Belada Cinta Ibnu Hazm (4 Habis)

Asscholmedia.net – Membaca “Thauqu al-Himamah fil Ulfah wal Ullaf” karya Ibnu Hazm ini, kita seperti di ajak bernostalgia ke 10 Abad yang silam. Tepatnya di kota Cordoba Spanyol, di mana Islam pernah berjaya dan menjadi kiblat dunia dengan kemajuan sains, teknologi dan pradabannya. Ibnu Hazm seakan sengaja menuntun kita menelusiri setiap sudut-sudut kota Cordoba yang indah lengkap dengan segala potret pristiwa dan tragedi di masa itu. Mulai dari pendidikan, budaya, politik hingga romansa cinta pribadi Ibnu Hazm yang sengaja disuguhkan untuk menambah warna narasi keindahan di buku ini.

Bacaan Lainnya

Potret Cinta Ibnu Hazm

Alkisah, “Ketika aku masih remaja, aku jatuh cinta kepada seorang hamba sahaya perempuan nan jelita milik keluargaku. Dia tinggal serumah dengan kami,” Ibnu Hazm memulai kisahnya.

“Hamba sahaya itu masih gadis, berusia kira-kira enam belas tahun. Wajahnya sungguh elok nan anggun mempesona. Kecerdasan dan kesucian dirinya menawan kalbu.

Dia begitu memelihara kehormatan dan harga dirinya, meninggalkan segala perbuatan yang hina dan yang tak kurang berguna. Selalu berpakaian rapi dan menutup rapat semua auratnya.

Dia juga sedikit bicara, tak suka mencela orang lain, pandangannya senantiasa terjaga, selalu memelihara jarak dengan lawan jenis, dan bersikap hati-hati pada siapa pun.
Sungguh, dia benar-benar perempuan yang mempesona dan sempurna.

Selain itu, Dia begitu piawai dalam berkelit pada siapun yang menawarkan cinta, begitu tenang bak danau yang bening. Santun kala duduk dan bicara. lebih banyak mendengarkan orang lain ketimbang bicara.

Dia bukan tipe perempuan gampangan atau murahan, di mana setiap laki-laki dapat singgah di hatinya. Kepribadiannya memikat hati setiap orang yang mengenalnya.Kesantunan tabiatnya mengusir orang yang hendak menjahilinya.

Dia begitu dermawan dan ringan tangan dalam berderma, Cekatan dalam bekerja. Dia tidak senang bercanda yang tiada manfaatnya.
Dan, dia sangat pandai membalas budi dan memendam rasa.
Duhai, ia benar-benar gadis sangat memikat nan menarik hati.”

“Aku sangat mencintainya. Sungguh, sangat mencintainya. Selama dua tahun aku terus berusaha keras untuk dapat mendengar satu kata khusus yang terucap dari mulutnya untukku.

Ya, kata khusus di luar pembicaraan yang sifatnya umum. Namun, sekeras apa pun usahaku, tetap tak menghasilkan harapan yang aku damba. Dia tak pernah mau berucap kepadaku walau hanya sepatah kata. Lantas, suatu hari, ada pesta kecil di rumah kami.
Seluruh anggota keluarga besarku berkumpul.

Ibu-ibu, anak gadis, dan beberapa tetangga yang selama ini membantu keluargaku juga ikut berkumpul. Di siang hari mereka semua berkumpul di ruang tengah. Dan selepas acara usai, mereka semua menuju balkon rumah yang langsung tersambung dengan taman.
Dari balkon, seluruh lekuk-lekuk dan pernik-pernik Kota Cordoba terlihat begitu jelasnya. Sungai-sungainya, bukit-bukitnya, dan pegunungan hijau yang menghampar dan mengelilinginya. Mereka berkumpul di balkon seraya menikmati pemandangan indah Kota Cordoba.”

Aku pun ikut berkumpul di sana. Masih terekam jelas di benak, saat itu aku berjalan menuju pintu tempat perempuan nan jelita itu berada. Aku sengaja mendekatinya. Kami berdiri berdekatan. Dekat sekali. Namun, begitu dia tahu aku berdiri di sampingnya, dia segera beranjak meninggalku. Lantas beranjak ke pintu lain dengan langkah nan lamban dan menawan. Aku tak bisa tinggal diam. Aku ikuti dia kemana pun dia. Dan, begitu aku berada di sampingnya, dia segera beralih ke pintu sebelumnya. Begitu seterusnya.

Sepertinya dia telah tahu dengan rahasia hatiku yang aku pendam dalam selaman ini. Sementara itu, segenap hadirin dan kaum perempuan di sana tiada yang mengetahui apa sejatinya yang terjadi di antara kami berdua. Hal itu lantaran banyaknya orang yang hadir diacara itu. Sehingga, kami pun luput dari perhatian mereka. Lagi pula mereka juga disibukkan oleh keasyikan mereka sendiri. Yaitu hilir mudik ke sana kemari, dari satu pintu ke pintu yang lainnya, untuk menyaksikan pemandangan Kota Cordoba yang mengundang decak kagum. Mereka juga terlalu asyik menikmati keindahan taman, seraya menikmati keindahan panorama Kota Cordoba. Segenap hadirin, terutama dari kaum hawa dan ibu-ibu meminta tuan rumah (yakni keluarga kami) untuk menghibur mereka dengan senandung lagu-lagu yang populer di saat itu.

Dan ibuku, yang tak lain adalah sang nyonya rumah, segera menyuruh perempuan idamanku nan jelita untuk menyenandungkan lagu-lagu penuh yang bercerita tentang keindahan.

Aku lihat dia begitu malu-malu menyanggupi permintaan itu. Aku belum pernah melihat ada perempuan yang memperlihatkan rasa malu dengan begitu anggun seperti dirinya.

Duhai, begitu eloknya dia ketika dalam keadaan tersipu malu. Rasa malu yang dia tunjukkan justru menambah paras wajah jelitanya.

Sejenak kemudian, dia menyanyikan beberapa bait syair karya Al-‘Abbas bin Al-Ahnaf.:

إنّي طَرِبتُ إلى شمسٍ إذا طلَعَتْ … كانَتْ مشارقُها جوفَ المقاصيرِ

Kala matahari mulai tenggelam, aku sapa ia
Cahayanya begitu indah bak pesona istana para raja

شَمسٌ مُمَثَّلَة ٌ في خَلْقِ جارية ٍ … كأنّما كَشحُها طيُّ الطَّوامِيرِ

Ia (matahari) telah menjelma menjadi anak gadis belia nan jelita seakan kerudungnya telah melipat lembaran siang

ليسَتْ من الإنسٍ إلا في مناسبة ٍ … ولا منَ الجِنّ إلا في التّصاويرِ

Tiada manusia yang mampu menyainginya dan tiada golongan Jin yang mampu melukis kecantikannya

فالجسمُ من لؤلؤٍ والشّعرُ من ظُلمٍ … والنَّشرُ من مِسكة ٍ والوَجهُ من نورِ

Raganya yang jelita bak permata, rambutnya hitam bak gulita, kemasyhurannya semerbak bak kasturi dan wajah bersinar bak cahaya

إنّ الجَمالَ حَبَا فَوْزاً بخِلعتِه … حذواً بحَذوٍ وأصْفَاها بتحويرِ

Kecantikannya merangkak cepat meninggalkan sekat demi sekat labirin yang buatnya tersesat

كأنّها حينَ تَمشي في وصائفِها … تخطو على البَيْض أو خُضْرِ القواريرِ

Ketika ia berjalan menembus lembaran-lembaran awan, ia seperti melintas di atas kilau putih atau aura hijau kristal kaca.

Duh, mendengar dendang syair itu, hati aku seolah baru saja ditampar-tampar. Aku tak akan pernah dapat melupakan peristiwa itu.
Tak akan pernah! Malah, hingga kematian menjemputku. Sebab, itulah kesempatan terlama aku dapat melihat wajahnya dan mendengar merdu suaranya.

Aku berguman:

لا تلمها على النفار ومنع ال وصل ما هذا لها بنكير
هل يكون الهلال غير بعيد أو يكون الغزال غير نفور

Jangan kau kecam orang yang tidak menyukaimu dan al (أل) yang tidak mau bersama dengan isim nakirah
Adakah rembulan tanggal 1 (hilal) tidak tampak jauh atau kijang tidak bisa berlari kencang?

Kemudian aku berkata:

منعت جمال وجهك مقلتيا ولفظك قد ضننت به عليا
أراك نذرت للرحمن صوماً فلست تكلمين اليوم حياً
وقد غنيت للعباس شعراً هنيئاً ذا لعباس هنياً
فلو يلقاك عباس لأضحى لفوز قانيا وبكم شجياً

Kecantikan wajahmu telah melarang mataku memandangimu dan suara merdumu juga telah menahan diri menyapaku

Aku telah bernadar pada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa dan hari ini aku tidak akan bicara dengan manusia, bila aku dapat melihatmu

Kau melantunkan lagu milik Abbas dengan merdunya. Ini lagu milik Abbas yang merdu

Seandainya Abbas bisa menemuimu, maka dia akan berbangga hati karena lagunya telah sukses gemilang dan memukau para pendengarnya

Dari rumah baru, yang terletak di sebelah timur Cordoba, tepatnya di Rabadh al-Zahirah, ayahandaku pindah ke rumah lama kami di sebelah barat Cordoba, tepatnya di komplek Balath Mughits.

Kami pindah di hari ketiga semenjak Amirul Mukminin Muhammad al-Mahdi menjadi khalifah. Tepatnya pada Jumadi al-Tsaniyyah 399 H/Februari 1009 M.
Aku ikut pindah bersama mereka. Namun, karena alasan tertentu, perempuan nan jelita yang aku cintai tak ikut turut serta.

Kami disibukkan oleh aneka ragam kesulitan, selepas kekuasaan khilafah berada di tangan Amirul Mukminin Hisyam al-Mu’ayyad. Para pejabat pemerintahan Hisyam al-Mu’ayyad acap mengintimidasi keluarga kami. Kami dicekal sebagai tahanan kota. Segala gerak kami diawasi dengan ketat. Akhirnya, konflik horizontal pun meledak. Tak hanya melibatkan keluarga kami.

Tapi, juga masyarakat luas. Saat itu, keadaan lagi genting-gentingnya, Ayahandaku meninggal dunia. Beliau wafat di hari Sabtu selepas shalat ashar, malam kedua sebelum Dzulqa‘dah 402 H (22 Juni 1012).”

Ibnu Hazm kemudian sejenak berhenti berkisah dan beberapa saat kemudian, dia menuturkan kembali kisah cintanya,

“Nampaknya, cerita tentang kisah-kasihku dengan hamba sahaya perempuan yang aku cintai harus aku lanjutkan:

Suatu hari ada anggota keluarga kami yang berpulang ke rahmatullah. Jenazahnya masih di semayamkan di rumah kami. Aku melihat hamba sahaya perempuan itu berada di antara kaum perempuan yang mengelilingi jenazah sambil menangisinya.

Dia juga ikut menangis bersama mereka. Kejadian itu tentu saja membangkitkan cintaku yang beberapa lama terpendam. Membangunkan perasaan hatiku yang lama tertidur. Aku jadi teringat dengan masa laluku. Masa, di mana kisah cinta pernah singgah dihatiku, bulan-bulan telah berlalu, dan hari-hari telah pergi meninggalkan aku sendiri.

Semua itu hanyalah menambah kepedihan hatiku. Karena aku tahu, cintaku bertepuk sebelah tangan. Belum lagi aku juga tertimpa oleh beragam kesedihan yang belakangan menimpa keluargaku.

Saat itu awan hitam kesedihan, kepedihan, dan duka yang menaungiku terasa lebih tebal dari sebelumnya. Berbagai perahara dan cobaan masih mendera keluarga kami. Kemudian, ketika bangsa Barbar yang biadab memorak porandakan Cordoba, kami pun terpaksa harus pergi meninggalkan rumah kami.

Kami layaknya tawanan perang yang terusir dari tanahnya sendiri. Peristiwa itu terjadi pada awal Muharram 404 H/13 Juli 1013 M.

Dan enam tahun sejak peristiwa itu, ketika terakhir kali saya melihatnya di tempat rumah duka keluargaku. Aku tidak pernah lagi melihat hamba sahaya perempuan yang sangat aku cintai itu.

Saya baru melihatnya lagi ketika datang ke Cordoba. Tepatnya pada Syawwal 409 H/Februari 1019 M.
Mula-mula aku tak mengenalnya. Namun, begitu ada seorang kawan yang memberitahuku bahwa dia adalah perempuan yang dulu aku puja, aku baru mengenalinya lagi.

Kini, ia sudah sangat berubah.
Dia sama sekali berbeda dengannya yang dulu.
Nyaris seluruh kecantikannya pudar sudah.Wajah nan jelitanya sirna. Aura kecantikannya tak lagi memancarkan pesona. Keanggunannya lenyap tak berbekas. Kebeningan wajahnya, yang dulu nampak bak kilatan mata pedang dan cermin India, kini keruh dan lusuh. Kilauan jelita yang dulu menjadi pusat perhatian semua orang, kini redup dan sirna. Segala nama keindahan dan keelokan yang dulu dimilikinya, kini tiada tersisa. Kecuali hanya sedikit ciri khas yang menjadi pengenal yang tersisa.
Duh, betapa kasihan dia…

Perubahan yang sangat besar itu terjadi lantaran dia kurang atau bahkan tak sempat memelihara keelokan diri. Mungkin situasi waktu yang telah merubahnya. Sangat jauh dibanding keadaannya ketika kami masih tinggal bersama.

Konon, dia sering keluar rumah untuk mencari biaya hidup sehari-hari. Padahal, ketika dulu masih bersama keluarga kami, dia tak pernah disuruh melakukan hal-hal seperti itu sama sekali.

Memang benar kata orang:

Perempuan itu ibarat pohon yang harum bunganya. Bila pohon itu tak dirawat dengan baik, maka keindahan dan harumnya akan memudar. Malah, bisa sirna sama sekali.

Perempuan itu laksana bangunan. Bila bangunan tak dipelihara, seiring bertambahnya usia, ia akan roboh dan musnah.

Andai saja dulu dia mau menerima cintaku, atau mau berbicara sepatah kata denganku, walau hanya sebentar saja, bisa jadi saat itu aku menjadi gila karena begitu gembiranya, atau malah aku bisa mati lantaran terlalu bahagia.

Beruntunglah, dia tak mau menerima cintaku. Beruntunglah, dia berpaling dariku. Sehingga, aku bisa bersabar dalam kehidupan ini dan akhirnya bisa melupakannya.”

Maka tidak salah orang berkata: Paling hebat dan berkualitasnya laki-laki adalah yang paling jujur dan teguh dengan kesabarannya tidak pernah berubah sikapnya saat berjumpa dengan wanita idamnanya seperti panas dingin, gemetar dan gerugi. Aku tergolong tipe orang yang tak sanggup menahan diri, meski bisa namun sedikit. Ini adalah kesabaran dan usaha yang aku miliki.

Walallahu A’lamu

Semua kisah serial ini, penulis sadur dari sebuah kitab (buku) yang berjudul Thauq al-Hamamah fi al-Ulfah wal Ullaf (Sekepak Merpati di Bawah Naungan Cinta dan Sejuta Rindu) karya Imam Ibnu Hazm penerus madzhab adz-Dhahriy berisikan syair-syair, cerita-cerita, kaidah, dan nasehat-nasehat cinta. Selamat membaca dan semoga manfaat. Amin

Penulis: Abdul Adzim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.