Mengungkap Rahasia “ما شاء الله لا قوة إلا بالله”

banner 160x600
banner 468x60

“ما شاء الله لا قوة إلا بالله”

Tulisan kalimat ini pernah penulis jumpai di kaca belakang mobil milik salah satu keluarga besar Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil yang diparkir di gerasi milik keluarga.

Sama seperti Anda, penulis penasaran, dan berguman: “Tulisan ini pasti ada maksud dan faidahnya”.

Dengan alasan ini penulis akhirnya nekat mencoba mencari tahu dengan cara membuka beberapa kitab ulama yang sempat penulis singgahi dan alhamdulillah penulis menemukan jawabannya dalam Tafsir al-Qur’anu al-‘Adzim karya al-Hafidz ‘Imaduddin Abu al-Fida’ Ismail bin Umar Ibnu Katsir ad-Damsiqiy (w. 774 H) atau yang di kenal dengan sebutan Ibnu Katsir dan kitab ath-Thibbi an-Nabawiy karya Syaikh Samsuddin Muhammad Abu Bikri bin Ayyub az-Zara’iy ad-Damsyaqiy (w. 751 H) atau yang kenal dengan sebutan Ibnu Qayyim al-Jauziyah.

Dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim tersebut, al-Hafidz Ibnu Katsir saat menafsiri Ayat:

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “Masya Allah, laa quwwata illaa billah”. Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan” (QS. Al Kahfi: 39) mengatakan:

هذا تحضيض وحث على ذلك، أي : هلا إذا أعجبتك حين دخلتها ونظرت إليها حمدت الله على ما أنعم به عليك، وأعطاك من المال والولد ما لم يعطه غيرك ، وقلت : (ما شاء الله لا قوة إلا بالله).

“Firman Allah ﷻ ini merupakan himbauan dan anjuran agar mengucapkan kalimat “Masya Allah, laa quwwata illaa billah”. Adapun lebih jelasnya tafsiran dari ayat tersebut adalah “Kenapa kamu tidak ucapakan pujian pada Allah ﷻ yang telah memberikanmu segala nikmat berupa harta benda dan anak keterunan yang tidak diberikan pada lainnya dan mengatakan “Masya Allah, laa quwwata illaa billah” ketika kamu takjub saat memasuki dan melihat kebunmu?”

Kerena alasan inilah sebagian ulama salaf berkata:

من أعجبه شيء من حاله، أو ماله، أو ولده فليقل: ما شاء لا قوة إلا بالله ـ وهذا مأخوذ من هذه الآية الكريمة

“Barang siapa yang kagum pada keadaannya atau harta atau pada anaknya, hendaknya mengucapkan “Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah”. Ini diambil dari ayat yang mulia ini”.

Selanjutnya al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan: “Dan telah dijumpai keterangan hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh al-Hafidz Abu Ya’la al-Muwashiliy dalam kitab Musnadnya:

حدثنا جراح بن مخلد، حدثنا عمر بن يونس، حدثنا عيسى بن عون ، حدثنا عبد الملك بن زرارة، عن أنس – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” مَا أَنْعَمَ الله عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً مِنْ أَهْلٍ أَوْ مَالٍ أَوْ وَلَدٍ، فَيَقُولُ: مَا شَاءَ اللهُ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، فَيَرَى فِيهِ آفَةً دُوْنَ الْمَوت”. وكان يتأول هذه الآية: ( ولولا إذ دخلت جنتك قلت ما شاء الله لا قوة إلا بالله).

Jarah bin Mukhallad, Umar bin Yunus, ‘Isa bin ‘Aun dan Abdul Malik bin Zurarah telah meriwayatkan hadits pada kami dari Anas bin Malik ra, beliau berkat: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah Allah ﷺ mengaruniakan kepada seorang hamba suatu kenikmatan, berupa anggota keluarga (istri), harta atau keturunan, lalu ia berkata: “Masya Allah, laa quwwata illaa billah”, kemudian kenikmatan itu dapat ditimpa petaka selain kematian.” Hadits ini merupakan ta’wil (interpretasi) dari Ayat:

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Kemudian dalam kitab ath-Thibbi an-Nabawiy Ibnu Qayyim al-Juziyah mengatakan:

ومما يدفع به إصابة العين قول: ما شاء الله لا قوة إلا بالله، روى هشام بن عروة، عن أبيه: أنه كان إذا رأى شيئًا يعجبه، أو دخل حائطًا من حيطانه قال: ما شاء الله، لا قوة إلا بالله.

“Di antara amalan yang dapat menangkal penyakit ‘Ain (penyakit yang disebabkan pengaruh dari pandangan mata yang disertai sifat dengki atau iri, cinta berlebihan dan takjub terhadap orang yang pandangnya) adalah kalimat “Masya Allah, laa quwwata illaa billah” sebagaimana hadits riwayat Hasyim bin ‘Urwah dari Ayahnya: “Bahwa Ayahnya, ketika melihat sesuatu yang menakjub dirinya atau masuk pada salah satu kebun miliknya, ia mengucapkan “Masya Allah, laa quwwata illaa billah”. Waallahu ‘Alamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📚al-Hafidz ‘Imaduddin Abu al-Fida’ Ismail bin Umar Ibnu Katsir ad-Damsiqiy (Ibnu Katsir)| Tafsir al-Qur’anu al-‘Adzim| Daru al-Kutub al-Imiyah juz 5 hal 114.

📚Syaikh Samsuddin Muhammad Abu Bikri bin Ayyub az-Zara’iy ad-Damsyaqiy (Ibnu Qayyim al-Jauziyah)| ath-Tibbu an-Nabawiy| Daru al-Fikr hal 132.

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas