Jozeph Paul al-Kadzdzab, Musailamah Jaman Now

Tidak ada komentar 108 views
banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net- Sore itu saya mendapat kiriman tautan video dari anak saya, disertai pertanyaan. “Bu, apakah yang dilakukan orang-orang ini bisa disebut jihad?”

Sejenak saya berpikir, ah mungkin kalangan jihadis dan ekstrimis beraksi lagi. Saya jawab pertanyaan anak saya sekenanya, menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang damai, dan Nabi Muhammad adalah sosok yang sabar. Rupanya anak saya belum puas, dan meminta saya agar menonton video itu hingga tuntas.

Sebenarnya di bulan suci ini saya sangat mengurangi tontonan, baik yang viral maupun ecek-ecek amatiran. Akan tetapi untuk memenuhi rasa penasaran anak saya, baiklah saya tonton video dari tautan itu. Ternyata… alangkah terkejutnya saya dengan ucapan yang dilontarkan oleh pria bernama populer Jozeph Paul Zhang. Intinya dia mengaku sebagai nabi ke-26 dan menghina Nabi Muhammad saw dengan kata-kata tidak senonoh yang saya pun tidak sanggup menuliskannya. Sudah, cukup sekali saja saya menonton video tersebut karena mengingat ucapan si brengsek itu saja semakin menganga luka di hati saya.

Kemudian saya langsung teringat pada orang-orang yang pernah mengaku sebagai nabi. Pertama, al-Aswad al-Ansi yang mengaku sebagai nabi di Shan’a, Yaman, kemudian terbunuh satu hari saja sebelum wafatnya Nabi Muhammad saw. Kedua, Musailamah al-Kadzdzab yang dibunuh pada masa kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar ra. Ada juga Thulaihah ibn Khuwailid al-Asadi yang bertempat di Najd bagian barat, tetapi dia sempat bertaubat pada akhir hayatnya.

Kembali ke Jozeph Paul dan kesombongannya yang luar biasa, kiranya pantas jika dia disandingkan dengan Musailamah. Al-Kadzdzab (si pembohong) merupakan julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad sendiri dalam surat beliau kepada si nabi palsu itu. Sesabar-sabarnya Nabi Muhammad saw., menghadapi orang yang satu ini Rasulullah bersikap sangat keras, dan dilanjutkan oleh Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Hingga akhirnya si pembohong ini tewas (aslinya saya ingin menulis kata ‘mampus’) di tangan Wahsyi.

Kembali kepada pertanyaan anak saya, apakah yang dilakukan umat Islam terhadap Jozeph al-Kadzdzab ini jihad? Sekarang saya jawab dengan tegas. Ya, ini jihad kita untuk menyerangnya sekuat tenaga kita. Gunakan apa yang ada untuk memburu dan menyerangnya. Andai si brengsek ini ada di depan mata, ya hantam saja. Memang kita berada di negara hukum, tapi si brengsek ini sendiri yang dengan sesumbar menantang siapapun yang bisa melaporkan atau menjeratnya akan dia beri imbalan 1 juta per-orang. Sombong sekali, bukan? Ya iyalah, dia sudah tidak berada di Indonesia lagi dan sudah melepas status WNI-nya. Pantas saja sesumbar dan berkoar.

Dalam siaran Metro TV selepas tarawih tadi, Imam Prasodjo, sosiolog UI, mengatakan bahwa Jozeph Paul Zhang ini adalah contoh yang sempurna untuk kedunguan sosial saat ini. Oh, sungguh halus istilah tersebut, Pak. Saya maklum, Pak Imam Prasodjo adalah tokoh intelektual yang bijak dan harus hati-hati betul memilih diksi. Sementara saya, yang bukan siapa-siapa ini, dengan geramnya mengatakan bahwa Jozeph Paul Zhang adalah contoh yang sempurna untuk nabi palsu jaman now. Entah akhir hidupnya nanti bagaimana, apakah bisa berakhir husnul khotimah jika bertaubat seperti Thulaihah al-Asadi, atau masih bergelimang kesombongan sehingga nasibnya persis dengan Musailamah al-Kadzdzab yang dibunuh oleh pejuang Islam sejati? Buat yang mau mencarinya, katanya si pengecut itu sembunyi di Hongkong.

Ya, teriring doa semoga siapapun yang sama-sama sedang geram seperti saya, tidak marah secara membabi buta sehingga melebarkan kebencian pada agama atau etnis tertentu. Jangan sampai ada perusakan rumah ibadah agama lain atau perundungan pada golongan lain. Jangan, lah ya. Tahan diri, karena orang satu ini juga kebanjiran kritik dan kecaman dari pemuka agama lain, bukan hanya dari umat Islam.

Mari gunakan berbagai cara, misalnya membuat petisi, menyerbu berbagai media dengan tulisan pembelaan terhadap Nabi kita, menulis pernyataan sikap atau apalah. Setidaknya, saya sudah puas ‘membunuhnya’ dengan artikel ini, sehingga tidak hanya menggerutu dalam hati yang merupakan selemah-lemahnya iman dalam menghadapi kemungkaran. Wallahu a’lam.

Bangkalan, 19 April 2021.

Oleh: Dr. Fera Andriani Djakfar, Lc., M.Pd.I

Referensi:
– M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih
– Berbagai situs internet
– Metro TV hari Senin, 19 April 2021

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas