Sunnah Nabi ﷺ, Adzan Saat Hujan Lebat dan Angin Kencang

banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net – Musim hujan bagi sebagian orang sangat dinanti-nanti khususnya bagi para petani di pedesaan yang cara bercocok tanamnya menunggu tadah hujan dan di tahun ini hujan disebagian pulau Jawa datang lebih awal dengan curah hujan yang deras disertai angin yang kencang.

Banyaknya pepohonan yang tumbang dan rumah yang ambruk membuat masyarakat resah dan ketakutan. Lalu adakah doa atau amalan khusus saat hujan turun begitu lebat dan penangkal angin kencang yang diajarakan Rasulullah ﷺ dan para ulama?

Terdapat beberapa hadits dan qaul ulama yang menjelaskan amalan atau doa ketika ada hujan lebat di sertai angin kencang.

Pertama, hendaklah mengumandangan Adzan sebagaimana perintah hadits:

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻟﻤﺆﺫﻧﻪ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﻣﻄﻴﺮ : ﺇﺫﺍ ﻗﻠﺖ : أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، ﻓﻼ ﺗﻘﻞ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، ﻗﻞ: «صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ»، ﻓﻜﺄﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﺳﺘﻨﻜﺮﻭﺍ، ﻗﺎﻝ : ﻓﻌﻠﻪ ﻣﻦ ﻫﻮ ﺧﻴﺮ ﻣﻨﻲ، ﺇﻥ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻋﺰﻣﺔ، ﻭﺇﻧﻲ ﻛﺮﻫﺖ ﺃﻥ ﺃﺣﺮﺟﻜﻢ، ﻓﺘﻤﺸﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﻴﻦ ﻭﺍﻟﺪﺣﺾ. صحيح البخاري (2/ 6)

Ibnu ‘Abbas berkata kepada Mu’adzinnya saat hari turun hujan: “Jika kamu sudah mengucapkan “Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah”, janganlah kamu sambung dengan “Hayya ‘Alash Shalaah” (Marilah mendirikan shalat). Tapi serukanlah “Shalluu Fi Biyuutikum (Shalatlah di rumah-rumah kalian).” Lalu orang-orang seakan mengingkarinya. Maka Ibnu ‘Abbas pun berkata: “Sesungguhnya hal yang demikian ini pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku. Sesungguhnya shalat Jum’at adalah kewajiban dan aku tidak suka untuk mengeluarkan kalian, sehingga kalian berjalan di tanah yang penuh dengan air dan lumpur.” (HR. Al-Bukhari).

Ibnu Umar juga pernah Adzan dengan menambahi lafaz “Ala shollu fi rihalikum” (Perhatikan! Salatlah di rumah-rumah kalian) di saat cuaca begitu dingin dan ada angin kencang. Al-Bukhari meriwayatkan:

عن نافع أن ابن عمر أذن بالصلاة في ليلة ذات برد وريح ثم قال: «أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَالِ». ثم قال: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم يأمر المؤذن إذا كانت ليلة ذات برد ومطر يقول: «أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَالِ». صحيح البخاري (1/ 134)

“Dari Nafi’, bahwa Ibnu ‘Umar pernah mengumandangkan adzan pada suatu hari yang dingin dan berangin. Kemudian ia berkata: Ala Shallu fi ar-Rihali “Shalatlah di tempat tinggal kalian!” Ia melanjutkan perkataannya: “Jika malam sangat dingin dan hujan Rasulullah ﷺ memerintahkan seorang mu’adzin untuk mengucapkan: “Hendaklah kalian shalat di tempat tinggal kalian.” (HR. Al-Bukhari)

Adapun waktu mengucapkan lafadz tambahan itu, maka bisa memilih salah satu di antara dua waktu berikut,

Pertama, setelah lafaz azan regular selesai.
Kedua, setelah lafaz Hai’alatain (hayya ‘alas sholah dan hayya ‘alal falah).

Jika lafadz tambahan itu diucapkan setelah lafaz Hai’alatain, berarti ia seperti menggantikan lafadz Tatswib (lafadz ‘ash-sholatu khoirum minan naum) pada adzan subuh.

Syaikh Muhyiddin Abi Yahya Zakariya bin Syarif An-Nawawi (w. 676 H) berkata dalam kitab al-Majmu’ Syarhi al-Muhaddab:

قال الشافعي رحمه الله تعالى في آخر أبواب الأذان: إذا كانت ليلة مطيرة أو ذات ريح وظلمة يستحب أن يقول المؤذن إذا فرغ من أذانه: «أَلاَ صَلُّوا فِي رِّحَالِكم» قال: فإن قاله في أثناء الأذان بعد الحيعلة فلا بأس. هذا نصه. (المجموع شرح المهذب (138/3)

“Asy Syafi’i rahimahullah ta’ala berkata di akhir bab adzan, ‘Jika malam sedang hujan lebat atau ada angin kencang disertai kegelapan, maka saat selesai adzan muadzin disunahkan mengucapkan “Ala shollu fi rihalikum” (Perhatikan! Salatlah di rumah-rumah kalian). Jika ia (muadzin) mengucapkannya di tengah-tengah adzan sesudah hai’alah (hayya ‘alal falah), maka itu tidak mengapa.”

Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin ad-Daw’aniy al-Hadzramiy (w. 1270 H) juga mengatakan kitabnya Busyra al-Karim Syarhu Masyaili at-Ta’lim:

(و) يسن (قول : الا صلوا فى الرحال) او فى رحالكم او بيوتكم مرتين كما فى سنن ابى داود (فى الليلة المطيرة) و اليوم المطير و ان لم يكن ريح (او ذات الريح) اى ذى الريح (او) ذات (الظلمة) و فى كل ما هو من اعذار الجماعة للامر به و يقول ذلك (بعد الاذان او) بعد (الحيعلتين) و الاول اولى و جرى الشربينى على ان ذلك يجزى عن الحيعلتين. بشرى الكريم شرح مسائل التعليم (ص: 194).

Dan Sunnahkan membaca: Ala Shallu fi ar-Rihali “Perhatikan! Salatlah di tempat tinggal kalian!” atau fi rihalikum “di tempat tinggal kalian” atau “fi Biyuutikum” di rumah-rumah kalian” dibaca sebanyak dua kali sebagaimana keterangan yang didapat dalam Sunnan Abi Daud—disaat hujan di malam hari atau saat hujan di hari itu meski tidak ada angin, atau disertai hembusan angin, atau saat alam gelap gulita tertutup awan dan di semua keadaan yang dapat menjadi udzur bolehnya tidak mengikuti sholat berjema’ah karena ada perintah Nabi ﷺ yang menganjurkan hal itu. Semua bacaan itu bisa dibaca setelah adzan selesai atau setelah bacaan Hai’alatain (hayya ‘alas sholah dan hayya ‘alal falah) namun yang lebih utama adalah cara yang pertama. Menurut Syaikh asy-Syarbiniy bahwa bacaan tersebut dapat menggantikan Hail’ailatain (hayya ‘alas sholah dan hayya ‘alal falah).

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin ad-Daw’aniy al-Hadzramiy| Al-Majmu’ Syarhi al-Muhaddab| Maktabah al-Irsyad juz 3 138.

Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin ad-Daw’aniy al-Hadzramiy| Busyra al-Karim Syarhu Masyaili at-Ta’lim| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 194.

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas