Prilaku Yang Tampak Dari Raga Adalah Cerminan Dari Jiwa Yang Tersirat

Asscholmedia.net – Teringat dawuh Syaikh Ibnu ‘Athoillah dalam kitab al-Hikamnya saat ngaji rutinan malam Sabtu kemarin:

ﻣﺎ ﺍﺳْﺘُﻮْﺩِﻉَ ﻓﻲ ﻏَﻴْﺐِ ﺍﻟﺴَّﺮﺍﺋِﺮِ، ﻇَﻬَﺮَ ﻓﻲ ﺷَﻬﺎﺩﺓِ ﺍﻟﻈَّﻮﺍﻫِﺮِ

“Apa yang tersimpan dalam kegaiban hati, akan tampak pada anggota lahir”.

Meski kata mutiara ini sejatinya untuk para penempuh jalan menuju ma’rifat billah atau yang disebut Salikin, sebagai mana yang di sampaikan Syaikh al-Azhar bin Abdul Majid asy-Sarnubiy (w. 1348 H) dalam kitab Syarah al-Hikam al-‘Athoiyah. Tidak ada salahnya bila kita bercermin diri pada keindahan perilaku dan teladan para kekasih Allah ﷻ yang telah terbukti mampu menembus sekat kefanaan, berada dalam maqam keabadian.

Syaikh al-Azhar bin Abdul Majid asy-Sarnubiy menuturkan:

فإن الظاهر عنوان الباطن . فمن طابت سريرته حمدت سيرته ومهما تكن عند امرئ من خليقة وإن خالها تخف عن الناس تعلم

“Perlaku raga adalah indikasi dari jiwa yang tersirat, barang siapa yang hatinya baik, maka terpujilah perilakunya. Ketika seseorang memiliki jiwa yang mulia meski pun disembunyikan dari kasat mata manusia, niscaya akan ketahuan dan tampak indah terlihat.

Seorang punjangga berkata:

دلائل الحب لا تخفى على أحد كحامل المسك لا يخفى إذا عبقا

Tanda-tanda orang jatuh cinta tidaklah samar bagi orang lain // laksana orang pemakai parhum kasturi yang tidak akan samar aromanya bila bersamanya.

Begitu juga hati yang terpuji atau yang tercela akan tampak jelas pada gerak anggota tubuh yang lain. Hal itu senada denga bunyi hadits Rusulullah ﷺ:

لو خشع قلب هذا لخشعت جوارحه

“Jika saja hati ini khusyu tentu semua anggota badan lain juga akan khusyu.”

Selanjutnya Syaikh al-Azhar bin Abdul Majid asy-Sarnubiy berkata:

فمن ادعى بقلبه معرفة الله تعالى ومحبته ولم تظهر على ظاهره ثمرات ذلك من اللهج بذكره والمسارعة إلى اتباع أمره والفرار من القواطع الشاغلة عنه والاضطراب عن الوسائط المبعدة منه فهو كذاب في دعواه متخذ إله هواه.

“Barang siapa yang mengaku dihatinya ada cahaya ma’rifat pada Allah ﷻ dan cinta pada-Nya, namun efek dan buahnya tidak tampak pada anggota lahir seperti halnya ia senantiasa ingat pada Allah ﷻ, selalu semangat dan senang melaksanakan setiap perintah-Nya, tampak bergembira dengan keyakinan kesaksian diri pada-Nya, lari dari segala sesuatu yang akan menyibukan dan memutus dirinya dari Allah ﷻ serta berpaling dari segala perlantara yang mengakibatkan jauh dari-Nya, maka pengakuannya dipastikan bohong dan telah menjadikan hawa nafsunya sebagi tuhan sesembahannya”. Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

🚩Referensi:

Syaikh al-Azhar bin Abdul Majid asy-Sarnubiy| Syarah al-Hikam al-‘Athoiyah|Book Publisher hal 37

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.