MEMBEDAH DALIL WAJIB MENCINTAI KELUARGA DAN KETURUNAN NABI SAW (1)

banner 160x600
banner 468x60

#Kajian_Tafsir

Salah satu dalil yang membenarkan wajibnya mencintai keluarga dan keturunan Nabi ﷺ adalah Ayat:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ

“…Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (QS Asyura: 23).

Akhir-akhir ini warganet lagi ramai membicarakan status Ahlu al-Bait (keluarga dan keturunan Nabi Muhammad ﷺ) dan mengusik kembali dalil keharusan bagi orang Islam mencintai mereka.

So, benarkah Ayat ini merupakan satu dalil dari sekian banyak dalil yang mengandung perintah agar semua umat Nabi Muhammad ﷺ wajib memuliakan dan mencintai Ahlu al-Bait? Bagaimanakah kronologi turun Ayat ini sebenarnya?

Berikut simak penuturan Syaikh Ahmad ash-Shawiy al-Malikiy dalam kitabnya Hasyiyah ash-Shawiy ala Tafsir al-Jalalin yang telah menjelaskan satu persatu kandungan Ayat di atas dengan panjang lebar dan detail. Beliau berkata: “Adapun tafsiran dari firman Allah ﷻ:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا

adalah “Wahai Muhammad! Katakan pada semua umatmu, bahwa engkau dalam menyampaikan risalah dan kegembiraan dari-Ku tidak mencari atau mengharapkan imbalan sepeser pun baik imbalan dari kalian dan hal ini bukan berlaku pada dirimu secara khusus bahkan pada semua Nabi selain dirimu—tidak pernah mengharapkan imbalan karena meminta imbalan atas urusan akhirat adalah sebuah kekurangan bagi selain para Nabi apalagi bagi mereka.”

Sedangkan mengenai tafsiran kalimat berikutnya Syaikh ash-Shawiy memaparkan: “Para ahli Tafsir berbeda pendapat, kala mengartikan firman Allah ﷻ:

إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

Ada 3 tiga penafsiran dari para ulama yang mengemuka: Pertama, penafsiran dari Ibnu Abbas ra, Beliau mengatakan: “Bahwa jalur nasab Nabi Muhammad ﷺ adalah Wasthu Nasab (jalur nasab yang tengah-tengah) dari keturunan Quraisy, baik dari jalur ayah atau ibu karena tidak dari satu perut mereka yang mengandung kecuali telah melahirkan Nabi Muhammad ﷺ. Otomatis mereka semua memiliki hubungan karabat dengan Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karena itu Allah ﷻ berfirman:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ

“…Katakanlah wahai Muhammad, aku tidak meminta balasan kebaikan apa pun pada kalian, melainkan mengasihi keluarga.” (QS Asyura: 23).

Artinya: “Antara aku dan kalian ada hubungan karabat dekat” dengan kata lain “Bila kalian tidak mau mengikuti ajaranku, maka jagalah hubungan kekerabatan kita. Sambunglah silaturrahim dan janganlah kalian menyakitiku maka manfaat akan kembali pada kalian”. Berdasarkan hadits:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ اَللّٰهُمَّ صِلْ مَنْ وَصَلَنِي وَاقْطَعْ مَنْ قَطَعَنِي

“(Pohon) Kasih sayang itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Ya Allah sambunglah! Barang siapa yang menyambung (dengan)ku dan putuslah! Barang siapa yang memutus (dari)ku”.

Maka buahnya akan kembali pada mereka bukan pada Nabi Muhammad ﷺ. Bersambung….

Wallahu A’lamu

Oleh: Abdul Adhim

Referensi:

📖 Syaikh Ahmad ash-Shawiy al-Malikiy| Hasyiyah ash-Shawiy ala Tafsir al-Jalalin| Daru al-Fikr Juz 4 hal 47-48

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas