Syaikh Izzuddin bin Abdi As-Salam dan Bejana Berisi Keju

Asscholmedia.net – “Di sebuah desa ada seseorang bernama Syaikh Abdullah al-Baltajiy, ia merupakan salah satu waliyullah. Ia memiliki hubungan dekat dengan syaikh Izzuddin Abdussalam.

Bacaan Lainnya

Setiap tahun, ia mengirimkan hadiah besar seberat onta pada syaikh Izzuddin Abdussalam. Di antara yang dibawa adalah bejana yang di dalamnnya terdapat keju.

Syahdan, setelah utusan yang membawa hadiyah sampai ke pintu kota Kairo, bejana itu pecah dan apa yang di dalamnya jatuh berserakkan. Ia sedih. Lalu seorang kafir Dzimmi melihatnya dan bertanya:

“Mengapa kamu sedih kisanak? Saya punya yang lebih baik dari itu (keju yang tumpah tersebut).

“Saya sedih karena keju yang akan aku antarkan pada syaikh Izzuddin Abdussalam tumpah. Kemarilah, akan aku beli keju milikmu sebagai ganti keju yang tumpah ini.” jawab sang utusan.

Setelah membeli keju milik kafir Dzimmi, utusan itupun kembali melanjutkan perjalanannya. Belum sampai digerbang, dan tidak seorang pun yang mengetahui kejadian yang menimpa sang utusan kecuali Allah. Tiba-tiba seseorang datang dari arah kediaman syaikh Izzuddin sembari berkata: “Naiklah dan ambil apa yang kamu bawa. Saya akan memeriksa satu persatu hingga aku mendapatkan keju tersebut.”

Sang utusan menyerahkan semua apa yang dibawanya hingga keju yang beli dari kafir Dzimmi.

Setelah itu orang kepercayaan syaikh Izzuddin masuk kekediaman beliau menyerahkan semua hadiyah yang dibawa sang utusan lalu kemudian keluar menemui sang utusan.

“Apa kisanak telah menyerahkan semua hadiyah yang aku bawa pada syaikh Izzuddin?” tanya sang utusan.

“Iya, aku telah menyerahkan semua hadiyah itu dan syaikh Izzuddin sudi menerimanya kecuali keju dan bejananya. Beliau memerintahkan padaku agar meletak keju dan bejananya dipintu ini”. Tutur orang kepercayaan syaikh Izzuddin.

Lama sang utusan menunggu, akhirnya syaikh Izzuddin menemui utusan itu dan berkata: “Wahai Anakku! Mengapa kamu melakukan hal ini? Perempuan pembuat keju itu ditangannya terdapat najis babi.

Kemudian beliau menambahkan: “Sampaikan salam saya kepada, saudaraku!”

• Kisah ini diperoleh dari al-Imam Taqiyuddin as-Subki ayahanda sang penulis kitab ini Syaikh Tajuddin as-Subki dari Shadraddin Aba Zakariya ibnu Ali as-Subkiy.

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📖 Syaikh Tajuddin bin Abdul Kafi Taqiyuddin as-Subki| Thabaqatu asy-Syafi’yah al-Kubro| Daru Ihya al-Kutub al-Arabiyah juz 8 hal 213

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.