CINTA ABADI ZULAIKHA DAN YUSUF AS (2)

Kedatangan Zulaikha Ke Negeri Yusuf As

Bacaan Lainnya

Asscholmedia.net – Hari-hari kelabu telah berlalu. Pasca peristiwa mimpi ke tiga pertemuan dengan Yusuf As, Zulaikha nampak sudah bisa tersenyum merekah. Dia bak menemukan ruh dan harapan baru, untuk bernafas menemuai cinta dan rindunya yang terhalang jarak dan takdir yang belum menyatukan.

Sementara Raja Thimus Ayahanda Zulaikha tanpa menunggu waktu lama, segera mengirimkan utusan pada Raja Qithfir. Penguasa Mesir kala itu, untuk menyampaikan niatnya. Papar al-Imam al-Ghazali melanjutkan kisahnya.

“Saya mempunyai putri yang sangat mencinta Paduka Raja. Dia tidak akan mau menikah kecuali dengan Paduka. Saya berharap Paduka sudi menerima putri saya sebagai istri Paduka dan bila Paduka berkenan, maka apapun yang Paduka inginkan dari kerajaan atau harta yang saya miliki, akan saya berikan”. Tulis Ayahanda Zulaikha dalam surat yang dibawa utusannya pada Raja Qithfir.

Membaca surat dari Ayahanda Zulaikha, Raja Qithfir sangat simpati dan menerima tawaran Ayahanda Zulaikha dengan balasan sepucuk surat yang intinya berisi:

“Barang siapa yang mengharapkanku, maka aku mengharapkannya dan barang siapa mencintaiku, maka aku juga mencintainya. Aku tidak mengharapkan apapun dari Anda selain dia”.

Pucuk dicinta ulam tiba. Mendapat jawaban yang memuaskan Raja Thimus, Ayahanda Zulaikha segera memerintahkan pada orang-orang di istananya:

“Rias dan dandanilah Zulaikha dengan seindah-indahnya riasan. Lalu ikut sertakan barsamanya seribu anak budak peremuan, seribu Bigol (hewan peranakan antara kuda dan keledai), seribu unta dan empat puluh muatan yang berisi uang dinar, empat puluh muatan yang berisi Dibaj (kain yang bersulam sutra), empat puluh muatan yang berisi Sundus (kain sutra halus)serta empat puluh muatan yang berisi Istabraq (kain sutra tebal)”.

*****

Tatkala telah sampai di negara Mesir, Zulaikha tak bisa menyembunyikan kegembiraannya sembari membayangkan ketampan wajah Yusuf As yang pernah dilahatnya di dalam mimpi. Dia duduk gelisah di sebuah kamar yang telah disediakan, yang dikelilingi dayang-dayang nan cantik. Lamunan akan sosok Yusuf As yang gagah dan tampan tak pernah sirnah sedikit pun dari angannya, namun tiba-tiba lamunan itu mendadak bunyar saat Qithfir. Sang Raja Mesir masuk menyapanya. Dia letakkan lengan tangannya di atas kepala dan menutupi wajah jelitanya karena tidak ingin ada laki-laki lain selain Yusuf boleh menatapnya.

Dalam keadaan ketakutan Zulaikha memberanikan diri untuk bertanya pada dayang-dayang yang berada didekatnya:

“Siapahkah laki-laki yang berani masuk ke kamar kita ini?” Tanya Zulaikha cemas.

“Tenanglah wahai Ratu, laki-laki itu adalah suamimu”. Jawab dayang itu”.

Mendengar hal itu, Zulaikha jatuh pingsan hingga waktu subuh membangunkannya. Saat dia tersadar, Zulaikha berguman kecewa:

“Aku telah mengerahkan segala upayaku untuk menemuinya, perjalananku begitu panjang dan melelahkan”

Wahai Ratu! Apa gerangan yang meninpamu? Tanya salah satu dayang istana yang tak mengerti dengan apa yang dialami Zulaikha.

Kemudian terdengar bisikan gaib menyapa Zulaikha:

“Wahai Zulaikha! Janganlah kau bersedih dan gundah gulana. Bersabarlah! Semoga dengan kesabaranmu, kau bisa memperoleh apa yang kau inginkan. Jangan kau tampakkan kesedihan hatimu di depan suamimu kecuali cinta karena hal itu merupakan penyebab engkau bisa bertemu dengan suami sejatimu yang pernah kau lihat dalam mimpimu itu”. Setelah itu Zulaikha hanya bisa diam membisu, tak sepatah kata pun dia ucapkan.

*****

Sedangkan Sang Suami, Raja Qithfir kian hari kian terpesona dengan paras cantik Zulaikha. Tak sekejap pun pandangannya mau terlepas dari wajah Zulaikha.

Hingga pada suatu hari, saat Raja Qithfir ingin memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami. Dia datang dan berbaring di sisi Zulaikha namun niatnya tidak pernah kesampaian karena Zulaikha diciptakan untuk Yusuf As dan Yusuf As diciptakan hanya untuk Zulaikha. Konon ada Jin perempuan yang ditugaskan menyamar menghalangi Raja Qithfir agar tidak bisa menyetuh Zulaikha selamanya. Bersambung

Oleh: Abdul Adzim

Waallahu A’lamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.