EKSPEDISI SEJARAH KEBERADAAN UWAIS AL-QARNI [3 SELESAI]

Asscholmedia.net – Sesampainya di Madinah, Umar Ibnu al-Khattab ra dan Ali bin Abi Thalib ra berusaha mencari keberadaan Harim bin Hayyan. Nyaris seharian mereka berdua mencari keberadaan Harim bin Hayyan namun belum juga ditemukan hingga pada suatu waktu tanpa sengaja Umar Ibnu al-Khattab ra dan Ali bin Abi Thalib ra menemukan Harim bin Hayyan di masjid Rasulullah ﷺ sedang melakasanakan shalat. Selesai shalat mereka berdua mengucapkan salam pada Harim bin Hayyan. Kemudian Harim bin Hayyan menjawab salam mereka dan berkata: “Kalian berdua datang dari mana.”

Bacaan Lainnya

“Kami datang dari menemui Uwais al-Qorni, dia menitipkan salam pada Anda dan mengatakan: Aku berharap Harim bin Hayyan kelak menjadi temanku di surga Allah.” Jawab Umar Ibnu al-Khattab ra dan Ali bin Abi Thalib ra.

Setelah mendengar kabar itu Harim bin Hayyan mengembara mencari keberadaan Uwais al-Qarni sampai akhirnya Harim bin Hayyan tiba di kota Kufah di tepi sungai Furadh. Di sana dia bertemu seorang laki-laki yang berambut pirang, alisnya tebal menyatu, mata indah (kornianya hitam, irisnya putih dan lebar serta lentik bulu matanya).

“Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu”. Ucap Harim bin Hayyan menyapa Uwais al-Qarni.

Uwais pun jawab salam Harim bin Hayyan: “Walaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuhu”.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?”. Tanya Harim bin Hayyan pada Uwais al-Qarni.

Uwais al-Qarni menjawab: “Bagaimanakah keadaan zaman bagi orang yang ketika pagi berkata: “Tidak sore” dan ketika sore berkata: “Tidak pagi”. Wahai saudaraku!? Sesungguhnya kematian dan mengingatnya selalu menemani orang mukmin tidak pernah sedikit pun meninggalkannya”.

“Bagaimana engkau bisa mengenalku wahai saudaraku?” lanjut Uwais.

“Aku mengenalmu melalui ciri-ciri yang diberi tahukan Umar Ibnu al-Khattab ra dan Ali bin Abi Thalib ra kepadaku.” Jawab Harim bin Hayyan.

“Lalu bagaimana engkau bisa mengenalku wahai saudaraku.” Tanya Harim bin Hayyan.

Uwais al-Qarni menjawab:

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
“Ruh-ruh itu berkelompok-kelompok yang banyak. Yang cocok di antara mereka akan saling sepakat, dan yang tidak cocok akan saling menjauh.” (Sahih, HR. Muslim).

Kemudian Haram bin Hayyan berkata: “Wahai Uwais! Bacakan untukku sebuah Ayat dari Ayat-ayat al-Qur’an.”

Uwais al-Qarni pun membaca sebuah Ayat:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

“Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” [QS. Al-Anbiya Ayat: 16].
Namun setelah membaca Ayat itu, Uwais al-Qarni jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Setelah Uwais al-Qarni sadar, Harim bin Hayyan berkata: “Aku ingin selalu menjadi sahabat dan selalu bersamamu kemanpun engakau pergi”.

“Jangan wahai Harim! Engkau tidak bisa ikut bersamaku di dunia ini tapi bila kelak aku mati datanglah padaku, jangan ada seorang pun yang mengkafani dan memendam jazatku selain engaku”. Pinta Uwais al-Qarni pada Harim bin Hayyan sebelum akhirnya mereka berdua berpisah.

*****

Ada pertemuan pasti ada perpisahan, setelah lama berpisah dengan Uwais al-Qarni. Harim bin Hayyan selalu rindu dan ingin lagi bertemu dengan Uwais al-Qarni. Harim berjalan berhari-hari lamanya memasuki kota demi kota, bertanya. Menyiangi siang menembus pekat malam hingga Harim bin Hayyan sampai di kota Damsyiq (sekarang Damaskus) bagian dari negara Syam (Sekarang Syeria). Di sana Harim dan Hayyan menenukan Uwais al-Qarni tergeletak di halaman masjid yang terbungus mantel. Perlahan-lahan Harim mendekati Uwais al-Qarni, membuka mantel yang menutupi badannya namun ternyata Uwais al-Qarni telah wafat.

Melihat sahabatnya telah meninggal dunia, Harim bin Hayyan menangis dan menjerit sekuat-kuatnya: “Duh saudarku! Engkau adalah kekasih Allah. Engkau wafat dalam keadaan seperti ini, tidak terurus dan jauh dari keluargamu”.

Orang-orang disekitar masjid berhamburan menghampiri Harim bin Hayyan yang masih terisak di dekat jasad Uwais al-Qarni. Mereka lalu bertanya: “Siapakah Anda wahai hamba Allah? Dan siapa jasad yang membujur di depan Anda ini”.

“Aku Harim bin Hayyan dan Dia sahabat karibku Uwais al-Qarni Kekasih Allah”. Jawab Harim bin Hayyan.

Mereka terperangah dendengar pengakuan dan penuturan Harim bin Hayyan karena tidak mengira bahwa dua orang yang ada dihadapan mereka saat itu adalah seorang pembesar Tabi’in.

“Kami sudah menyiapkan dua baju (kain kafan jadi) untuk mengafani jenazah Uwais al-Qarni”. Tawar mereka pada Harim bin Hayyan.

Harim bin Hayyan menolak dan berkata: “Dia tidak butuh pakaian (kafan jadi) dari kalian tapi Harim bin Hayyan yang akan memakaikan pakaiannya sediri”.

Ibnu Umar ra, sang perawi melanjutkan kisahnya: “Kemudian Harim bin Hayyan mengepakkan tangan pada kantong perbekalan yang dibawanya (tanpa harus merogoh ke dalam), tiba-tiba muncul dua baju (kain kafan jadi). Yang satu bertulis:

بسم الله الرحمن الرحيم، براءة من الله الرحمن الرحيم لأويس القراني من النار

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah membebaskan Uwais al-Qarni dari siksa api neraka.”

Yang kedua bertulis:

هذا كفن أويس القراني من لباس الجنة

“Ini adalah kafan Uwais al-Qarni yang berasal dari pakaian surga.”

Semoga ridha dan rahmat Allah ﷻ senantiasa mengiringi kepergian Uwais al-Qarni. Amin…

Wallahu A’lamu
Semoga Manfaat

Bangkalan Jum’at 3 Januari 2020/7 Jumadil Ula 1441| Posted By: Abdul Adzim

⁦🗒️ ⁩Dialih bahasakan dari karya Hujjatu al-Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i yang berjudul Maqamati al-Ulama Baina Yadai al-Khulafa’ wa Umara’. Dicetak Daru al-Ilmiyah al-Kutub, halaman 58-60. Bisa juga dilihat kitab al-Lali’u al-Mashnu’ah fi al-Ahaditsi al-Maudu’ah karya al-Imam Jaluddin Abdu ar-Rahman as-Suyuthiy. Cetakan Daru al-Ilmiyah al-Kutub, Juz 1, Hal 410-412
________________________________________
°Tulisan ini aku dedikasikan pada kawan-kawanku komunitas FIHRIS di Pondok Pesantern Syaichona Moh. Cholil Demangan Barat Bangkalan Madura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.