Jabal Rahmah Monumen Kasih Sayang, Bukti Cinta Nabi Adam dan Ibu Hawa

Asscholmedia.net – Tidak terbayang sebelumnya bahwa Nabi Adam as dan Ibu Hawa akan tinggal di bumi secara terpisah.

Bacaan Lainnya

Menurut Ibnu Abbas ra, ketika Adam diturunkan di bumi, Allah ﷻ menidurkan Nabi Adam as dan tidurlah semua yang ada di bumi dari hewan-hewan buas, burung-bur­ung dan semua yang bernyawa. Dimana sebelum ada kejadian ini mereka semua tidak pernah mengalami tidur dan hari itu dinamakan hari Sabtu yang artinya tidur atau ­istirahat.

Ketika siang tiba dan Nabi Adam as melihat matahari yang berputar di cakrawala di awal siang. Nabi Adam as takjub namun saat matahari makin tinggi di cakrawala, Nabi Adam as mengeluh karena matahari membakar tubuhnya yang tinggi menjulang dalam keadaan telanjang dan tanpa tutup kepala. Disaat itulah Malaikat Jibril as datang membantu Nabi Adam as dengan mengusap kepala Nabi Adam as hingga ketinggian posturnya berkurang menjadi 35 dziro’ (kurang lebih 17 meter).

Baca juga:

Konon menurut Qatadah ra: Sebelumnya, jika Nabi Adam as haus maka ia meminum air di awan. Diriwayatkan pula jika rambut dan kuku Nabi Adam as tumbuh panjang, Jibril as datang untuk membantu memotongnya lalu bekas potongan rambut dan kuku tadi dikubur di tanah, dengan idzin Allah tumbuhlah pohon kurma dilokasi itu.

Ibnu Abbas berkata: Selama 300 tahun Nabi Adam tinggal di bumi, Ia tidak pernah melihat keatas karena malu pada Allah ﷻ dan berdiam diri sambil menangis selama kurang lebih 100 tahun. Dari tetesan air mata Nabi Adam as ini Allah ﷻ tumbuhkan aneka macam rumput.

*****

Betapa sedih dan nestapa Nabi Adam as berada di bumi, berada di bawah terik matahari dengan kondisi tubuh telanjang tanpa sehelai pakaian, sepi dan sunyi tanpa seorang pun menemani. Saat seperti itulah, Nabi Adam as mengadu dan menceritakan semua padanya Jibril as sewaktu Jibril datang menjenguknya.

Mendengar keluh kesah Nabi Adam as, Jibril as mendatangi Ibu Hawa dengan membawa seekor domba dari surga. Mengambilkan bulunya lalu mengajari Ibu Hawa cara mengurai, memintal benang dan menenun agar ibu Hawa bisa membuat selimut yang kemudia­n mengatakannya pada Nabi Adam as untuk dibuat menutup tubuhnya tanpa memberi tahu pada Adam as bahwa selimut itu dari ibu Hawa.

Baca juga:

Ibnu abbas ra mengisahkan: Nabi Adam as selalu teringat dan merindukan ibu Hawa kenyang dan lupa saat lapar. Suatu hari Nabi Adam as bertanya Jibril as: “Wahai Jibril as apakah Hawa masih hidup atau sudah mati?”

“Dia masih hidup wahai Nabi Adam, bahkan keadaannya lebih baik daripada kamu sekarang karena dia ada di pantai dan menangkap ikan lalu dibuat makan”. Jawab Jibril as.

Nabi Adam as berkata: Wahai Jibril sungguh pada suatu malam aku telah bermimpi bertemu dengan Hawa kekasihku”.

“Wahai Adam! Berbahagia­lah engkau, karena Allah tidak memperlihatkann­ya padamu kecuali pertemuan itu kian dekat”. Jawab Jibril, turut bergembira.

*****

Ibnu abbas ra melanjutkan kisahnya: Saat masa ujian Nabi Adam as telah habis dengan bertaubat dan Allah ﷻ menerima taubatnya seperti yang diabadikan dalam firman-Nya.

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kemudian Nabi Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS. al-Baqarah: 37).

Sebagian ulama mengatakan: Bahwa yang dimaksud kalimat ayat tersebut adalah :

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi (QS. al-A’rof: 23).

Sebagian ulama lain mengatakan: Bahwa kalimat tersebut adalah

يَا رَبِّ بِحَقِّ مُحَمَّدً الَْا مَا غَفَرْتَ لِيْ خَطِيْئَتِيْ

“Ya Robbi! Dengan hak Nabi Muhammad ﷺ ampunilah kesalahanku”

Allah ﷻ bertanya pada Nabi Adam as: Bagaimana­ kau bisa mengetahui Muhammad? Padahal dia belum Aku ciptakan”

Nabi Adam as menjawab: Disaat­ Engkau menciptakanku, a­ku mengangkat kepalaku dan aku melihat di pilar-pilar Arasy tertulis kalimat:

إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Maka aku mengetahui bahwa Engkau tidak akan mengaitkan nama-Mu kecuali dengan nama seorang mahluk yang Engkau cintai”.

“Kamu benar Adam! Aku telah mengampunimu karena kau berdoa pada-Ku dengan hak Muhammad”. Jawab Allah ﷻ.

Menurut ats-Tsa’labiy: Setelah itu Allah ﷻ memberi wahyu pada Nabi Adam as: Berjalanlah kau dari bumi Hindia ini menuju Makkah dan thawaflah kau di sana lalu mintalah ampunan pada-Ku, maka Aku akan mengampuni kesalahanmu”.

Dalam perjalan menuju Makkah Nabi Adam tidak sendirian, Allah ﷻ telah mengikut sertakan malaikat untuk menemani dan menjadi petunjuk jalannya sembari Allah ﷻ memberikan sebuah tongkat yang panjangnya 20 dziro’ dari pohon gaharu surga sehingga setiap bumi yang pijaki Nabi Adam as berjalan menjadi terlipat dan bekas pijakannya kelak akan menjadi sebuah pedukuhan penduduk (perkampungan).

Sa­at Nabi Adam as telah memasuki Makkah, Allah ﷻ memerintahkan pada Nabi Adam as melakukan thawaf di Baitullah sebanyak 7 kali tahawafan dengan kepala terbuka dan telanjang badan (semacam orang berpakaian ihram). Maka dari kejadian ini Allah ﷻ mensyariatkan thawaf sebagai bagian dari ritual ibadah haji dan thawaf menjadi pelebur segala dosa Nabi Adam as dan anak cucunya.

Wahhab bin Munabbih ra menambahkan: Ketika Nabi Adam as telah melaksanakan thawaf di Baitullah sebagai ibadah penebusan dosanya, Allah ﷻ memerintahkan pada Nabi Adam as agar keluar menuju tanah Arafah untuk melakukan wuquf (berhenti) sembari mengheningkan cipta disana dan di tanah Arafah inilah tepatnya di jabal Rahmah Nabi Adam as bertemu kembali dengan Ibu Hawa. Maka dari peristiwa inilah wukuf di tanah Arafah menjadi bagaian dari ritual haji hingga dinamakan Arafah karena Nabi Adam as dan ibu Hawa bertemu kembali di sini setelah sempat 500 tahun lamanya terpisah. Konon setelah itu Nabi Adam as dan Ibu Hawa hanya tinggal sebentar di Makkah dan kemudian pindah menuju Hindia (tanah Hindustan).

Wallahu A’llamu

Penulis: 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍 𝑨𝒅𝒛𝒊𝒎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.