MEMBEDAH DALIL WAJIB MENCINTAI KELUARGA DAN KETURUNAN NABI SAW (3-Selesai)

banner 160x600
banner 468x60

#Kajian_Tafsir

Kedua, bahwa Istitsna’ dalam Ayat tersebut berupa Istitsna’ Munqati’ [2] sebagaimana yang sampaikan beberapa pakar ilmu tafsir. Dengan begitu ketika melafadzkan:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا

“Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku.” kalam dianggap sudah sempurna.

Baru kemudian dilanjatkan melafadzkan:

إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

“…..kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.”

artinya: “Aku mengingatkan pada kalian semua akan keluarga dan keturunanku”. Dan yang maksud Qarabah (keluarga dan keturunan) Nabi di sini menurut sebagian pendapat adalah Sayyidah Fatimah ra, Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra dan kedua putranya Sayyidina Hasan ra dan Husain ra. Pendapat yang lain mengatakan, mereka adalah keluarga Ali bin Abi Thalib ra, keluarga Sayyid ‘Aqil ra, keluarga Sayyid Ja’far dan keluarga Sayyidina ‘Abbas ra. Pendapat yang lain mengatakan, mereka yang diharamkan menerima zakat. Pendapat yang lain mengatakan selain mereka yang telah disebut.

Kesimpulannya, menurut Syaikh ash-Shawiy bahwa khitab dari Ayat tersebut menurut pendapat pertama diarahkan pada kaum Quraisy, sedangkan menurut pendapat kedua diarahkan pada kaum Anshor berpatokan pada lafadz yang bersifat umum (bukan kekhususan sebabnya) atau kata istilah ilmu Usul Fiqih “al-Ibrah bi ‘umumi al-Lafdzi la bi Khususi as-Sabab” karena sanak karabat Nabi adalah sanak karabat semua orang Muslim berdasarkan firman Allah:

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ ۗ

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6).

Maka mencintai Ahlu al-Bait adalah sebuah kebahagian dan kebanggaan di dunia maupun di akhirat dan seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintai. Allahumma Ij’alna Minhum. 🙏

Wallahu A’lamu

[2] Munqoti’ adalah istisna’ yang mustasna dan mustasna minhunya tidak sejenis.

Referensi:

📖 Syaikh Ahmad ash-Shawiy al-Malikiy| Hasyiyah ash-Shawiy ala Tafsir al-Jalalin| Daru al-Fikr Juz 4 hal 47-48

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas