Halaqah Kebangsaan Bersama Eks-Terorisme dan Pakar Politik, Strategi Melawan Intoleransi Serta Radikalisme

banner 160x600
banner 468x60


Asscholmedia.net – Bangkalan (23/12) di Aula Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, yang mengusung tema “Strategi dan Upaya Melawan Intoleransi Serta Radikalisme” bersama beberapa narasumber yaitu Bapak Haris Amir Falah (Eks-Narapidana Terorisme), Kiai M. Najih Arromdloni (Penulis Buku Bid’ah Ideologi ISIS), dan Bapak Islah Bahrawi (Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia) serta K.H. Makki Nashir, M.Pd. (Ketua PCNU Kab. Bangkalan) dan K.H. Moh. Nasih Aschal, M.Pd. (Ketua Umum Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil dan Ketua STAIS Bangkalan) yang keduanya turut memberikan mukadimah berkaitan dengan intoleransi dan radikalisme.

Dalam kata pengantarnya, K.H. Moh. Nasih Aschal, M.Pd. menyampaikan hal yang berhubungan dengan acara ini yaitu agar bisa membuka wawasan kita yang berhubungan dengan intoleransi dan radikalisme yang masih marak terjadi sampai detik ini.

“Acara ini sangat penting terutama dari segi materi karena dengan adanya acara ini akan membuka wawasan kita terutama dalam hal intoleransi dan radikalisme” tuturnya.

Perlu mungkin kiranya kita kaji ulang, mengapa acara ini ditempatkan di pondok pesantren, tak lain adalah sebagai titik tolak dari adanya opini bahwa pesantren digadangkan sebagai kedok terorisme dan sebagai sarang teroris.

Ra Nasih juga menyampaikan bahwa pesantren dianggap menjadi tempat yang rentan terjadi upaya-upaya radikalisme yang masuk ke pesantren sehingga dengan adanya acara ini di pesantren sebagai jawaban secara otomatis bahwa pesantren bukan kedok atau sarang radikalisme.

“Ketika berbicara intoleransi, kaitannya dengan keagamaan. Intoleransi dan radikalisme itu bertentangan dengan ajaran agama dan nilai-nilai Islam. Saya sepakat bahwa hal seperti ini “Intoleransi dan Radikalisme” tidak pernah diajarkan oleh agama apapun” tegasnya.

Ra Nasih juga memberikan pernyataan ‘sepakat’ bahwa Indonesia ini bukan Darul Islam tapi Darus Salam yang akan mengajarkan nilai kesejukan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam serta hal ini pula yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw.

“Kegiatan ini merupakan inisiatif bersama bahwa kita sebagai anak bangsa memiliki kewajiban dan tanggungjawab menjaga agar bangsa ini menjadi negara yang kuat dan maju. Kegiatan ini juga disupport oleh densus 88” pungkasnya.

Penegasan lebih lanjut dipaparkan oleh Bapak Haris Amir Falah bahwa terdapat beberapa pesantren yang memang didalamnya mengkader teroris tapi pesantren-pesantren itu bukan yang berbasis ke-NU-an melainkan berbasis Wahabi. Hal tersebut disampaikan berdasarkan data-data yang dimilikinya.

Reporter: Rofi

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas