DOA-DOA RASULULLAH ﷺ SAAT TURUN HUJAN LEBAT DAN ANGIN KENCANG (2)

banner 160x600
banner 468x60

2- Nabi suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah ﷻ agar cuaca kembali menjadi cerah.

Nabi berdo’a:

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR. Bukhari no. 1014 dan Muslim no. 897).

Dalam kitab Fathu al-Bariy Syarhi Shahih al-Bukhariy, Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalaniy (w. 852) menulis lengkap kronologi hadits beserta penjelasannya:

١٠١٤ – حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ شَرِيكٍ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَجُلًا، دَخَلَ الۡمَسۡجِدَ يَوۡمَ جُمُعَةٍ، مِنۡ بَابٍ كَانَ نَحۡوَ دَارِ الۡقَضَاءِ، وَرَسُولُ اللهِ ﷺ قَائِمٌ يَخۡطُبُ، فَاسۡتَقۡبَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَائِمًا، ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلَكَتِ الۡأَمۡوَالُ، وَانۡقَطَعۡتِ السُّبُلُ، فَادۡعُ اللهَ يُغِيثُنَا. فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدَيۡهِ، ثُمَّ قَالَ: (اللّٰهُمَّ أَغِثۡنَا، اللّٰهُمَّ أَغِثۡنَا، اللّٰهُمَّ أَغِثۡنَا). قَالَ أَنَسٌ: وَلَا وَاللهِ، مَا نَرَى فِي السَّمَاءِ مِنۡ سَحَابٍ وَلَا قَزَعَةٍ، وَمَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ سَلۡعٍ مِنۡ بَيۡتٍ وَلَا دَارٍ. قَالَ: فَطَلَعَتۡ مِنۡ وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثۡلُ التُّرۡسِ، فَلَمَّا تَوَسَّطَتِ السَّمَاءَ انۡتَشَرَتۡ، ثُمَّ أَمۡطَرَتۡ، فَلَا وَاللهِ مَا رَأَيۡنَا الشَّمۡسَ سِتًّا، ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ مِنۡ ذٰلِكَ الۡبَابِ فِي الۡجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللهِ ﷺ قَائِمٌ يَخۡطُبُ، فَاسۡتَقۡبَلَهُ قَائِمًا، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلَكَتِ الۡأَمۡوَالُ، وَانۡقَطَعَتِ السُّبُلُ، فَادۡعُ اللهَ يُمۡسِكۡهَا عَنَّا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدَيۡهِ، ثُمَّ قَالَ: (اللّٰهُمَّ حَوَالَيۡنَا وَلَا عَلَيۡنَا، اللّٰهُمَّ عَلَى الۡآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُونِ الۡأَوۡدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ). قَالَ: فَأَقۡلَعَتۡ، وَخَرَجۡنَا نَمۡشِي فِي الشَّمۡسِ. قَالَ شَرِيكٌ: سَأَلۡتُ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ، أَهُوَ الرَّجُلُ الۡأَوَّلُ؟ فَقَالَ: مَا أَدۡرِي. [رواه البخاري 1014].

Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Isma’il bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Syarik, dari Anas bin Malik: “Bahwa seorang lelaki masuk ke masjid pada hari Jumat dari pintu yang ketika itu mengarah ke Dar Al-Qadha` sementara Rasulullah ﷺ sedang berdiri berkhotbah.

Dia berdiri menghadap Rasulullah ﷺ seraya berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, harta-harta (berupa binatang ternak) telah binasa dan jalan-jalan telah terputus. Berdoalah kepada Allah ﷻ agar menurunkan hujan kepada kami.”
Lalu Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya, seraya berkata:

اللّٰهُمَّ أَغِثۡنَا، اللّٰهُمَّ أَغِثۡنَا، اللّٰهُمَّ أَغِثۡنَا

“Ya Allah, turunkan hujan kepada kami. Ya Allah, turunkan hujan kepada kami. Ya Allah, turunkan hujan kepada kami.”

Anas berkata: “Demi Allah ﷻ, tadinya kami tidak melihat di langit ada awan tebal maupun tipis dan tidak ada rumah antara kami dengan gunung Sal’’. Anas berkata: “Lalu muncullah mendung dari belakang gunung itu bagaikan perisai. Ketika sudah sampai tengah langit, mendung itu menyebar, kemudian turun hujan. Demi Allah ﷻ, kami tidak melihat matahari selama enam hari.

Kemudian seorang lelaki datang dari pintu itu pada hari Jumat, sementara Rasulullah ﷺ sedang berdiri berkhotbah. Lelaki itu berdiri menghadap beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, harta-harta (berupa binatang ternak) telah binasa dan jalan-jalan telah terputus. Berdoalah kepada Allah ﷻ agar menahan hujan dari kami.”

Anas berkata: “Lalu Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangan beliau kemudian berkata:

اللّٰهُمَّ حَوَالَيۡنَا وَلَا عَلَيۡنَا، اللّٰهُمَّ عَلَى الۡآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُونِ الۡأَوۡدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkan hujan ke sekitar kami dan jangan kepada kami. Ya Allah, turunkan hujan ke lereng-lereng, pegunungan, dasar lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”

Anas berkata: “Hujan berhenti dan kami keluar berjalan di bawah terik matahari.
Syarik berkata: Aku bertanya kepada Anas bin Malik: Apakah lelaki itu sama dengan lelaki yang pertama? Anas menjawab: Aku tidak tahu.” (HR. Bukhari no. 1014).

Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan arti doa dalam hadits tersebut: “Maksud dari lafadz “Hawalaina” adalah memalingkan hujan dari bangunan-bangunan dan rumah-rumah. Sedangkan lafadz “wa ‘Alaina” menjelaskan apa yang dimaksud dalam lafadz “Hawalaina” karena arti dari lafadz “Hawalaina” mencakup pada jalan-jalan di sekitarnya dan tujuan meletakkan lafadz “wa ‘Alaina” adalah mengeluarkan hujan dari jalan-jalan itu.

Ath-Thabibiy mengatakan: “Memasukan huruf Wawu dalam lafadz “wa ‘Alaina” mempunyai arti makna lembut karena itu andai hujan itu turun, maka hujan tersebut akan hanya menyirami lereng-lereng, pegunungan, dasar lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan saja.”

Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqalani melanjutkan: Maksud dari lafadz “al-Aakaam” adalah jamak dari akmah dengan memfathahkan hamzah, yaitu gunung kecil atau apa yang tinggi di bumi (dataran tinggi). Sedangkan arti dari “Adz dziraf” adalah bukit yang kecil. Adapun penyebutan kata “Buthuni al-Adwiyah (dasar-dasar lembah) karena di situlah tempat berkumpulnya air dalam waktu yang lama sehingga bisa dimanfaatkan oleh manusia dan binatang ternak.”

Ibnu Daqiq Al-‘Ied (w. 358 H) rahimahullah dalam Ihkam Al-Ahkam Syarah ‘Umdatu al-Ahkam mengakatakan: “penyebutan kata “Buthuni al-Adwiyah wa Manaqibi asy-Syajar” (dasar-dasar lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan) merupakan dalil doa memohon dihentikan dampak buruk hujan, sebagaimana dianjurkan untuk berdoa agar turun hujan, ketika lama tidak turun. Karena semuanya membahayakan (baik lama tidak hujan atau hujan yang sangat lama).”

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqalani| Fathul Bari Syarhi Shahih al-Bakhariy| Al-Maktabah asy-Syamilah juz 3 hal 505.

✍️ Syaikh Muhammad bin Ali bin Wahbi Ibnu Daqiq al-‘Ied Taqiyuddin Abu al-Fatihah|Ihkam Al-Ahkam Syarah ‘Umdatu al-Ahkam| Al-Maktabah asy-Syamilah juz 1 hal 358.

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas