AYAT TAHAJJUD VERSI IBNU KATSIR (1)


#Kajian_Tafsir

Allah ﷻ berfirman:

Bacaan Lainnya

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَ ۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا ﴿الإسراء : ۷۹﴾

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
(QS. Al-Isra’: 79).

Al-Hafidz Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya mengatakan: “Dalam Ayat ini Allah ﷻ memerintahkan pada Rasulullah ﷺ agar melaksanakan qiyamul lail setelah perintah sholat maktubah sebagaimana hadits yang disampaikan Imam Muslim dalam kitab Shahihnya:

عن أبي هريرة ، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه سئل : أي الصلاة أفضل بعد المكتوبة ؟ قال : ” صلاة الليل “.

Dari Abi Hurairah, dari Rasulullah ﷺ beliu pernah ditanya: “Sholat apakah yang lebih utama (dikerjakan) setelah sholat Maktubah?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Shalat Malam”.

Menurut al-Hafidz: Shalat Tahajjud adalah sholat yang dilakukan setelah bangun tidur hal ini sebagaimana pendapat yang diucapkan ‘Alqomah, Ibrahim an-Nakha’iy dan lainnya yang telah dikenal dalam difinisi bahasa Arab serta juga banyak dijumpai beberapa hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ melaksanakan sholat Tahajjud setelah tidur sebagaimana hadits riwayat Ibnu Abbas, ‘Aisyah dan lainya dari para shahabat ra. Sementara al-Hasan al-Bishir berpendapat bahwa waktu sholat Tahajjud dilakukan setelah sholat Isya’, pendapat ini diarahkan pada waktu setelah tidur.

Selanjutnya para ulama berbeda pendapat tentang arti kata (نافلة لك) dalam Ayat tersebut: Satu pendapat mengatakan bahwa arti dari kata tersebut adalah “Engkau (Muhammad ﷺ) seorang secara khusus diwajibkan qimul lail” maka dari itu qiyamul lail diwajab khusus pada Nabi ﷺ bukan pada umatnya berdasarkan hadits riwayat al-A’ufiy dari Ibnu Abbas ra. Ini salah satu pendapat yang dianut para ulama dan salah satu qaul Imam asy-Syafi’i ra sementara Imam Ibnu Jarir lebih fokus memilih pendapat ini.

Satu pendapat yang lain mengatakan bahwa qiyamul lail secara khusus sunnah pada Nabi ﷺ karena dosa Rasulullah ﷺ baik yang telah berlalu atau yang akan datang telah diampuni dan juga disunnahkan bagi lainnya dari umat beliau karena sholat-sholat sunnah dapat melebur segala dosa yang ada pada mereka. Pendapat ini dianut oleh Imam Mujahid dalam kitab al-Musnad dari riwayat Abi Umamah al-Balhiy ra.

Kemudian arti dari kata:

“عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا”

Dalam Ayat tersebut adalah “Kerjakanlah ini, apa yang aku perintahkan padamu agar Aku kelak di hari Kiamat bisa menempatkamu dalam sebuah tempat yang terpuji, yang akan membuat semua makhluq dan pemimpin mereka iri padamu.” Tabarakallah…

Wallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📖 Al-Hafidz ‘Imaduddin Abu al-Fida bin Umar Ismail bin Katsir ad-Damsyiqi| Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim| Darul Kutub al-Ilmiyah juz 3 hal 50

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.