Kisah Pendeta Mendatangkan Hujan Dengan Tulang Nabi

banner 160x600
banner 468x60

๐ŸšฉKisah Hikmah |3|

Asscholmedia.net – Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitamiy (w. 974 H) dalam salah satu karya bernama As-Shawaiqu al-Muhriqah fi Raddi Ahli Bid’ati wa az-Zandaqah mengisahkan tentang Abu Muhammad al-Hasan al-Khalish al-‘Asykari (w. 203 H) atau biasa dipanggil al-Mundzir [1].

Ketika al-Hasan al-Asykariy di penjara terjadilah musim paceklik yang parah dan hujan tidak mau turun, kemudian Khalifah al-Mu’tamid bin Mutawakkil memerintahkan segenap orang untuk keluar rumah dan sholat istisqo’ selama 3 hari namun ternyata tidak ada hasilnya.

Kemudian orang-orang nasrani keluar bersama pendetanya, ketika sang pendeta mengulurkan tangannya ke langit tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya.

Di hari yang kedua juga melakukan hal yang sama hingga sebagian orang-orang bodoh menjadi bimbang keimanannya bahkan sebagian yang lain telah menjadi murtad, hal ini membuat Khalifah al-Mu’tamid resah. Melihat hal itu Khalifah memerintahkan agar Hasan al-Khalish di datangkan lalu Khalifah berkata kepada Hasan:

ุฃุฏู’ุฑูƒ ุฃู…ุฉ ุฌุฏูƒ ุฑูŽุณููˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณู„ู… ู‚ุจู„ ุฃูŽู† ูŠู‡ู’ู„ูƒููˆุง

“Temuilah ummat kakekmu Muhammad sebelum mereka semua binasa”

ูŠุฎุฑุฌููˆู† ุบูŽุฏุง ูˆูŽุฃูŽู†ุง ุฃุฒูŠู„ ุงู„ุดู‘ูŽูƒ ุฅูู† ุดูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ู‡

“Perintahkan, orang-orang besok keluar dari rumahnya, aku akan menghilangkan keraguan mereka.” balas al-Hasan al-Khalish.

Hari itu al-Hasan juga berbicara kepada Khalifah agar melepaskan teman-temannya dari penjara, dan khalifah pun melepaskan mereka.

*****

Ketika orang-orang telah keluar dari rumahnya untuk sholat istisqo’ berdoa, sang pendeta mengangkat tangannya diikuti orang-orang Nasroni. Tiba-tiba langit berawan hitam, al-Hasan pun memerintahkan agar memegang tangannya sang pendeta, ternyata di tangan sang rahib terdapat tulang manusia. Lalu diambillah tulang tersebut dari tangannya sembari berkata: “Sekarang mintalah hujan”. Saat sang pendeta mengangkat tanganya, hilanglah awan hitam dan tampaklah matahari bersinar lagi.

Menyaksikan kejadian itu, orang-orang menjadi heran. Khalifah berkata kepada al-Hasan: “Apa ini wahai Aba Muhamad”

ู‡ูŽุฐูŽุง ุนุธู… ู†ูŽุจููŠ ุธูุฑ ุจูู‡ู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุฑุงู‡ุจ ู…ู† ุจุนุถ ุงู„ู’ู‚ูุจููˆุฑ ูˆูŽู…ูŽุง ูƒุดู ู…ู† ุนุธู… ู†ูŽุจููŠ ุชูŽุญุช ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุก ุฅูู„ู‘ูŽุง ู‡ุทู„ุช ุจุงู„ู…ุทุฑ ูุงู…ุชุญู†ูˆุง ุฐูŽู„ููƒ ุงู„ู’ุนุธู….

“Ini adalah tulang seorang Nabi, pendeta ini mendapatkannya dari sebagian kuburan, dan tidaklah digelar tulang seorang Nabi di bawah langit kecuali langit akan mencurahkan hujan dengan lebatnya”. Jawab al-Hasan al-Khalish

Kemudian orang-orang mencoba membukti kehebatan tulang tersebut dan terjadilah seperti apa yang dikatakan oleh al-Hasan hingga leyaplah keraguan dari mereka, setelah itu al-Hasan kembali kerumahnya dengan tenang dan dimuliakan.

Sementara Khalifah al-Mu’tamid bin Mutawakkil terus menjalin silatur rahim setiap waktu hingga al-Hasan wafat dengan membawa selaksa cerita rahasia tentang dirinya. Dimakamkan disamping Ayah dan pamannya pada usia 28 Tahun.

[1] Asy-Syarif Abu al-Qasim Muhammad bin al-Hasan al-‘Askariy bin Ali al-Hadiy bin Muhammad al-Jawwad bin Ali ar-Ridha bin Musa al-Kadzimiy bin Sayyid Ja’far al-Shadiq bin Sayyid Muhammad al-Baqir bin Sayyid Zanal Abidin bin Sayyid Ali Sayyidana Husain bin Sayyidana Ali bin Abi Thalib al-‘Alawiy al-Husainiy. Menurut al-Imam Adz-Dzahabiy, al-Hasan al-Khalish al-‘Asykariy merupakan pamungkas dari 12 sayyid yang diklem sebagai imam-imam mereka yang dianggap makshum (terjaga dari dosa)โ€”dan tidak ada manusia yang makshum Nabi (Muhammad).

ุฎุงุชู…ุฉ ุงู„ุงุซู†ูŠ ุนุดุฑ ุณูŠุฏุง ุŒ ุงู„ุฐูŠู† ุชุฏุนูŠ ุงู„ุฅู…ุงู…ูŠุฉ ุนุตู…ุชู‡ู… -ูˆู„ุง ุนุตู…ุฉ ุฅู„ุง ู„ู†ุจูŠ- ูˆู…ุญู…ุฏ ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ูŠุฒุนู…ูˆู† ุฃู†ู‡ ุงู„ุฎู„ู ุงู„ุญุฌุฉ ุŒ ูˆุฃู†ู‡ ุตุงุญุจ ุงู„ุฒู…ุงู† ุŒ ูˆุฃู†ู‡ ุตุงุญุจ ุงู„ุณุฑุฏุงุจ ุจุณุงู…ุฑุงุก ุŒ ูˆุฃู†ู‡ ุญูŠ ู„ุง ูŠู…ูˆุช ุŒ ุญุชู‰ ูŠุฎุฑุฌ ุŒ ููŠู…ู„ุฃ ุงู„ุฃุฑุถ ุนุฏู„ุง ูˆู‚ุณุทุง ุŒ ูƒู…ุง ู…ู„ุฆุช ุธู„ู…ุง ูˆุฌูˆุฑุง . ููˆุฏุฏู†ุง ุฐู„ูƒ -ูˆุงู„ู„ู‡- ูˆู‡ู… ููŠ ุงู†ุชุธุงุฑู‡ ู…ู† ุฃุฑุจุนู…ุงุฆุฉ ูˆุณุจุนูŠู† ุณู†ุฉ ุŒ ูˆู…ู† ุฃุญุงู„ูƒ ุนู„ู‰ ุบุงุฆุจ ู„ู… ูŠู†ุตููƒ ุŒ ููƒูŠู ุจู…ู† ุฃุญุงู„ ุนู„ู‰ ู…ุณุชุญูŠู„ ุŸ ! ูˆุงู„ุฅู†ุตุงู ุนุฒูŠุฒ . ูู†ุนูˆุฐ ุจุงู„ู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุฌู‡ู„ ูˆุงู„ู‡ูˆู‰ .
.

Wallahu a’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi

๐ŸšฉSyaikh Ahmad bin Hajar al-Haitamiy | As-Shawaiqu al-Muhriqah fi Raddi Ahli Bid’ati wa az-Zandaqah| Darul al-Kutub al-Ilmiyah hal 313-314

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas