Simalakama, Antara Memilih Taat Pada Suami dan Mengabdi Pada Orang Tua

Asscholmedia.net – Agama Islam tidak pernah pilih kasih dalam penetapan hukum pada umatnya, semua perintah dan larangan yang telah ditetapkan Allah ﷻ telah sesuai dengan porsi dan kemampuan hamba-hamba-Nya serta dibalik semua itu pasti ada hikmah dan manfaat yang kembali pada hamba-hamba-Nya.

Laki-laki dan wanita selamanya tetap berbeda dan tidak bisa dipaksakan sama. Keduanya diciptakan saling melengkapi agar kehidupan ini lebih indah dan harmonis seperti adanya Matahari dan Rembulan yang orbitnya berbeda. Maka dari itu Islam mensyariatkan pernikahan, laki-laki (suami) punya tugas memenuhi segala kebutuhan istri dan keluarganya serta diperintahkan memperlakukan istri dengan baik sedangkan wanita (istri) selain harus memperlakukan seorang suami dengan baik, ia juga punya tugas penting yaitu taat pada perintah suami dalam segala hal selagi tidak memerintahkan kemaksiatan. Andai laki-laki bijak melaksanakan semua kewajibannya sebagai suami dan perempuan patuh pada tugasnya niscaya tidak akan ada kecemburuan status dan tidak perlu menuntut kesetaraan gender.

Karena itu Syaikh Syihafuddin bin Ahmad bin Ahmad bin Salamah al-Qulyubiy (w. 1069) dalam Hasyiyahnya mengatakan:

حقوق الزوج عليها طاعته وملازمة المسكن وحقوقها عليه المهر والقسم والنفقة ونحوهاوأم المعاشرة بالمعروف فهى حق لكل منهما على الآخر.

“Hak-hak istri terhadap suaminya adalah taat dan selalu berada di rumah sedangkan hak-hak suami pada istrinya memberikan mas kawin, qasm (adil dalam menggilir), memberi nafkah dan lain-lainnya sedang menggauli pasangan dengan baik adalah hak bagi setiap pasangan pada pasangannya.”

Terkait dengan topik ini dan postingan saya kemarin tentang kewajiban seorang istri taat pada suaminya yang termaktub dalam sebuah kisah Hadits Nabi ﷺ, beberapa ulama sejak dulu telah memperbincangkannya secara aktual dengan argumentasi yang memukau dan representatif. Berikut komentar mereka:

Hujjatu al-Islam al-Imam al-Ghazali (w. 505 H) dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin mengatakan:

أن النكاح نوع رق، فهي رقيقة له، فعليها طاعة الزوج مطلقاً في كل ما طلب منها في نفسها مما لا معصية فيه.

“Sesungguhnya pernikahan itu merupakan macam dari perbudakan. Istri adalah budak bagi suami. Maka wajib bagi seorang istri taat dan patuh pada suami secara mutlak dalam segala apa yang diminta suami pada dirinya selagi di dalam tidak ada unsur kemaksiatan”.

Menurut beliau telah banyak Hadits yang menjelaskan keagungan hak suami atas istrinya di antaranya:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا رَاضٍ عَنْهَا دَخَلَتْ الْجَنَّةَ

Artinya: “𝑾𝒂𝒏𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒑𝒖𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒂𝒕𝒊 𝒔𝒆𝒅𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒖𝒂𝒎𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒓𝒆𝒍𝒂 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂𝒏𝒚𝒂, 𝒎𝒂𝒌𝒂 𝒊𝒂 𝒎𝒂𝒔𝒖𝒌 𝒔𝒖𝒓𝒈𝒂. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ummu Salamah).

Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani ( w. 1316 H) dalam Kitab Uqud al-Lujain menambahkan:

(ومن الكبائر) أي كبائر الذنوب (خروج المرأة الممزوجة من بيتها) أي محل إقامتها (بغير إذنه، ولو أموت أحد أبويها) أي لأجل جنازته.

“Bahwa salah satu dosa besar bagi seorang istri adalah apabila ia keluar rumah tanpa seijin suaminya. Kendati tujuannya untuk takziyah kepada orang tuanya yang meninggal dunia.”

Begitu juga Syaikh Muhammad bin Salim bin Sa’id Babashil dalam kitab Is’adu ar-Rafiq menambahkan:

“Wajib bagi istri taat pada suaminya dalam hal yang diperintahkan dan yang diminta dari diri seorang istri dan lainnya kecuali dalam pekerjaan atau perkataan yang tidak dihalalkan atau dengan kata lain tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat kemaksiatan kepada sang Khaliq (Allah ﷻ) dengan cara menempatkan dirinya sebagai sayaha bagi seorang suami”. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ المَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا لِعَظِيْمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا فَعَلَيْهَا مَسَرَّتُهُ

Artinya: “𝑺𝒆𝒂𝒏𝒅𝒂𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒌𝒖 (𝒃𝒐𝒍𝒆𝒉) 𝒎𝒆𝒎𝒆𝒓𝒊𝒏𝒕𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒔𝒖𝒋𝒖𝒅 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒊𝒏, 𝒏𝒊𝒔𝒄𝒂𝒚𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒌𝒖 𝒑𝒆𝒓𝒊𝒏𝒕𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒆𝒎𝒑𝒖𝒂𝒏 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒖𝒋𝒖𝒅 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒖𝒂𝒎𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒃𝒆𝒔𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒉𝒂𝒌 𝒔𝒖𝒂𝒎𝒊 𝒕𝒆𝒓𝒉𝒂𝒅𝒂𝒑 𝒊𝒔𝒕𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂, 𝒎𝒂𝒌𝒂 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔𝒍𝒂𝒉 𝒘𝒂𝒏𝒊𝒕𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒉𝒂𝒈𝒊𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒖𝒂𝒎𝒊𝒏𝒚𝒂” (HR. Tirmidzi no. 1159).

Sementara menurut Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairamiy (w. 1221 H) dalam kitab Hasyiyah al-Bujairamiy ala al-Khatib mengatakan:

وللزوج منع زوجته من عيادة أبويها ومن شهود جنازتهما وجنازة ولدها والأولى أن لا يفعل. اهـ. س ل وم د على التحرير.

“(Meski) boleh bagi seorang suami melarang istrinya untuk tidak menjenguk kedua orang tuanya dan menyaksikan jenazah keduanya serta jenazah anaknya tapi hendaknya yang lebih utama tidak melakukannya menurut pendapat Sulthan bin Ahmad al-Mazakhi (w. 1075 H) dan Hasan bin ‘Ali Ahmad al-Mudabiry (w.1170 H) dengan teks yang berbeda.”

Senada dengan pendapat para pendahulu di atas Ad-Daktur Syaikh Wahbah az-Zuhailiy (w. 1436 H) dalam al-Fikhi al-Islami wa Adillatuhu mengatakan:

“Tidak perkenankan bagi seorang istri keluar dari rumahnya sekali pun dalam rangka menunaikan ibadah haji kecuali seidzin suaminya. Maka bagi suami boleh melarangnya seperti keluar ke Masjid dan lainnya karena terdapat sebuah riwayat Hadits:

عن ابن عمر رضي الله عنه قال: رأيت امرأة أتت إلى النبي صلى الله عليه وسلم وقالت «يارسول الله ، ما حق الزوج على زوجته؟ قال: حقه عليها ألا تخرج من بيتها إلا بإذنه، فإن فعلت، لعنها الله وملائكة الرحمة، وملائكة الغضب حتى تتوب أو ترجع، قالت: يا رسول الله ، وإن كان لها ظالماً؟ قال: وإن كان لها ظالماً»

Artinya: “𝑫𝒂𝒓𝒊 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒊𝒏 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒓𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒌𝒂𝒕𝒂, “𝒂𝒌𝒖 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒆𝒓𝒆𝒎𝒑𝒖𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈𝒊 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷺ 𝒅𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂: “𝑾𝒂𝒉𝒂𝒊 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷺ, 𝒂𝒑𝒂 𝒔𝒂𝒋𝒂 𝒉𝒂𝒌 𝒔𝒖𝒂𝒎𝒊 𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒊𝒔𝒕𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂?” 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷺ 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒘𝒂𝒃: “𝑯𝒂𝒌 𝒔𝒖𝒂𝒎𝒊 𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒊𝒔𝒕𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒊𝒔𝒕𝒓𝒊 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒅𝒊𝒑𝒆𝒓𝒃𝒐𝒍𝒆𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒓𝒖𝒎𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒆𝒄𝒖𝒂𝒍𝒊 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒊𝒅𝒛𝒊𝒏 𝒔𝒖𝒂𝒎𝒊. 𝑨𝒑𝒂𝒃𝒊𝒍𝒂 𝒊𝒂 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒌𝒖𝒌𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒂𝒌𝒂 𝒊𝒂 𝒅𝒊𝒍𝒂𝒌𝒏𝒂𝒕 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒊𝒌𝒂𝒕 𝒓𝒂𝒉𝒎𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒊𝒌𝒂𝒕 𝒈𝒉𝒂𝒅𝒂𝒃 (𝒎𝒂𝒓𝒂𝒉) 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊 𝒊𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒂𝒖𝒃𝒂𝒕. 𝑾𝒂𝒏𝒊𝒕𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂: “𝑾𝒂𝒉𝒂𝒊 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷺ, 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒍𝒊𝒑𝒖𝒏 𝒔𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒖𝒂𝒎𝒊 𝒃𝒆𝒓𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒛𝒂𝒍𝒊𝒎? 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷺ 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒘𝒂𝒃 𝒚𝒂! 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒍𝒊𝒑𝒖𝒏 𝒊𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒅𝒛𝒂𝒍𝒊𝒎.” (HR. Abu Daud).

Dan karena melaksanakan hak pada suami hukumnya wajib, maka tidak boleh meninggalkannya karena alasan sesuatu yang tidak wajib namun hukumnya makruh menurut kalangan Syafi’iyah karena melarangnya suami terhadap istrinya untuk mengunjungi kedua orang tuanya ketika sakit parah dan menghadiri jenazahnya ketika telah meninggal dunia dapat menyebabkan kerenggangan dan kedurhakaan pada orang tuanya sedangkan menurut kalangan Hanafiyah boleh seorang istri keluar rumah tanpa seidzin suaminya ketika salah satu orang tuanya sedang sakit.

Alhasil, para ulama berbeda pendapat dalam masalah seorang istri mengunjungi kedua orang tuanya sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fikkiyah al-Kuwitiyah. Dari kalangan Hanifiyah mengatakan: “Seorang suami tidak diperkenankan melarang istrinya menjenguk orang tuanya yang sedang sakit parah dan tidak ada orang pun yang merawatnya serta (dalam kondisi seperti ini) tidak wajib bagi seorang istri taat suaminya baik orang tuanya itu Muslim atau Kafir karena berhidzmah (mengabdi) pada orang tua hukumnya fardhu, maka dari itu harus di dahulukan dari hak suami”.

Sementara dari kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah mengatakan: “Tidak perkenankan bagi seorang istri keluar rumah untuk menjenguk orang tuanya yang sakit suaminya atau melihat jenazahnya kecuali seidzin dan boleh bagi suami melarangnya. Berdasar hadits:

عَنْ أَنَسٍ بنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ; أنَّ رَجُلاً خَرَجَ وَأَمَرَ امْرَأَتَهُ أَنْ لاَ تَخْرُجَ مِنْ بَيْتِهَا، فَمَرِضَ أَبُوهَا، فَاسْتَأْذَنَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَال لَهَا: «أَطِيعِي زَوْجَكِ» فَمَاتَ أَبُوهَا فَاسْتَأْذَنَتْ مِنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حُضُورِ جِنَازَتِهِ فَقَال لَهَا: أَطِيعِي زَوْجَكِ فَأَرْسَل إِلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لأَِبِيهَا بِطَاعَتِهَا لِزَوْجِهَا»

𝑫𝒊𝒓𝒊𝒘𝒂𝒚𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑨𝒏𝒂𝒔 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒂𝒍𝒊𝒌 𝒓𝒂. 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒖𝒂𝒎𝒊 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒂𝒎𝒊𝒕 𝒃𝒆𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒑𝒆𝒔𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒊𝒔𝒕𝒆𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒓𝒖𝒎𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂. 𝑳𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒑𝒆𝒓𝒆𝒎𝒑𝒖𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒔𝒆𝒃𝒖𝒕 𝒋𝒂𝒕𝒖𝒉 𝒔𝒂𝒌𝒊𝒕. 𝑴𝒂𝒌𝒂, 𝒑𝒆𝒓𝒆𝒎𝒑𝒖𝒂𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒎𝒆𝒎𝒐𝒉𝒐𝒏 𝒊𝒅𝒛𝒊𝒏 (𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒓𝒊𝒎 𝒔𝒖𝒓𝒂𝒕 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂) 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷺ (𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒆𝒏𝒈𝒖𝒌 𝒂𝒚𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂). 𝑴𝒂𝒌𝒂 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷺ 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒍𝒂𝒔𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒊𝒏𝒕𝒂𝒉, “𝑷𝒂𝒕𝒖𝒉𝒊 𝒔𝒖𝒂𝒎𝒊𝒎𝒖!” 𝑻𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒔𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒕𝒆𝒓𝒔𝒆𝒃𝒖𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒆𝒎𝒑𝒖𝒂𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒑𝒖𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒐𝒉𝒐𝒏 𝒊𝒅𝒛𝒊𝒏 (𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒓𝒊𝒎 𝒔𝒖𝒓𝒂𝒕) 𝒍𝒂𝒈𝒊 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷺ 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓𝒊 𝒋𝒆𝒏𝒂𝒛𝒂𝒉 𝒂𝒚𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂. 𝑵𝒂𝒎𝒖𝒏 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷺ 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑 𝒎𝒆𝒎𝒆𝒓𝒊𝒏𝒕𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏: “𝑷𝒂𝒕𝒖𝒉𝒊 𝒔𝒖𝒂𝒎𝒊𝒎𝒖!”. 𝑺𝒆𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒊𝒕𝒖, 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷺ 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒖𝒕𝒖𝒔 𝒖𝒕𝒖𝒔𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂𝒉𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒆𝒎𝒑𝒖𝒂𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷻ 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒎𝒑𝒖𝒏𝒊 𝒅𝒐𝒔𝒂 𝒂𝒚𝒂𝒉𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒃 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒕𝒖𝒉𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒉𝒂𝒅𝒂𝒑 𝒔𝒖𝒂𝒎𝒊𝒏𝒚𝒂.” (HR. At-Thabarani).

Alasan yang lain, karena taat pada suami itu wajib, maka tidak perkenankan meninggalkan suatu yang wajib demi suatu yang tidak wajibkan. Mereka kalangan Syafi’iyah mengatakan: “Tetapi seyogyanya seorang suami tidak melarang istrinya untuk menjenguk kedua orang tuanya yang sedang sakit dan menghadiri jenazahnya bila meninggal dunianya karena hal itu dapat memutuskan ikatan anak dengan kedua orang tuanya dan dapat memicu seorang istri melawan perintah suaminya. Bukankah Allah ﷻ telah memerintah pada seorang suami agar “mu’asyiru hunna bil ma’ruf” (memperlakukan istrinya dengan baik)? Sedangkan melarang seorang istri dari menjenguk kedua orang tuanya yang sakit tidak tergolong “mu’asyiru hunna baik ma’ruf” (memperlakukan istri dengan baik).

Waallah A’lamu

Penulis: 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍 𝑨𝒅𝒛𝒊𝒎

Referensi:

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑺𝒚𝒊𝒉𝒂𝒇𝒖𝒅𝒅𝒊𝒏 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒉𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒉𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑺𝒂𝒍𝒂𝒎𝒂𝒉 𝒂𝒍-𝑸𝒖𝒍𝒚𝒖𝒃𝒊𝒚| 𝑯𝒂𝒔𝒚𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒂𝒍-𝑸𝒖𝒍𝒚𝒖𝒃𝒊𝒚 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝑯𝒂𝒔𝒚𝒊𝒚𝒂𝒕𝒂𝒊𝒏𝒊| 𝑺𝒚𝒊𝒓𝒌𝒂𝒉 𝑴𝒂𝒌𝒕𝒂𝒃𝒂𝒉 𝒘𝒂 𝑴𝒂𝒕𝒉𝒃𝒖’𝒂𝒉 𝑴𝒖𝒔𝒕𝒉𝒐𝒇𝒂 𝒂𝒍-𝑩𝒂𝒃𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑯𝒂𝒍𝒊𝒃𝒊𝒚 𝒘𝒂 𝑨𝒖𝒍𝒂𝒅𝒊𝒉𝒊 𝑴𝒆𝒔𝒊𝒓 𝒋𝒖𝒛 3 𝒉𝒂𝒍 299

✍️ 𝑨𝒍-𝑰𝒎𝒂𝒎 𝑨𝒃𝒊 𝑯𝒂𝒎𝒊𝒅 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒂𝒍-𝑮𝒉𝒂𝒛𝒂𝒍𝒊𝒚| 𝑰𝒉𝒚𝒂’ 𝑼𝒍𝒖𝒎𝒊𝒅𝒅𝒊𝒏| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒋𝒖𝒛 2 𝒉𝒂𝒍 72

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑺𝒂𝒍𝒊𝒎 𝒃𝒊𝒏 𝑺𝒂’𝒊𝒅 𝑩𝒂𝒃𝒂𝒔𝒉𝒊𝒍| 𝑰𝒔’𝒂𝒅𝒖 𝒂𝒓-𝑹𝒂𝒇𝒊𝒒 𝒘𝒂 𝑩𝒖𝒈𝒉𝒊𝒚𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒔𝒉-𝑺𝒉𝒂𝒅𝒊𝒒| 𝑴𝒂𝒕𝒉𝒃𝒂’𝒉 𝑨𝒍-𝑯𝒂𝒍𝒊𝒃𝒊𝒚 𝒘𝒂 𝑨𝒘𝒍𝒂𝒅𝒊𝒉𝒊 𝑴𝒆𝒔𝒊𝒓 𝒉𝒂𝒍 148

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝑵𝒂𝒘𝒂𝒘𝒊 𝒂𝒍-𝑱𝒂𝒘𝒊𝒚|𝑺𝒚𝒂𝒓𝒂𝒉 𝑼𝒒𝒖𝒅𝒖 𝒂𝒍-𝑳𝒊𝒋𝒂𝒊𝒏 𝒇𝒊 𝑩𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈𝒊 𝑯𝒖𝒒𝒖𝒒𝒊 𝒂𝒛-𝒁𝒂𝒘𝒋𝒂𝒊𝒏| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝑰𝒉𝒚𝒂’ 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑨𝒓𝒂𝒃𝒊𝒚𝒂𝒉 𝑰𝒏𝒅𝒐𝒏𝒆𝒔𝒊𝒂 𝒉𝒂𝒍 15

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑺𝒖𝒍𝒂𝒊𝒎𝒂𝒏 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝒂𝒍-𝑩𝒖𝒋𝒂𝒊𝒓𝒂𝒎𝒊𝒚| 𝑯𝒂𝒔𝒚𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒂𝒍-𝑩𝒖𝒋𝒂𝒊𝒓𝒂𝒎𝒊𝒚 𝒂𝒍𝒂 𝒂𝒍-𝑲𝒉𝒂𝒕𝒊𝒃| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒋𝒖𝒛 4 𝒉𝒂𝒍 253

✍️ 𝑨𝒅-𝑫𝒂𝒌𝒕𝒖𝒓 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑾𝒂𝒉𝒃𝒂𝒉 𝒂𝒛-𝒁𝒖𝒉𝒂𝒊𝒍𝒊𝒚| 𝒂𝒍-𝑭𝒊𝒌𝒉𝒊 𝒂𝒍-𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎𝒊 𝒘𝒂 𝑨𝒅𝒊𝒍𝒍𝒂𝒕𝒖𝒉𝒖| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑭𝒊𝒌𝒓 𝒋𝒖𝒛 7 𝒉𝒂𝒍 335-336

✍️ 𝑻𝒊𝒎 𝑼𝒍𝒂𝒎𝒂| 𝑨𝒍-𝑴𝒂𝒖𝒔𝒖’𝒂𝒉 𝑨𝒍-𝑭𝒊𝒒𝒉𝒊𝒚𝒚𝒂𝒉 𝑨𝒍-𝑲𝒖𝒘𝒂𝒊𝒕𝒊𝒚𝒚𝒂𝒉| 𝑲𝒆𝒎𝒆𝒏𝒕𝒓𝒊𝒂𝒏 𝑾𝒂𝒌𝒂𝒇 𝑲𝒖𝒘𝒂𝒊𝒕 𝒋𝒖𝒛 24 𝒉𝒂𝒍 58.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.