MENGENANG KEMBALI PERISTIWA NABI MUSA AS MENDAPAT GELAR KALIMULLAH

banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net – Takkala Allah ﷻ memberi wahyu kepada Nabi Musa bin Imron as :” Wahai Musa! Aku akan berbicara denganmu digunung Thursina. Setelah itu barangkatlah Nabi Musa as menuju gunung Thursina dengan menempuh jarak empat Farsakh (12 Mil).

Di tengah perjalan, disetiap satu Farsakh (3 Mil) petir, guntur dan kilat bergelegar menyambar dan malam terasa dingin mencekam hingga akhirnya Nabi Musa as berhenti disebuah tanah lapang gunung Thursina. Disana Nabi Musa as menemukan sebuah pohon yang rindang dan berdaun hijau lebat, meneteskan air dan api yang membara muncul dari pohon itu. Nabi Musa as pun menghampiri pohon itu. Tak lama kemudian dari pohon tersebut terdengar suara memanggil: “Wahai pejalan kaki!”. Dengan perasaan takjub dan heran Nabi Musa as bertanya memastikan siapa dan dari mana sumber suara itu: “Siapakah Engkau yang memanggilku dengan bahasa Ibrani???”. Aku Allah Tuhan Semesta Alam, bukan orang bangsa Ibrani wahai Musa!”.

Dalam maqom (kejadian) itu Allah ﷻ berfirman (komunikasi) dengan Nabi Musa as dengan menggunakan tujuh puluh bahasa yang berbeda dan di kejadian itu juga Taurat ditulis dan diserahkan kepada Nabi Musa as.

Kemudian Nabi Musa as berkata: “Wahai Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.”

Allah ﷻ menjawab: “Wahai Musa! Tidak seorang pun yang mampu melihat-Ku kecuali dia akan mati”

“Wahai Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) dan matikan aku”. Pinta Nabi Musa as

Tiba-tiba gunung Thursina menjawab permintaan Nabi Musa as: “Wahai Musa Ibnu Imron, sungguh engkau telah meminta suatu yang besar nan agung. Seluruh langit, bumi dan isinya bergetar. Gunung-gunung tergelincir dan seluruh lautan bergoncang karena mendengar permintaanmu!”

Namun Nabi Musa as tidak mengindahkan apa yang utarakan gunung Thursina. Beliau tetap teguh dengan pedirian semula, sembari menguling munajatnya: “Wahai Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.”

Lalu Allah ﷻ berfirman: “Wahai Musa! Lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, Beliau mengusap debu-debu gunung Thur Sina’ yang melekat di wajahnya kemudian berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”

Setelah peristiwa itu, tidaklah Nabi Musa as memandang seseorang kecuali dia akan mati karena itu Nabi Musa as menutupi wajahnya dengan kain penutup (semacam cadar) dan berintraksi dengan orang lain dengar cara membelakangi mereka.

Pernah pada suatu hari Nabi Musa as bertemu dan mendatangi tiga orang sedang menggali kuburan. Setelah liang kuburan itu selesai digali, Nabi Musa as bertanya kepada mereka: “Untuk siapa kuburan ini Kisanak!!?”.

“Untuk seorang laki-laki yang posturnya sama sepertimu atau bisa jadi Engkau sendiri yang kami masukan ke liang kubur ini. Seandainya Engkau turun ke bawah, maka kami akan mengukur liang kuburan ini sesuai dengan ukuran tubuhmu”. Jawab mereka memperolok Nabi Musa as.

Lalu turunlah Nabi Musa as ke liang kubur itu dengan postur tubuh yang bisa memanjang, setelah itu Allah ﷻ memerintahkan pada bumi untuk mengecilkan kembali tubuh Nabi Musa as.

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

✏ Tulisan ini disari dari sebuah hadist Nabi yang diriwayat Abu Marduyah dari Abu Hurairoh dalam kitab ad-Daru al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Ma’tsur Juz 3. Hal. 544 karya al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi (Kairo 849 H/1445 H – Kairo 849 H/1505 M)

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas