Kisah Istri Sholehah Taat Pada Sang Suaminya

Tidak ada komentar 238 views
banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net- Pada zaman Rasulullah ﷺ ada wanita (istri) sholihah yang sangat berbakti pada suaminya. Di suatu hari suaminya hendak bepergian. Sebelum berangkat ia meminta istrinya agar tidak turun dari tempatnya yang berada di bagian atas tingkat rumahnya. Sementara ayah si istri berada di tingkat bawah sedang sakit.

Wanita itu lantas mengutus seorang pembantunya menghadap Rasulullah ﷺ untuk meminta izin turun sebentar membesuk orang tuanya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Taatilah suamimu. Jangan engkau turun.”

Tidak begitu lama, orang tuanya meninggal dunia. Si istri itu mengirim utusan menghadap Rasulullah ﷺ untuk memohonkan izin, agar dirinya dapat menyaksikan jenazah orang tuanya. Kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Taatilah suamimu”.

Maka orang tuanya pun dikuburkan. Tidak begitu lama Rasulullah ﷺ mengutus seseorang untuk memberi tahu kepada wanita itu bahwa Allah ﷻ telah mengampuni dosa-dosa orang tuanya disebabkan ketaatannya kepada suaminya.”

————————————

𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝒊𝒏𝒊 𝒅𝒊𝒔𝒂𝒅𝒖𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑯𝒂𝒅𝒊𝒔𝒕 𝒓𝒊𝒘𝒂𝒚𝒂𝒕 𝒂𝒕-𝑻𝒉𝒂𝒃𝒓𝒂𝒏𝒊 𝒅𝒊 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒊𝒕𝒂𝒃 𝒂𝒍-𝑨𝒖𝒔𝒂𝒕𝒉 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑨𝒏𝒂𝒔 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒂𝒍𝒊𝒌 𝒓𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒏𝒂𝒅 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒉𝒂𝒊𝒇 𝒌𝒆𝒄𝒖𝒂𝒍𝒊 𝒍𝒂𝒇𝒂𝒅𝒛: “𝑮𝒉𝒂𝒇𝒂𝒓𝒂 𝑳𝒊 𝑨𝒃𝒊𝒊𝒉𝒂” 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒍-𝑰𝒓𝒂𝒒𝒊𝒚 (𝒘. 896 𝑯) 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒊𝒕𝒂𝒃𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒍-𝑴𝒖𝒈𝒉𝒏𝒊 ‘𝒂𝒏 𝑯𝒂𝒎𝒍𝒊 𝒂𝒍-𝒂𝒔𝒇𝒂𝒓 𝒇𝒊 𝒂𝒍-𝑨𝒔𝒇𝒂𝒓 𝒇𝒊 𝑻𝒂𝒌𝒉𝒓𝒊𝒋 𝑴𝒂𝒂 𝒇𝒊 𝒂𝒍-𝑰𝒉𝒚𝒂 𝒎𝒊𝒏 𝒂𝒍-𝑨𝒌𝒉𝒃𝒂𝒓, 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒌𝒕𝒂𝒃𝒂𝒉 𝒂𝒔𝒚-𝑺𝒚𝒂𝒎𝒊𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒍-𝑯𝒂𝒅𝒊𝒕𝒔 𝒉𝒂𝒍 498. Berikut teks aslinya:

كَانَ خَرَجَ رَجُلٌ فِيْ سَفَرِهِ وَعَهِدَ إِلَى امْرَأَتِهِ أَنْ لاَ تَنْزِلَ مِنَ الْعلوِ إِلَى السفْلِ، وَكَانَ أَبُوْهَا فِيْ الأَسْفَلِ، فَمَرِضَ فَأَرْسَلَتْ الْمَرْأَةُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْتَأْذِنُ فِيْ النُزُوْلِ إِلَى أَبِيْهَا، فَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَطِيْعِيْ زَوْجَكِ فَمَاتَ. فَاسْتَأْذَنَتْ، فَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَطِيْعِيْ زَوْجَكِ” فَدُفِنَ أَبُوْهَا، فَأَرْسَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهَا يُخْبِرُهَا: “أَنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ غَفَرَ لأَبِيْهَا بِطَاعَتِهَا لِزَوْجِهَا.”

Catatan: Implikasi hukum dari hadits ini, menjadi polemik panjang banyak kalangan dari zaman ke zaman lebih-lebih di zaman modern seperti sekarang khususnya bagi penganut faham “Kesetaraan Gender”. Lalu bagaimanakah komentar para ulama mengenai jawaban hukum, jika terjadi dilema antara patuh pada suami atau orang tua bagi seorang istri? Jawabannya baca dituliskan saya berikutnya di https://asscholmedia.net insyaallah…

Waallahu A’lamu

Penulis: 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍 𝑨𝒅𝒛𝒊𝒎

Referensi:

✍️ 𝑨𝒍-𝑰𝒎𝒂𝒎 𝑨𝒃𝒊 𝑯𝒂𝒎𝒊𝒅 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒂𝒍-𝑮𝒉𝒂𝒛𝒂𝒍𝒊𝒚| 𝑰𝒉𝒚𝒂’ 𝑼𝒍𝒖𝒎𝒊𝒅𝒅𝒊𝒏| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒋𝒖𝒛 2 𝒉𝒂𝒍 72

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑺𝒂𝒍𝒊𝒎 𝒃𝒊𝒏 𝑺𝒂’𝒊𝒅 𝑩𝒂𝒃𝒂𝒔𝒉𝒊𝒍| 𝑰𝒔’𝒂𝒅𝒖 𝒂𝒓-𝑹𝒂𝒇𝒊𝒒 𝒘𝒂 𝑩𝒖𝒈𝒉𝒊𝒚𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒔𝒉-𝑺𝒉𝒂𝒅𝒊𝒒| 𝑴𝒂𝒕𝒉𝒃𝒂’𝒉 𝑨𝒍-𝑯𝒂𝒍𝒊𝒃𝒊𝒚 𝒘𝒂 𝑨𝒘𝒍𝒂𝒅𝒊𝒉𝒊 𝑴𝒆𝒔𝒊𝒓 𝒉𝒂𝒍 148

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝑵𝒂𝒘𝒂𝒘𝒊 𝒂𝒍-𝑱𝒂𝒘𝒊𝒚|𝑺𝒚𝒂𝒓𝒂𝒉 𝑼𝒒𝒖𝒅𝒖 𝒂𝒍-𝑳𝒊𝒋𝒂𝒊𝒏 𝒇𝒊 𝑩𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈𝒊 𝑯𝒖𝒒𝒖𝒒𝒊 𝒂𝒛-𝒁𝒂𝒘𝒋𝒂𝒊𝒏| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝑰𝒉𝒚𝒂’ 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑨𝒓𝒂𝒃𝒊𝒚𝒂𝒉 𝑰𝒏𝒅𝒐𝒏𝒆𝒔𝒊𝒂 𝒉𝒂𝒍 15

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas