PERTEMUAN NABI MUSA AS DAN SHAFURA

Tidak ada komentar 82 views
banner 160x600
banner 468x60

1| Kisah Cinta Abadi

Asscholmedia.net – Alkisah, di Negeri Madyan, dua wanita tengah menambatkan ternak mereka. Tak jauh dari keduanya, sebuah sumber mata air yang dikerumuni para penggembala. Dengan sabar, dua wanita itu menunggu sumber air sepi dari penggembala pria.

Shafura, Shafra atau Shafuriyya adalah satu dari dua wanitabitu. Sementara satu wanita yang bersamanya ialah sang kakak yang bernama Layya. Kisah keduanya diabadikan dalam Al-Qur’an karena mereka mampu menjaga kehormatannya sebagai wanita.

Allah ﷻ berfirman mengisahkan keduanya:

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ ۖ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۖ قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّىٰ يُصْدِرَ الرِّعَاءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

“Tatkala Musa sampai di sebuah sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekelompok orang yang sedang memberi minum ternak mereka. Dan dia mendapati di belakang mereka dua wanita yang sedang berusaha menghambat ternak mereka (supaya tidak maju ke mata air).” (QS. Al Qashash: 23).

Nabi Musa kala itu tengah dalam perjalanan hijrah dari Negeri Mesir. Beliau tengah pergi menyelamatkan diri dari rencana pembunuhan Fir’aun. Saat singgah dalam perjalanannya yang tanpa bekal dan teman itu, Nabi Musa as melihat dua wanita yang menghalau ternak-ternak mereka untuk minum.

Nabi Musa as pun mendatangi keduanya dan bertanya, “Apa maksud kalian berdua (dengan perbuatan tersebut)?”

Shafura dan Layya menjawab, “Kami tidak memberi minum ternak kami sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka, sementara ayah kami adalah orangtua yang sudah lanjut usia’.” (QS. Al Qashash: 23).

Nabi Musa as pun kemudian menolong kedua wanita itu dengan mengambil ternak mereka dan membawanya ke sumber air. Dengannya, ternak-ternak itu pun bisa minum sepuasnya. Setelah itu, Nabi Musa as mengarahkan ternak agar kembali digiring dua wanita, Shafura dan Layya.

Ibnu Iyas dalam Badi’u az-Zuhurnya menjelaskan kronologi mereka berdua tidak bisa memberi minum ternaknya karena para pengembala-pengembala itu iri pada Nabi Syuaib as dengan apa yang diberikan Allah ﷻ padanya, hingga setelah mereka memberi minum ternak-ternak mereka, sumur itu ditutup dengan batu besar yang hanya bisa diangkat oleh sepuluh orang dewasa agar tidak ada seorang pun bisa menggunakan sumur tersebut. Lalu datanglah Nabi Musa as mengangkat batu besar tersebut. Sentara as-Suyuthiy dalam Tafsir Jalalainnya menjelaskan, bahwa Nabi Musa as pada waktu itu menggunakan sumur lain yang ditutup batu selain sumur yang digunakan para pengembala.

Tanpa bicara, Nabi Musa as kemudian pergi dan mencari tempat berteduh di bawah pohon untuk beristirahat.

Al-Hamdaniy dalam karyanya Kitabu as-Sab’iyati fi Mawa’idhoti al-Bariyat menabahkan: Saat berteduh di bawah pohon itu, Nabi Musa as merasa dirinya tidak memiliki apa-apa, terasingkan, lapar dan lelah lalu berguman dalam hatinya: “Aku lamah, Sakit dan fakir”.

Setelah itu terdengar suara berbisik dari lubuk hatinya: Wahai Musa! Adakah Dzat Yang Bisa Menyembuhkan orang yang sakit seperti-Ku? Adakah Dzat Yang Selalu Memperhatikan orang yang sangat lemah seperti-Ku?
Adakah Dzat Yang Memberi Bagian pada orang fakir seperti-Ku? Adakah Dzat Yang Mengasihi orang yang terasing seperti-Ku?”.

Nabi Musa as kemudian berdoa:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (QS. Al-Qoshos:24).

Konon, pohon itu menurut as-Showiy adalah pohon coklat yang besar. Saat Nabi Muhammad melaksanakan Isra’, Allah ﷻ merintahkan agar turun dan singgah di pohon itu guna melakukan sholat bersama Jibril as.

*****

Shafura dan Layya begitu gembira karena dapat pulang ke rumah lebih cepat. Ternak-ternak mereka telah segar dan kembali ke kandang. Biasanya, mereka pulang sangat sore karena harus menunggu sumber air sepi dari penggembala pria.

Jika kakaknya, Layya, tak merasa momen itu spesial, Shafura justru sebaliknya. Si adik bungsu rupanya sangat tersentuh dengan bantuan Nabi Musa as. Inilah jodoh yang telah dipersiapkan Allah ﷻ untuk Sang Nabi.

Begitu tiba di rumah, Shafura sangat bersemangat menceritakan sosok pria yang membantunya. Ia segera menceritakannya pada sang ayah dan berharap ayahnya membalas budi pria asing yang menolongnya itu.

“Wahai Ayahanda, jadikanlah dia orang yang bekerja kepada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang bisa Ayah pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al Qashash: 26).

Para mufassir berbeda pendapat siapa ayah dari dua wanita itu. As-Sayuthiy dan as-Showiy mengatakanbahwa ayah dua wanita adalah Nabi Syuaib as dan ini adalah pendapat sahih. Namun Ibnu Katsir menjelaskan bahwa masa pengutusan Nabi Syu’aib dan Nabi Musa as berjarak sangat lama dan tak mungkin bertemu. Riwayat lain menyebutkan, ayah dua wanita itu adalah pria saleh dari negeri Madyan yang bernama Yatsrun putra saudara laki-laki Nabi Syuaib as dan pendapat yang lain mengatakan, ayahnya adalah orang yang beriman pada Nabi Syuaib as.

Mendengar penjelasan putrinya, Nabi Syuaib as pun bertanya, “Apa yang kau ketahui tentangnya?”

Shafura pun menjawab, “Dia sendirian mengangkat batu yang baru bisa diangkat oleh sepuluh orang.”

Ayahnya pun setuju untuk mempekerjakan Musa as. Ia kemudian meminta Shafura untuk memanggil si pria penolong yang dimaksud putrinya. Shafura bergegas mencari pria yang tadi menolongnya dan membuatnya terpesona. Ketika di hadapan Nabi Musa as, Shafura pun berjalan malu-malu dan menutup wajah dengan lengan jubahnya.

“Kemudian datanglah salah satu dari kedua wanita tadi kepada Musa, yang dia berjalan dengan malu-malu. Dia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku memanggilmu untuk membalas kebaikanmu memberi minum ternak kami’.” (QS. Al Qashash: 25).

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas