebanggaan dari kemutakhiran alat perang. Jalesveva Jayamahe – Nagabaswara Jalayudha Pamungkas.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Turut berduka kepada para Syuhada’ yang gugur bersama Nanggala 402. Semoga masih ada keajaiban, perlindungan dan keselamatan dari Allah. Allah Maha Mengetahui segala yang terdalam dan yang tertinggi. Semoga Allah memberi ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan.”

Oleh: Islah Bahrawi (Alumni PP. Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

1 Komentar