PERNIKAHAN NABI MUSA DAN SHAFURA

Tidak ada komentar 74 views
banner 160x600
banner 468x60

2|Kisah Cinta Abadi

Asscholmedia.net – Berjalanlah Shafura dan Nabi Musa as ke rumah Nabi Syuaib as. Jarak antara mata air dan rumahnya sekitar tiga mil. Jarak tersebut sangat cukup membuat wanita dan pria terfitnah satu sama lain jika jalan berdua.

Namun baik Shafura dan Nabi Musa as adalah orang “pilihan”. Mereka memiliki keimanan dan kesalehan yang kuat. Shafura adalah wanita yang selalu menjaga kehormatan dan ketakwaan dirinya. Pun juga dengan Musa as.

Shafura berjalan terlebih dahulu agar Nabi Musa as berjalan jauh di belakangnya. Namun kemudian Nabi Musa as takut terfitnah jika melihat wanita dihadapannya. Sang Nabi lantas berkata:

“Berjalanlah di belakangku. Kalau aku menjauh dari jalan yang seharusnya, lemparkanlah kerikil kepadaku agar aku mengetahui jalan yang benar dan bisa mengambil arah dengannya.”

Ibnu Iyas menyebutkan dalam Badi’u az-Zuhur, Nabi Musa as berkata kepada Shafura:

“Berjalanlah di belakangku. Aku ini laki-laki Ibrani, tidak boleh menatap bagian belakang perempuan. Tunjukkan kepadaku jalan, ke kanan atau ke kiri.”.

Demikianlah keduanya berjalan tanpa berduaan dan jauh dari fitnah, hingga tiba di tempat tujuan. Di sana, Sang Ayah, Nabi Syuaib as sudah siap menyambut pria yang dielu-elukan putrinya. Sambutan hangat diterima Nabi Musa as meski statusnya sebagai pria asing yang tak diketahui asal muasalnya.

Nabi Musa as pun kemudian mengenalkan diri dan mengisahkan ringkas apa yang ia alami. Di mulai dari kisahnya saat di Mesir bersama keluarga Fir’aun dan alasannya berhijrah hingga singgah di Negeri Madyan. Betapa bahagianya Nabi Musa as ketika Nabi Syu’aib as berkata:

قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Janganlah engkau takut, karena engkau telah selamat dari orang-orang yang dzalim itu.”

Makanan lezat pun kemudian dihidangkan kepada Nabi Musa as. Namun Nabi Musa as menolaknya.

“Bukankah, engkau sedang lapar?” tanya Nabi Syuaib as meyakinkan.

“Iya! Tapi aku takut ini adalah imbalan dari bantuanku memberi minum ternak. Saya adalah Ahli Bait yang tidak boleh mengisi akhirat dengan tumpukan emas. Jawab Nabi Musa as tegas. Padahal saat itu, Nabi Musa as amat sangat lapar. Beliau pergi dari Mesir tanpa bekal apapun. Selama perjalanan jalan kaki hingga Madyan (wilayah di antara Yordania dan Palestina), Sang Nabi hanya makan sayur dan dedaunan yang temukan di jalan.

Nabi Syuaib as berkata: “Demi Allah! hidangan ini bukanlah upah, melainkan jamuan untuk memuliakan tamu yang datang berkunjung dan sudah menjadi tradisi turun temurun di Madyan.

Nabi Musa as pun akhirnya bersedia menyantap jamuan yang dihidangkan Nabi Syuaib as.

*****

Setelah bercakap-cakap. Nabi Syuaib as, ayah Shafura pun kemudian berkata kepada Nabi Musa:

“Sesungguhnya aku ingin menikahkanmu dengan salah satu dari kedua putriku ini”. (QS. al-Qashash: 27)

Mendengar tawaran Nabi Syuaib as, Nabi Musa as tidak langsung menerimanya dan berkata:

“Aku orang asing yang fakir, tidak memiliki apa-apa selain diriku dan tidak akan sanggup memberinya mahar”.

Nabi Syuaib as berkata: Jangan risaukan itu wahai anak muda! Aku menikahkanmu dengan salah satu putriku, “atas dasar (dengan mahar) engkau bersedia bekerja kepadaku selama delapan tahun. Apabila engkau menyempurnakan menjadi sepuluh tahun, itu adalah kebaikan darimu. Aku tidak ingin memberatkanmu. Dan engkau, insya Allah, akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.” (QS. Al-Qashash: 27).

Nabi Musa as akhirnya, menerima tawaran itu dan menikahi Shafura dengan ucapan:

ذَٰلِكَ بَيْنِى وَبَيْنَكَ ۖ أَيَّمَا ٱلْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَٰنَ عَلَىَّ ۖ وَٱللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

Dia (Musa) berkata: “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”. (QS. Al-Qasas :28)

Ibnu Iyas mengatakan, pernikahan itu terjadi di hari Jum’at yang dihadiri dan disaksikan segenap penduduk Madyan. Selama 10 tahun, Nabi Musa pun tinggal di Negeri Madyan. Keduanya hidup bahagia dan dikaruniai keturunan.

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas