Benarkah Sholat Tahajjud Harus di Sepertiga Malam?

banner 160x600
banner 468x60


#Kajian_Fiqih

Asscholmedia.net – Di antara sholat sunnah yang sangat anjurkan setelah sholat Rawatib adalah sholat malam atau kita menyebutnya dengan sholat Tahajjud sebagimana yang di sampaikan Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Khatib asy-Syarbaini al-Mishriy (w. 977 H) dalam kitab al-Iqna’ fi Halli Abi Syuja’ karena menurut beliau Rasululluh ﷺ selalu menekuni shalat ini dan karena firman Allah ﷻ:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَ ۖ ﴿الإسراء : ۷۹﴾

Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu (QS. Al-Isra’: 79).

Dan firman Allah ﷻ:

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (QS. Adz Dzariyat: 17).

Lalu kapan waktu sholat Tahajjud dikerjakan? Apakah setiap sholat malam juga bisa disebut sholat Tahajjud?

Terkait hal ini Syaikh Ibrahim al-Bajuriy (w. 1276 H) dalam kitab Hasyiyah al-Bajuriy ala Syarhi Syaikh Ibnu al-Qasim al-Ghaziy menuturkan:

وهو لغة رفع النوم بالتكلف واصطلاحا صلاة بعد فعل العشاء ولومجموعة مع المغرب جمع تقديم وبعد نوم ولوكان النوم قبل العشاء وسواء كانت تلك الصلاة نفلا راتبا اوغيره ومنه سنة العشاء والنفل المطلق والوتراو فرضا قضاء او نذرا

“Tahajud secara bahasa adalah bangun dari tidur dengan berat (memaksa). Secara istilah, tahajud adalah melaksanakan shalat setelah melakukan shalat Isya’ meskipun berupa sholat jama’ taqdim bersama shalat Maghrib, dan setelah tidur meskipun tidur tersebut sebelum waktu shalat Isya’, baik shalat tersebut berupa shalat sunnah rawatib, atau lainnya. Termasuk juga shalat sunnah Isya, shalat sunnah mutlak dan shalat witir. Juga (bisa dinggap sebagai tahajud) salat wajib yang karena qada atau nazar.”

Selanjutnya Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Khatib asy-Syarbaini memberikan tips agar mudah bangun malam mengerjakan sholat Tahajjud, beliau berkata:

ويسن للمتحهجد القيلولة، وهي النوم قبل الزوال وهي بمنزلة السحور للصائم لقوله ﷺ: « استعينوا بقائلة النهار على قيام الليل». رواه أبو داود

Disunnahkan bagi orang yang biasa melakukan shalat tahajud untuk melakukan Qailulah tidur siang sesaat, yaitu tidur sebelum matahari tergelincir. Manfaat tidur Qoilulah kedudukannya sama seperti makan sahur bagi orang yang puasa sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Mintalah tolong dirimu dengan Qoilulah (tidur siang) untuk bisa qiyamul lail (HR Abu Dawud).

Kemudian berapa banyak hitungan rakaat dari sholat Tahjjud?

Dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah di jelaskan:

اتفق الفقهاء على أن أقلها ركعتان خفيفتان؛ لما روى أبو هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: {إذا قام أحدكم من الليل فليفتتح صلاته بركعتين خفيفتين}.واختلفوا في أكثرها فقال الحنفية: منتهى ركعاته ثماني ركعات. قال ابن الهمام: الظاهر {أن أقل تهجده صلى الله عليه وسلم كان ركعتين، وأن منتهاه كان ثماني ركعات}. وستأتي الروايات الدالة على ذلك.

“Para ahli fikih sepakat bahwa paling sedikitnya sholat Tahajjud adalah dua rakaat yang ringan karena terdapat keterangan hadits yang di riwayatkan Abu Hurairah ra dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ”

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.

“Apabila salah saeorang dari kamu akan melakukan shalat lail, hendaklah memulai (membuka) shalatnya dengan dua rakaat yang ringan-ringan.” [HR Muslim].

Para ahli fikih berbeda pendapat tetang paling banyaknya jumlah rakaat sholat Tahajjud. Abu Hanifah ra berpedapat: “Maksimal jumlah rakaat sholat Tahajjud adalah 8 rakaat”. Ibnu Himam mengatakan: Secara dhahir bahwa paling sedikitnya rakaat Tahajjud yang pernah dilakukan Rasulullah adalah 2 rakaat dan maksimalnya 8 rakaat”.

Sementara kalangan Malikiyah berpendapat: “Maksimal jumlah rakaat sholat Tahajjud adalah 10 rakaat atau 12 rakaat. Sungguh telah diriwayat bahwa Rasulullah ﷺ sholat malam dengan 11 rakaat, satu di antaranya adalah sholat witir dan juga diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah shalat malam dengan 12 rakaat, kemudian Beliau sholat witir satu kali”.

Kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah mengatakan: “Jumlah rakaat sholat Tahajjud tidak terbatas ini diambil dari sebagian redaksi pakar fikih kalangan Hanabilah berdasarkan hadits:

“الصلاة خَيْرُ مَوْضُوعٍ مَنْ شَاءَ أَقَلَّ وَمَنْ شَاءَ أَكْثَرَ”

“Shalat adalah sebaik-baik ibadah yang telah ditetapkan, barangsiapa menghendaki boleh mengerjakan sedikit dan barangsiapa menghendaki boleh mengerjakan sebanyak-sebanyaknya.”

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

📌Referensi:

📖 Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Khatib asy-Syarbaini al-Mishriy| al-Iqna’ fi Halli Abi Syuja’| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 274

📖 Syaikh Ibrahim al-Bajuriy| Hasyiyah al-Bajuriy ala Syarhi Syaikh Ibnu al-Qasim al-Ghaziy ala Matni Abi Syuja’| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 258

📖 Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah| Wazirah al-Awqaf asy-Syu’un al-Islamiyah juz 14 hal 88

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas