MEMBEDAH DALIL WAJIB MENCINTAI KELUARGA DAN KETURUNAN NABI SAW (2)

banner 160x600
banner 468x60

#Kajian_Tafsir

Kedua, juga pendapat dari Ibnu Abbas ra yang mengatakan: Bahwa asal muasal turunnya Ayat tersebut bermula ketika Nabi Muhammad ﷺ telah sampai ke Madinah dan sedikit pun tidak memiliki harta banda. Lalu sebagian dari sahabat Anshor berkata pada warga Madinah: “Laki-laki ini adalah orang menunjukkan kalian semua, ia adalah putra dari saudara perempuan kalian dan tetangga dekat negeri kalaian. Mari kumpulkan sebagian harta kalian pada sekelompok orang (yang dipercaya) untuk diberikan padanya”.

Mereka pun segera mengumpulkan sebagaian hartanya lalu diberikan pada Rasulullah ﷺ, namun Rasulullah ﷺ menolak dan mengembalikan harta itu pada mereka. Lalu turunlah Ayat ini. Kalau begitu, berarti khitab dari Ayat ini ditujukan pada kaum Anshar.

Ketiga, pendapat yang bersumber dari al-Hasan al-Bishriy yang mengatakan: “Arti dari firman Allah ﷻ:
إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

adalah kecuali kalian menjadikan cinta dan kasih kalian teringkas pada pendekatan diri pada Allah dengan ketaatan dan pengabdian pada-Nya bukan karena tujuan duniawi.

Kesimpulannya, menurut Syaikh ash-Shawiy dari tiga pendapat di atas. Lafadz al-Qurbaa dalam Ayat tersebut menurut pendapat yang pertama adalah Qarabah yang bermakna Rahim (sanak famili), sedangkan menurut pendapat kedua lafadz al-Qurba bermakna al-Aqarib (beberapa kerabat) dan menurut pendapat ketiga bermaka al-Qarb dan at-Taqarrub (pendekatan).

Ketahuilah! Bahwa mengharapkan imbalan atas Tabligh (menyampaikan wahyu Allah) hukumnya tidak boleh karena beberapa alasan: Pertama, semua para Nabi ﷺ membebaskan (menjauhkan) diri hal itu. Kedua, Tabligh (menyampaikan wahyu Allah) hukum wajib. Ketiga, Pangkat kenabian adalah suatu yang agung dan dunia meskipun tampak besar hakikatnya adalah suatu yang remeh dan hina, tidak sebandang bahkan dengan sayap seekor nyamuk. Seorang sangat tidak layak mencari kerendahan dan menolak kemulian dan lain sebagainya.

Kemudian Syaikh ash-Shawiy mencoba memberi analisis dengan mengajukan sebuah pertanyaan retorika terkait Istitsna’ yang terdapat dalam Ayat tersebut.

Bila tafsiran dan arti yang terkandung dalam Ayat tersebut memang demikian kebenarannya, lalu apa arti yang tersirat dari Istitsna’ dalam Ayat tersebut? Aku akan menjawabnya dengan 2 jawaban. Pertama, Istitsna’ dalam Ayat tersebut tergolong gaya bahasa:

تأكيد المدح بما يشبه الذم

“Menguatkan pujian dengan menggunakan ungkapan yang menyerupai celaan”, yang banyak dibahas dalam kajian ilmu balaghah, tepatnya pada bagian ilmu badi’. Sebagaimana contoh syair berikut:

وَلَا عَيْبَ فِيْهم غَيْرَ أَنَّ سُيُوْفَهُمْ بِهِنَّ فُلُوْلٌ مِنْ قِرَاعِ الْكَتَائِبِ

“Tidak ada kekurangan sedikitpun pada diri mereka, hanya saja pedang-pedang mereka rompak (rusak) disebabkan berbenturan dengan pedang musuh”

Pada contoh ini kata “عيب” adalah sifat celaan yang dinafikan dengan huruf nafi “لا”, kemudian didatangkan huruf istitsna’ “غير” yang mengisyaratkan bahwa setelah pujian “لاعيب فيهم” (Tak ada cela pada diri mereka) adalah celaan, karena pada dasarnya jika mustatsna minhu me-nafi-kan ‘aib, maka mustatsna menetapkan ‘aib. Akan tetapi yang terjadi justru penyebutan pujian lain, yaitu “أن سيوفهم بهنّ فلول من قراع الكتائب” (pedang mereka rompak disebabkan berbenturan dengan pedang musuh), pedang yang rompak akibat sering berperang menunjukkan bahwa pemiliknya mempunyai sifat pemberani. Dengan demikian pujian yang kedua merupakan penguat pujian yang pertama.

Berangkat dari analisis syair di atas, maka arti dari Istitsna’ dalam Ayat tersebut adalah “لا أطلب إلا هذا” (aku tidak minta kecuali ini) secara hakikat berarti tanpa meminta imbalan karena saling mengasihi antara sesama orang Islam hukumnya wajib lebih-lebih bagi kalangan orang-orang mulia dari mereka. Dengan begitu Istitsna’ dalam Ayat tersebut berupa Istitsna’ Muttashil [1] memandang teks dhahirnya. #Bersambung….

Wallahu A’lamu

[1] Muttashil adalah lafadz yang mustatsna dan mustatsna minhunya sejenis, atau biasa disebut dengan istisna’ haqiqi.

Referensi:

📖 Syaikh Ahmad ash-Shawiy al-Malikiy| Hasyiyah ash-Shawiy ala Tafsir al-Jalalin| Daru al-Fikr Juz 4 hal 47-48

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas