Teguran Syaikh Izzuddin bin Abdi As-Salam Pada Sultan Mesir Najimuddin Ayyub

banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net – Dahulu di Tikrit Mesir (sekarang Iraq) ada seorang pemimpin bernama sultan Najmuddin Ayyub. Ia dikenal pemimpin kastil di Tikrit yang dikenal dikdator dan angkuh. Ia tidak segan-segan menganiaya tanpa ampun bagi siapa pun yang melanggar perintahnya dan dimasanya hidup seorang ulama besar bernama Syaikh Abu Muhammad Izzuddin Abdul Aziz bin Abd al-Salam bin Abi al-Qasim bin Hassan al-Salami al-Syafi’i (w. 1262 M), atau yang dikenal dengan ‘Izzuddin bin Abdissalam yang bergelar Sultanu al-Ulama (Raja Para Ulama).

*****

Seorang murid dari Syaikh Izzuddin, Syaikh Abu al-Hasan al-Bajiy menceritakan: “Pada suatu hari raya guruku Syaikh Izzuddin keluar mengunjungi Sultan Najmuddin Ayyub di Kastilnya. Para tentara terlatih dan para pembesar berbaris menyambut kedatangannya. Sementara Sang Sultan Najmuddin Ayyub dengan pakain keagungannya layaknya tradisi raja-raja Mesir saat hari raya keluar dari kastil. Para pejabat dan menteri kerajaan secara bergantian membari hormat dengan bersujud (mencium bumi) di hadapan Sang Sultan. Melihat kejadian itu Syaikh Izzuddin berkata dengan lantang:

“Hai Ayyub (tanpa menyebut Sultan)! Apa dalihmu dihadapan Allah ο·», ketika kelak Allah ο·» bertanya kepadamu: Hai Ayyub! Tidakkah aku telah menempatkanmu sebagai raja Mesir lalu kemudian kau memperbolehkan minuman keras?!”

“Apakah ini terjadi dalam kekuasaanku?” jawab Sultan Najmuddin Ayyub.

Syaikh Izzuddin berkata: “Iya, di sini ada Bar (Kedai minuman) yang menjual minuman-minuman keras dan kemungkaran-kemungkaran lainnya, sedangkan kau diam mempermaikan nikmat kekuasaan ini”.

Ditempat yang sama para tentara kerajaan yang menyaksikan hanya bisa diam dan menunduk mendengarkan kritik pedas Syaikh Izzuddin pada Sang Sultan.

“Wahai Tuahku! Ini bukan atas persetujuanku, penjual minuman keras di bar-bar sudah ada sejak ayahandaku berkuasa”. Kilah Sultan Najmuddin Ayyub.

Syaikh Izzuddin berkata: “Berarti kau tergolong orang-orang yang berkata:

Ψ₯ΩΩ†ΩŽΩ‘Ψ§ ΩˆΩŽΨ¬ΩŽΨ―Ω’Ω†ΩŽΨ§ Ψ’Ψ¨ΩŽΨ§Ψ‘ΩŽΩ†ΩŽΨ§ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ Ψ£ΩΩ…ΩŽΩ‘Ψ©Ω وَΨ₯ΩΩ†ΩŽΩ‘Ψ§ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ Ψ’Ψ«ΩŽΨ§Ψ±ΩΩ‡ΩΩ…Ω’ مُهْΨͺΩŽΨ―ΩΩˆΩ†ΩŽ

β€œSesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf 22-23).

Sultan Najmuddin Ayyub terdiam malu tidak bisa mengelak lagi, ia terpaksa harus menandatangi keputusan menutup semua bar-bar yang berani menjual minuman-minuman keras.

*****

Setelah peristiwa besar dan sepulangnya dari Kastil Sultan Najimuddin Ayyub itu aku bertanya pada guruku Syaikh Izzuddin, tutur Syaikh Abu al-Hasan al-Bajiy melanjutkan ceritanya.

“Wahai Tuanku! Bagamana Anda bisa melakukan semua itu pada Sultan Najimuddin Ayyub?”

Syaikh Izzuddin berkata: “Wahai Anakku! Aku melihat ia berada dalam puncak keagungan dan mengingikan ia merasakan hina agar tidak menyobongkan dirinya yang akan berakibat buruk pada dirinya”. Jawab Syaikh Izzuddin.

Kemudian aku bertanya lagi pada guruku Syaikh Izzuddin: “Wahai Tuanku! Apa kau tidak takut pada Sultan Najimuddin Ayyub?”

“Demi Allah ο·» wahai anakku! Aku menghadirkan Haibah (kewibaan) Allah ο·» sehingga Sultan Najimuddin Ayyub berada di bawah kakiku seperti kucing”.

Oleh: Abdul Adzim

πŸ“Œ Referensi:

πŸ“– Syaikh Tajuddin bin Abdul Kafi Taqiyuddin as-Subki| Thabaqatu asy-Syafi’yah al-Kubro| Daru al-Kutub juz 4 hal 356

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas