CINTA ABADI ZULAIKHA DAN YUSUF AS (9)

Tidak ada komentar 103 views
banner 160x600
banner 468x60

Baju Dibalas Baju

Asscholmedia.net – Siang itu, saat kerumunan rakyak berebut sembako yang dibagikan pihak istana, yang dikepalai Yusuf as sebagai perdana mentri. Zulaikha juga hadir ditengah-tengah mereka didampingi pelayan setianya. Dia datang dengan kondisi memperihatinkan. Kecantikannya telah pudar sirnah tergerus waktu. Kekayaan dan kemewahannya telah lenyap bersama kematian sang suaminya, Raja Qithfir. Kini dia hanya sebatang kara yang miskin, buta dan tuli.

Ketika sampai pada giliran Zulaikha dan berhadapan dengan Yusuf as, Zulaikha pura-pura tidak mengenal Yusuf as. Baginya Yusuf as hanya kenangan masa lalu yang tidak mungkin bisa digapai lagi bila melihat keadaannya yang begitu terpuruk namun tidak disangka Yusuf as menyapa Zuliakha:

“Bukan kau adalah Zulaikha majikanku dulu”?

“Iya aku Zulaikha”. Jawab Zulaikha tanpa ekspresi.

“Kemana, segala keelokan dan kecantikanmu yang dulu?”. Tanya Yusuf, sedikit perihatin.

“Yusuf as! Semua yang aku miliki telah sirnah, tidak ada satu pun tersisa”. Jawab Zulaikha dengan mata yang sembab.

Tanpa memikirkan kepedihan dan kepiluan hati Zulaikha. Yusuf as malah bertanya:

“Lalu, bagaimana dengan cintamu padaku? Apakah masih tersisa?” Sedikit bercanda.

“Cinta itu masih tetap bersemayam dan abadi dalam lubuk kalbu ini wahai Yusuf as. Betapa berat dan tersiksanya aku menanggung segala beban rindu akan dirimu, hingga mata ini kering dan buta karena selalu mencucurkan derai-derai air mata darah kerinduan akan dirimu. Kecantikanku telah aku kubur bersama jazat cintaku yang telah lama mati tanpa dirimu dan semua kekayaanku telah aku habiskan untuk mengubati cinta dan kerinduanku yang tidak pernah kau balas”.

*****

Dalam versi lain, di berbagai literatur disebutkan, bahwa Zulaikha dan mayoritas rakyat Mesir kala itu penganut Paganisme (penyembah berhala) yang diimani secara turun temurun.

Setelah meninggalnya sang suami, Raja Quthaifur al-‘Aziz, Zulaikha jatuh miskin, tampak tua dan buta namun cinta dan kerinduan pada Yusuf as tidak pernah pudar bahkan semakin bergelora membakar kalbunya dan tatkala kesabaran Zulaikha mulai hilang kendali serta semakin terpuruk dalam penderitaan, dia tinggalkan agama nenek moyangnya kemudian memutuskan beriman pada Allah mengikuti ajaran Yusuf as.

*****

Di keheningan malam, di sinari taram-maram rembulan. Zulaikha menengadahkan tangannya kelangit, bermunajah pada Allah ﷻ:

“Duhai Tuhanku! Tidak tersisa sedikitpun dari harta, kemewahan dan kecantikanku. Aku kini telah menua, hina dan miskin, sementara cinta dan kerinduan pada Yusuf as terus melanda menghantam kalbuku. Maka pertemukan aku dengan Yusuf as, kalau tidak leyapkanlah cinta dan rindu ini dariku hingga aku terbebas dari belenggu cinta dan rindunya”.

Doa Zulaikha ini menggoncangkan kerajaan langit, hingga para malaikat turut bermunajah pada Allah ﷻ:

“Duhai Tuhanku! Zulaikha telah datang pada-Mu dengan membawa keimanan dan ketulusannya. Sudikah Engkau mengabulkan permintaanya”.

Allah ﷻ menjawabnya: “Wahai para Malaikat, sungguh telah dekat keselamatan dan kebahagiaanya”.

*****

Kala itu Zulaikah berdiri bersama rakyat Mesir untuk menunggu jatah sembako yang dibagikan pihak pemerintah dan Yusuf as dengan gagahnya berada di atas kuda yang dikawal ketat oleh tentara-tentara kerajaan sedang melintas tanpa tahu bahwa di antara kerumunan rakyat yang berbaris kelaparan, ada Zulaikha yang selalu mengawasi tidak langkahnya melalui lidah dan mata sang pelayan. Dan ketika Yusuf as mulia mendekat, Zulaikha menjerit dan memanggil dengan nada doa:

“Maha Suci Dzat! Yang telah menjadikan seorang hamba sahaya sebagai raja dengan sebab ketaatannya dan menjadi seorang raja sebagai hamba sahaya dengan sebab kedurhakaanya”.

Mendengar jeritan dan panggilan doa Zulaikha, Yusuf as menghampiri dan bertanya:

“Siapakah Anda sebenarnya dan apa tujuaan Anda memanggilku dengan nada seperti itu”. Tanya Yusuf as tanpa tahu bahwa yang ditanya ada Zulaikha majikannya dulu.

“Aku adalah orang dulu membelimu dengan intan permata, emas dan perak serta kafur dan kasturi. Aku adalah orang perutnyabtidak pernah kenyang oleh makanan sejak merindukanmu dan tidak pernah bisa tidur sepanjang malam sejak pertama kali memandang wajahmu”. Jawab Zulaikha lantang.

“Barang kali kau Zulaikha?” Tanya Yusuf as datar.

“Iya aku Zulaikha majikamu dulu”. Jawab Zulaikha sembari berusaha mengingatkan Yusuf as akan dirinya.

“Kemana kecantikan, harta dan kemewahanmu”. Tanya Yusuf as tanpa memperdulikan perasaan Zulaikha.

“Kerinduanku padamu telah menenggelamkan semua yang aku milik ke dalam samudera perahara dan nastapa”. Jawab Zulaikha pedih.

“Sekarang, bagaimana rasa rindumu kepadaku? ” Tanya Yusuf as menguji kesabaran Zulaikha.

“Wahai Yusuf as! Rasa rindu itu tidak pernah pudar sedetikpun dari hatiku, bahkan sekarang kian bertambah dari setiap waktu ke waktu dan dari masa ke masa”. Jawab Zulaikha membuktikan cinta dan kerinduannya pada Yusuf as.

Yusuf as, tertegun mendengarnya dan bertanya: “Apa yang keinginanmu sekarang wahai Zulaikha?”. Tanya Yusuf as lagi

“Aku hanya ingin, kecantikan, harta dan kembali bisa bersua denganmu”. Jawab Zulaikha tanpa ragu-ragu.

Mendengar jawab Zulaikha yang meneror, Yusuf diam selaksa bahasa. Kemudian malaikat Jibril as datang menemui Yusuf as menyampaikan kabar dari Allah ﷻ:

“Wahai Yusuf as, Ketahuilah! Bahwa Allah ﷻ telah menikahkanmu dengan Zulaikha. Allah ﷻ sendirilah melamar Zulaikha untukmu. Para malaikat dan semua bidadari surga sebagai saksinya”.

“Bukankah kau tahu jibril as! Zulaikha sekarang sudah tidak muda lagi, kekayaan dan kecantikanya telah sirnah?” Bantah Yusuf as meyakinkan Jibri as.

Jibril as berkata: “Wahai Yusuf as! Tuhanmu telah bersabda padamu: Katakan pada Yusuf, meskipun Zulaikha sudah tidak memiliki kekayaan dan kecantikan. Aku yang memiliki kekuatan, keagungan, pemberian, kekuasaan dan segala pekerjaan”.

*****

Allah ﷻ tidak pernah mengingkari janji-Nya dan setiap doa baik yang dipanjatkan pasti dikabulkan. Idza Arada Syaian, An Yaqulahu Kun Fayakun.

Allah ﷻ akhirnya mengembalikan kecantikan Zulaikha seperti anak gadis berusia empat belas tahun bahkan lebih cantik dari sedia kala. Setelah itu Allah ﷻ meletakan rasa cinta, kasih sayang dan kerinduan di hati yusuf as. Maka terciptalah kesaksian dua pasangan anak manusia yang saling mencinta dan merindu dan tidak ingin lagi terpisahkan layaknya dua pasang pengantin yang sedang berbulan madu.

Malam semakin larut, segenap pasang mata sudah mulai terlelap dalam buayan mimpinya. Yusuf as mengandeng tangan Zulaikha memasuki kamarnya. Kamar pengantin yang sudah dihiasi aneka bunga dan lentera-lentera kecil nan indah.

Mereka berdua kemudian bercenkrama dan bercanda di atas dipan berukir terbuat dari emas. Saat Yusuf as ingin melaksanakan hajatnya. Zulaikha berkata:

“Wahai Yusuf as! Aku ingin melaksanakan sholat dulu di mihrab, setelah itu lakukanlah apa yang kau inginkan”.

Yusuf as, hanya bisa mengangukkan kepala dan menyaksikan Zulaikha berjalan ke mihrab.Satu jam, dua jam hingga lima jam Zulaikha belum ada tanda-tanda selesai menunaikan sholatnya. Karena tidak sabar Yusuf as akhirnya manggil Zulaikha:

“Wahai Zulaikha, Bukankah kau yang dulu menarik bajuku hingga sobek?” Pangil Yusuf as dengan suara lantang nan manja.

Mendengar panggilan manja Yusuf as, Zulaikha melakukan salam dari sholatnya dan menjawab dari mihrabnya: “Iya! Dia itu aku yang telah menarik bajumu hingga sobek tapi bukan hatiku”.

Kemudian Zulaikha berdiri dan melanjutkan sholatnya lagi.

Yusuf as yang mulai tadi sudah tak sabar menunggu, telihat geram dan langsung menarik baju (pakaian sholat) yang dikenakan Zulaikha hingga sobek.

Jibril as pun turun mendatangi dan menasehati Yusuf as atas kejadian tadi: “Wahai Yusuf as! Baju telah dibalas baju, maka hilangkanlah sifat saling menyalahkan antara kamu dan Zuluikha. Hiduplah rukun, harmonis dan bahagia”.
_________________________
[1] Serpihan kisah ini bisa dibaca ulang dalam kitab aslinya Bada’i az-Zuhur fi Waqa’i Dhuhur karya as-Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas al-Hanadiy dan kitab Bahamasy al-Majalisu as-Saniyah yang benama Kutubu as-Sab’iyat fi Mawa’idhi al-Bariyat karya as-Syaikh al-Imam al-Ajallu Abi Nashri Muhammad bin Abu ar-Rahman al-Hamdaniy.

Waallahu A’lamu

Oleh: Abdul Adzim

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas