Definisi dan Anjuran Sunah Menjenguk Orang Sakit

banner 160x600
banner 468x60


Asscholmedia.net – Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kepedulian. Salah satu anjuran yang menunjukkan kebersamaan dan kepedulian adalah dengan menjenguk orang yang sakit.

Banyak sekali keterangan hadist yang menjelaskan anjurabn dan keutamaan menjenguk orang yang sakit (عيادة المريض). Diantaranya adalah hadist Imam at-Turmuzi dan Ibnu Hibban bahwasannya Rasulullah Saw bersabda:

“من عاد مريضا ناداه مناد من السماء طبت وطاب ممشاك وتبوأت من الجنة منزلا” (رواه الترمذي وحسنه وابن حبان في صحيحه)

Artinya: “Barang siapa yang menjenguk orang yang sakit maka akan ada suara gaib yang menyerukan dari atas langit “Sungguh beruntung engkau atas apa yang telah dilakukan, dicatat baik setiap perjalanan yang engkau lalui, dan selayaknya engkau menjadi penghuni surga.” (HR. Imam turmudzi dan dihasankan oleh beliau dan juga HR. Imam Ibnu Hibban dalam kitab Sahihnya).

Dalam hadist kudsi yang diriwayatkan Imam Muslim juga menjelaskan:

“إن الله تعالى يقول يوم القيامة يا إبن آدم مرضت فلم تعدني قال يارب كيف أعودك وأنت رب العالمين ؟ … قال أما علمت أن عبادي فلانا مرض فلم تعدني أما علمت أنك لوعدته لوجدتني عنده” أي لوجدت عنده ثوابي الذي لانهاية لعظمته.

Artinya: “Sesungguhnya kelak pada hari kiamat Allah SWT akan berfirman, Wahai anak Adam aku dalam keadaan sakit kenapa engkau tidak menjengukku, bagaimana aku bisa menjenguk-Mu sedangkan engkau adalah Tuhan alam semesta, tanya anak Adam. Allah SWT berfirman kembali: Apakah kamu tidak tahu bahwasannya hambaku si Fulan sedang sakit, kenapa kamu tidak menjenguknya?, dan apakah kamu juga tidak tahu bahwasannya ketika kamu menjenguknya kamu akan menemukan-Ku disisinya?.” Ulama’ mentakwil kata “menemukan-Ku disisinya” dengan takwilan “mendapatkan pahala yang tiada batas besarnya.”

Kedua hadist diatas rasanya sudah cukup untuk menjelaskan anjuran dan keutamaan menjenguk orang yang sakit.

Terkait dengan anjuran dan keutamaan menjenguk orang sakit ini, ulama dalam beberapa kitabnya definisikan atau memberi batasan (ciri-ciri) sakit yang disunahkan (dianjurkan) menjenguknya sebagaimana berikut:

وضابط المرض الذي تسن العيادة منه المرض المبيح لترك الجمعة فحيث كان مرضه يبيح ترك الجمعة سنت عيادته والا فلا .

“Ciri-ciri sakit yang dianjurkan untuk dijenguk adalah sakit yang diperbolehkan untuk meninggalkan shalat Jum’at, dengan kata lain bila sakit yang diderita seseorang dirasa dapat dispensasi Syara’ untuk tidak shalat Jum’at maka menjenguknya disunahkan, begitu juga sebaliknya.

Sedangkan gambaran sakit yang mendapat dispensasi Syara’ sesuai dengan keterangan di atas adalah:

بأن تكون مشقة الخروج والمشي معه جعل عذرا كمشقة المشي في الوحل بجامع أن كلا من الاعذار فحيث ساوت مشقة المرض تلك المشقة جعل عذرا والا فلا.

“Sakit yang bisa dibuat alasan akan kesukaran yang ditimbulkan untuk sekedar keluar rumah atau berjalan, ini sama dengan kesukaran berjalan di tempat yang becek dengan (yang menjadi alasan bolehnya meninggalkan Jum’at) dengan Jami’ (sesuatu yang mengkompromikan) bahwa keduanya sama-sama masuk dalam kategori udzur. Analoginya, jika sekiranya kesukaran yang timbul dari sakit tersebut sama dengan kesukaran yang dialami ketika bepergian atau kesukaran ketika berjalan ditempat yang becek, Maka hal tersebut dianggap sebagai udzur (dispensasi Syara’) bukan sebaliknya.

Lantas para ulam menambahkan ciri-ciri sakit yang tidak disunahkan (mubah; boleh) sebagai pembanding agar kita bisa lebih mudah membedakannya. Yaitu sakit yang ringan seperti Flu, pusing, batuk, gatal-gatal dan lain sebagainya. Wallahu ‘A’lam bishawab

Mungkin cukup demikian yang bisa penulis uraikan tentang anjuran dan keutamaan menjenguk orang sakit. Semoga bermanfaat,

Penulis: Rido An-Nafis

Disadur dari kitab Sab’atun Kutubi Mufidah hal: 147-148 Maktabah Al-Hidayah Surabaya.

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas