PERJALANAN BIDUK RUMAH TANGGA NABI MUSA AS DAN SHAFURA

banner 160x600
banner 468x60

3| Kisah Cinta Abadi (Selesai)

Asscholmedia.net – Setelah pernikahan, Hari-hari Nabi Musa as dan Shafura dilalui dengan rasa bahagia, hingga tidak terasa delapan tahun sudah biduk rumah tangganya belayar indah di lautan mawaddah wa rahmah yang dihiasi panorama keimanan dan ketakwaan pada Allah ﷻ. Maka tibalah ambang waktu yang telah disepakati Nabi Musa as dan Nabi Syuaib as delapan tahun silam.

“Wahai Musa! Bila nanti di tahun kesembilan kambing-kambing itu melahir anak betina, maka itu untukmu dan bila di tahun kesepuluh kambing-kambing itu melahirkan anak jantan lagi, maka kambing itu juga untukmu”.

Maha Suci dan Maha Tahu Dzat Yang Telah Memberi Rezeki, akhirnya kambing-kambing itu melahirkan sesuai dengan prediksi.

*****

Hari itu, dirumah Nabi Syuaib as. Nabi Musa as beserta istrinya Shufura hendak berpametan pulang ke negeri asalnya, Mesir.

Nabi Syuaib as Sang mertua tentu merasa keberatan dan tidak ingin putri dan menantunnya jauh meninggalkannya.

“Wahai Musa! Jangan tinggalkan kami, Keberadaanmu disini sangat membawa keberkahan pada keluarga ini. Apakah tega kau meninggalkanku dengan membawa serta putriku yang aku asuh sejak kecil? Aku sudah tua, mataku telah rabun dan sudah tidak kuat lagi untuk bekerja apalagi harus mengembala kambing yang semakin banyak”. Dengan linangan air mata Nabi Syuaib as berusaha mencegah kepergian Nabi Musa as dan istrinya.

Nabi Musa menjawab: “Wahai Abah! Aku telah lama meninggalkan keluargaku, sejak aku tinggal dengan keluarga Fir’aun hingga aku sampai kesini. Di sana ada ibu, saudara perempuan dan bibiku”.

Mendengar alasan Nabi Musa as, Nabi Syuaib as tidak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun. Beliau hanya bisa berpesan:

Kalau begitu! Aku tidak bisa mencegah kepergianmu, kaulah suaminya. Pesanku! Jagalah dia, Kasihi dia dan jadilah kau suami sekaligus teman terbaiknya. Aku disini yang kalian tinggalkan akan selalu mendoakan kalian”.

Lalu berangkatlah Nabi Musa as beserta istri, kedua anak dan pelayannya menuju Mesir. Pada saat itu senja sudah mulai gelap, angin bertiup begitu kencang diiring guyuran hujan yang dingin membasahi tubuh mereka.

Melihat cuaca yang kurang bersahabat, Nabi Musa as memutuskan untuk berhenti sejenak hingga hujan reda. Kemah pun dibuatnya ditepi jurang untuk sekedar berteduh dari hujan dan menghangatkan badan yang terasa menggigil. Sentara Shufura pada saat itu dalam keadaan hamil tua yang kerap merasakan sakit di perutnya. Karena iba, Nabi Musa as mencoba membuat api unggun untuk menghangatkan Sang Istri namun usahanya tidak sia-sia karena kayu-kayu bakar yang terkumpul semuanya telah basah oleh guyuran hujan.

*****

Malam semakin mencekam, langit belum juga mau menampakan sinar rembulannya. Nabi Musa as semakin bingung, harus kemana dia mencari kayu bakar kering untuk menyalakan api ditengah di lereng gunung sunyi yang jauh dari pedukuhan? Dia lalu pergi meninggal kemahnya mencari bantuan barang kali di sana ada seorang yang bisa di mintai pertolongan. Di tengah kegalaun itu, tiba-tiba di kejauhan tampak seberkas cahaya terang membelah kegegelapan. Nabi Musa pun kembali kemahnya memberi tahu tahu pada keluarganya:

ٱمْكُثُوٓا۟ إِنِّىٓ ءَانَسْتُ نَارًا لَّعَلِّىٓ ءَاتِيكُم مِّنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ

“Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan”. (QS. Al-Qashas :29)”.

Nabi Musa as pun bergegas menghampiri sumber cahaya itu dan terjadilah peristiwa agung pertemuan Nabi Musa as dengan Allah ﷻ Sebagaimana terekam dalam Ayat al-Qur’an:

فَلَمَّآ أَتَاٰهَا نُودِىَ مِن شَٰطِئِ ٱلْوَادِ ٱلْأَيْمَنِ فِى ٱلْبُقْعَةِ ٱلْمُبَٰرَكَةِ مِنَ ٱلشَّجَرَةِ أَن يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّىٓ أَنَا ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, dipanggilah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah ﷻ, Tuhan semesta alam. (QS. Al-Qashas : 30).

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas