𝐒ya’ban adalah Bulan Sholawat, 𝐌aka Perbanyaklah 𝐁ersholawat pada 𝐍abi 𝐌uhammad ï·º

Asscholmedia.net – Pada hari Senin tanggal 1 Sya’ban 1442 H kemarin, setelah menjalankan rutinitas di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Demangan Bangkalan. Saya sempatkan untuk mengaji kitab Tafsir Jalalain sejenak kepada 𝐇𝐚𝐝𝐫𝐚𝐭𝐮𝐥 𝐌𝐮𝐤𝐚𝐫𝐫𝐚𝐦 𝐑𝐊𝐇. 𝐅𝐚𝐤𝐡𝐫𝐢𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐀𝐬𝐜𝐡a𝐥 selaku Mudirul Ma’had. Meski statusnya saya hanya sebagai muhibbin atau simpatisan, tentu tidak ada salahnya bila saya mengais ilmu bersama pada para Alumni pada salah satu keturunan Syaichona Muhammad Kholil Bangkalan. Dengan harapan, saya dan semua anak turun saya turut kebagian ilmu dan barokah dari Syaikhona Kholil. Amin…

Bacaan Lainnya

Dalam pengajian itu, RKH. Fakhrillah Aschal membaca dan memakna penggalan Ayat 187 dalam Surat Al-Baqorah yang berbunyi:

عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَٱلْـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ

Artinya: “𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒕𝒂𝒉𝒖𝒊 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂𝒔𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒂𝒉𝒂𝒏 𝒏𝒂𝒇𝒔𝒖𝒎𝒖, 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒎𝒑𝒖𝒏𝒊 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊 𝒎𝒂𝒂𝒇 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂𝒎𝒖. 𝑴𝒂𝒌𝒂 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒄𝒂𝒎𝒑𝒖𝒓𝒊𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒊𝒌𝒖𝒕𝒊𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌𝒎𝒖…”.

Lalu beliau menjelaskan secara luas arti dan kandungan yang tersirat dalam penggalan Ayat tersebut. Selain ngaji kitab yang menjadi media pertemuan rutin para Alumni setiap bulan, ada suatu yang spesial dalam pengajian itu yaitu Ijazah Awrad (beberapa amal amalan) yang paling diminati dan ditunggu oleh segenap peserta pengajian.

Namun dalam catatan al-Faqir sendiri, ada suatu mutiara ilmu yang sangat berharga yang patut al-Faqir ambil di hari itu, yaitu petikan dawuh beliau: “𝑩𝒖𝒍𝒂𝒏 𝑺𝒚𝒂’𝒃𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏 𝒔𝒉𝒐𝒍𝒂𝒘𝒂𝒕 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝑨𝒚𝒂𝒕 𝒑𝒆𝒓𝒊𝒏𝒕𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒄𝒂 𝒔𝒉𝒐𝒍𝒂𝒘𝒂𝒕 𝒅𝒊 𝒕𝒖𝒓𝒖𝒏𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏 𝑺𝒚𝒂’𝒃𝒂𝒏”. Bagi al-Faqir yang awam, dawuh beliau merupakan ilmu baru yang belum pernah al-Faqir ketahui dan didapat dari para guru. Karena itu al-Faqir penasaran dan ingin tahu lebih detail dawuh beliau melalui sumber aslinya. Siapa tahu ada tambahan ilmu yang ditemukan dari karya agung para ulama, yang salah satunya sempat disebutkan oleh al-Mukarram RKH. Fakhrillah Aschal dalam pengajian itu.

Beliau mengutip dawuh as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Malikiy (w. 1425 H) yang al-Faqir temukan dalam kitab 𝑰𝒕𝒉𝒎𝒊’𝒏𝒂𝒏𝒊 𝒂𝒍-𝑸𝒖𝒍𝒖𝒃 𝒃𝒊 𝒂𝒅𝒛-𝑫𝒛𝒊𝒌𝒓𝒊 𝑨’𝒍𝒍𝒂𝒎𝒖 𝒂𝒍-𝑮𝒉𝒖𝒚𝒖𝒃, 𝑩𝒐𝒐𝒌-𝑷𝒖𝒃𝒍𝒊𝒔𝒉𝒆𝒓, 𝒉𝒂𝒍 18 𝒅𝒂𝒏 𝑴𝒂𝒅𝒛𝒂 𝒇𝒊 𝑺𝒚𝒂’𝒃𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒍 25-26 keduanya karya Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Malikiy.

Dalam kitab tersebut Abuya mengatakan: “Diantaranya keistimewaan pada bulan Sya’ban adalah bahwa Allah ï·» menurunkan Ayat perintah bershalawat kepada Rasulullah ï·º. yaitu firman Allah ï·»:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “𝑺𝒆𝒔𝒖𝒏𝒈𝒈𝒖𝒉𝒏𝒚𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒊𝒌𝒂𝒕-𝒎𝒂𝒍𝒂𝒊𝒌𝒂𝒕-𝑵𝒚𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒉𝒂𝒍𝒂𝒘𝒂𝒕 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝑵𝒂𝒃𝒊. 𝑯𝒂𝒊 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈-𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂𝒏, 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒉𝒂𝒍𝒂𝒘𝒂𝒕𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝑵𝒂𝒃𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒖𝒄𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒑𝒆𝒏𝒈𝒉𝒐𝒓𝒎𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂𝒏𝒚𝒂.” (𝑸𝑺. 𝒂𝒍-𝑨𝒉𝒛𝒂𝒃: 56).

Lalu Abuya mengutip pendapat dari Sayikh Abu Shaif al-Yamaniy dan Syaikh Syihabuddin Al-Qasthalaniy dalam kitabnya Al-Muwahibu al-Ladunniyah bi al-Minahi al-Muhammadiyah dari sebagian ulama yang menyatakan bahwa:

أن شهر شعبان شهر الصلاة على النبي لأن الاية “إن الله وملائكته يصلون على النبي” نزلت فيه

“Sesungguhnya bulan sya’ban adalah bulan shalawat, karena Ayat: 56 Surat al-Ahzab turun di bulan itu”.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaniy (w. 852 H) mengutip pernyataan Abi Dzar al-Hawariy (w. 355 H) menambahkan:

أن الأمر بالصلاة على النبي صلّى الله عليه وسلّم يعني بقوله تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا } [الأحزاب آية: ٥٦] كان في السنة الثانية من الهجرة، وقيل في ليلة الإسراء.

Sesungguhnya perintah bersholawat untuk Nabi, yaitu dalam firman Allah ï·» Ayat: 56 Surat al-Ahzab turun pada tahun kedua Hijriyah, dan sebagian ulama berpendapat pada malam Isra’.

Berikut kitab-kitab lain yang menjelaskan hal yang sama, yang sempat al-Faqir kunjungi:

𝑨𝒍-𝑮𝒉𝒖𝒏𝒚𝒂𝒕𝒖 𝑳𝒊𝒕𝒉𝒂𝒍𝒊𝒃𝒊 𝑻𝒉𝒂𝒓𝒊𝒒𝒊 𝒂𝒍-𝑯𝒂𝒒 𝑨𝒛𝒛𝒂 𝒘𝒂 𝑱𝒂𝒍𝒍𝒂 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍 𝑸𝒂𝒅𝒊𝒓 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒊 𝑺𝒉𝒂𝒍𝒊𝒉 𝒂𝒍-𝑱𝒂𝒊𝒍𝒂𝒏𝒊𝒚 (𝒘. 561 𝑯), 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒋𝒖𝒛 1 𝒉𝒂𝒍 342. 𝑵𝒖𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑨𝒏𝒘𝒂𝒓 𝒘𝒂 𝑲𝒂𝒏𝒛𝒖 𝒂𝒔-𝑨𝒔𝒓𝒐𝒓 𝒇𝒊 𝑫𝒛𝒊𝒌𝒓𝒊 𝒂𝒔𝒉-𝑺𝒉𝒐𝒍𝒂𝒕𝒊 𝒂𝒍𝒂 𝒂𝒏-𝑵𝒂𝒃𝒊 𝒂𝒍-𝑴𝒖𝒌𝒉𝒕𝒂𝒓 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒊𝒏 𝑯𝒂𝒔𝒂𝒏 𝒂𝒍-𝑯𝒂𝒍𝒊𝒃𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑯𝒂𝒏𝒂𝒇𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑸𝒂𝒅𝒊𝒓𝒊𝒚, 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍 12. 𝑨𝒍-𝑴𝒖𝒘𝒂𝒉𝒊𝒃𝒖 𝒂𝒍-𝑳𝒂𝒅𝒖𝒏𝒏𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒃𝒊 𝒂𝒍-𝑴𝒊𝒏𝒂𝒉𝒊 𝒂𝒍-𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑨𝒉𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒂𝒍-𝑸𝒂𝒔𝒕𝒉𝒂𝒍𝒂𝒏𝒊𝒚 (𝒘. 923 𝑯), 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒌𝒕𝒂𝒃𝒂𝒉 𝒂𝒍-𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎𝒊𝒚 𝒋𝒖𝒛 3 𝒉𝒂𝒍 322. 𝑻𝒖𝒉𝒇𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒍-𝑰𝒌𝒉𝒘𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝑸𝒊𝒓𝒂𝒂𝒕𝒊 𝒂𝒍-𝑴𝒊’𝒂𝒅 𝒇𝒊 𝑹𝒂𝒋𝒂𝒃𝒂 𝒘𝒂 𝑺𝒚𝒂’𝒃𝒂𝒏 𝒘𝒂 𝑹𝒂𝒎𝒂𝒅𝒉𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑺𝒚𝒊𝒉𝒂𝒇𝒖𝒅𝒅𝒊𝒏 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒉𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑯𝒊𝒋𝒂𝒛𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑭𝒂𝒔𝒚𝒔𝒚𝒊𝒏𝒊𝒚 (𝒘. 978 𝑯), 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍 66. 𝑸𝒂𝒕𝒉𝒃𝒖 𝒂𝒍-𝑰𝒓𝒔𝒚𝒂𝒅 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑭𝒂𝒒𝒊𝒓𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒓𝒓𝒂𝒉𝒎𝒂𝒏 𝒂𝒍-𝑯𝒂𝒏𝒂𝒇𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑵𝒂𝒒𝒔𝒚𝒂𝒃𝒂𝒏𝒅𝒊𝒚 (𝒘.1195 𝑯), 𝑩𝒐𝒐𝒌-𝑷𝒖𝒃𝒍𝒊𝒔𝒉𝒆𝒓 𝒉𝒂𝒍 575.

Syaikh Muhammad bin Abdul Baqi az-Zarqaniy al-Malikiy (w. 1122 H) dalam Syarah az-Zarqaniy ala Al-Muwahibu al-Ladunniyah bi al-Minahi al-Muhammadiyah karya Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Qasthalaniy (w. 923 H), Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 9 hal 165 mengatakan:

فينبغي الإكثار منها في شعبان

Sayogyanya, memperbanyak bersholawat di bulan Sya’ban.

Dalam kitab Sa’adatu ad-Daraini fi ash-Sholati ala Sayyidi al-Kawnaini, Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabahaniy (w. 1350 H) juga mengutip dari Syaikh Abu Shaif al-Yamaniy menambahkan: “Diriwayatkan dari Ja’far ash-Shodiq, beliau berkata:

من صلى على النبي ﷺ في شعبان في كل يوم سبعمائة مرة يوكل الله ملائكته ليوصلوها إليه وتفرح روح محمد ﷺ لذلك.

“Barang siapa bersholawat pada Nabi ï·º setiap hari di bulan Sya’ban sebanyak 700 kali, maka akan mewakilkan malaikatnya agar menyampaikan bacaan sholawatnya pada Nabi ï·º dan ruh Nabi Muhammad ï·º bergembira karena sholawat itu”.

Dan diriwayatkan dari Thusi al-Yamaniy, beliau berkata:

“Aku bertanya pada al-Hasan bin Ali ra tentang malam catatan amal, yaitu malam Nisfu Sya’ban dan tentang amalan yang dilakukan di dalamnya. Beliau menjawab:

“Aku menjadikannya (malam Nisfu Sya’ban) menjadi 3 bagian, sepertiga waktu aku gunakan membaca sholawat pada kakekku Nabi Muhammad ï·º dan menjalankan perintah Allah ï·» yang berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “𝑺𝒆𝒔𝒖𝒏𝒈𝒈𝒖𝒉𝒏𝒚𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒊𝒌𝒂𝒕-𝒎𝒂𝒍𝒂𝒊𝒌𝒂𝒕-𝑵𝒚𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒉𝒂𝒍𝒂𝒘𝒂𝒕 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝑵𝒂𝒃𝒊. 𝑯𝒂𝒊 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈-𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂𝒏, 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒉𝒂𝒍𝒂𝒘𝒂𝒕𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝑵𝒂𝒃𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒖𝒄𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒑𝒆𝒏𝒈𝒉𝒐𝒓𝒎𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂𝒏𝒚𝒂.” (𝑸𝑺. 𝒂𝒍-𝑨𝒉𝒛𝒂𝒃: 56). Dan sepertiga waktu aku gunakan memohon ampunan pada Allah ﷻ karena telah berfirman Allah ﷻ:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Artinya: “𝑫𝒂𝒏 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒅𝒛𝒂𝒃 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒔𝒆𝒅𝒂𝒏𝒈 (𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂) 𝒔𝒆𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊𝒂𝒔𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒔𝒕𝒊𝒈𝒉𝒇𝒂𝒓 (𝒎𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒂𝒎𝒑𝒖𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉).” (𝑸𝑺. 𝑨𝒍-𝑨𝒏𝒇𝒂𝒂𝒍: 33). Dan sepertiga waktu lagi aku gunakan ruku’ dan sujud (sholat) menjalankan perintah karena Allah telah berfirman ï·»:

وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب

“𝑫𝒂𝒏 𝒔𝒖𝒋𝒖𝒅𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒅𝒆𝒌𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏𝒍𝒂𝒉 (𝒅𝒊𝒓𝒊𝒎𝒖 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑻𝒖𝒉𝒂𝒏).” (𝑸𝑺. 𝑨𝒍-𝑨𝒍𝒂𝒒: 19). Lalu bertanya (pada al-Hasan bin Ali ra): “Pahala apakah yang didapat bagi orang mengamalkan semua itu?” al-Hasan bin Ali ra menjawab: “Aku mendengar Ayahku berkata, bahwa Nabi ï·º pernah bersabda:

من أحيا ليلة الصك كتب من المقربين

“Barang siapa yang menghidupkan malam catatan amal (malam Nisfu Sya’ban) maka akan dicatat sebagai orang-orang yang didekatkan (kepada Allah ï·»).” Yaitu orang-orang yang termaktub dalam firman Allah ï·»:

فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ} [الواقعة آية: ٨٨-٨٩].

“𝑨𝒅𝒂𝒑𝒖𝒏 𝒋𝒊𝒌𝒂 𝒅𝒊𝒂 (𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒂𝒕𝒊) 𝒕𝒆𝒓𝒎𝒂𝒔𝒖𝒌 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒅𝒆𝒌𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 (𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 ï·»), 𝒎𝒂𝒌𝒂 𝒅𝒊𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒏𝒕𝒆𝒓𝒂𝒎𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒓𝒆𝒛𝒆𝒌𝒊 𝒔𝒆𝒓𝒕𝒂 𝒔𝒖𝒓𝒈𝒂 𝒌𝒆𝒏𝒊𝒌𝒎𝒂𝒕𝒂𝒏.” (𝑸𝑺. 𝑨𝒍-𝑾𝒂𝒒𝒊’𝒂𝒉: 88-89).

Syaikh Syaifuddin bin Ahmad bin Hijaziy al-Fasysyiniy (w. 978 H) dalam 𝑻𝒖𝒉𝒇𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒍-𝑰𝒌𝒉𝒘𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝑸𝒊𝒓𝒂𝒂𝒕𝒊 𝒂𝒍-𝑴𝒊’𝒂𝒅 𝒇𝒊 𝑹𝒂𝒋𝒂𝒃𝒂 𝒘𝒂 𝑺𝒚𝒂’𝒃𝒂𝒏 𝒘𝒂 𝑹𝒂𝒎𝒂𝒅𝒉𝒂𝒏, 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍 66 dikutip dari sebagian ulama mengatakan: “Rajab adalah bulan pensucian badan, Sya’ban adalah bulan pensucian hati sedangkan Ramadhan adalah pensucian ruh, jika badan tidak bersih di bulan Rajab dan hati tidak bersih di bulan Sya’ban maka bagaimana ruh bisa bersih di bulan Ramadhan? Maka dari itu Rasulullah ï·º bersabda:

رَجَبٌ شَهْرُ الله، وشَعْبانُ شَهْرِي، وَرَمَضانُ شَهْرُ أُمَّتِي.

“𝑹𝒂𝒋𝒂𝒃 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉, 𝑺𝒚𝒂’𝒃𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏𝒌𝒖 𝒅𝒂𝒏 𝑹𝒂𝒎𝒂𝒅𝒉𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏 𝒖𝒎𝒂𝒕𝒌𝒖.” [𝑯𝑹. 𝑨𝒔𝒚-𝑺𝒚𝒂𝒖𝒌𝒂𝒏𝒊𝒚 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑵𝒂𝒊𝒍𝒖 𝒂𝒍-𝑨𝒖𝒕𝒉𝒐𝒓 4/334 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑨𝒍-𝑯𝒂𝒔𝒂𝒏 𝒂𝒍-𝑩𝒊𝒔𝒉𝒓𝒊𝒚, 𝑯𝒂𝒅𝒊𝒕𝒔 𝑴𝒖𝒓𝒔𝒂𝒍].

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَب وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ.

“𝒀𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉! 𝑩𝒆𝒓𝒌𝒂𝒉𝒊𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒎𝒊 𝒅𝒊 𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏 𝑹𝒂𝒋𝒂𝒃 𝒅𝒂𝒏 𝑺𝒚𝒂’𝒃𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒎𝒊 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏 𝑹𝒂𝒎𝒂𝒅𝒉𝒂𝒏.” [𝑯𝑹 𝑨𝒕-𝑻𝒉𝒂𝒃𝒓𝒂𝒏𝒊 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑨𝒍-𝑨𝒖𝒔𝒂𝒕𝒉 𝒏𝒐. 3939, 𝑨𝒍-𝑩𝒂𝒊𝒉𝒂𝒒𝒊 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑺𝒚𝒖’𝒂𝒃𝒖𝒍-𝑰𝒎𝒂𝒏 𝒏𝒐. 3534].

Waallahu A’lamu

Penulis: 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍 𝑨𝒅𝒛𝒊𝒎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.