Wirid, Baiknya Sesuai Dengan Propesi

Tidak ada komentar 51 views
banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net – Saat membuka kitab al-Adzar an-Nawawi dan Syarahnya Futuhatu ar-Rabbaniyah yang berjumlah tujuh jilid serta kitab dzikir dan doa lainnya, terlintas dalam fikir saya, bisakah saya mengamalkan semua wirid, dzikir dan doa dalam kitab ini? Tentu saja tidak bisa, meski hal itu bukan suatu yang mustahil mengamalkannya.

Dalam kitab Mauidhatu al-Mukminin karya Syaikh Jamaluddin ringkasan kitab Ihya Ulumiddin mengatakan:

اعلم أن الأوراد والأذكار المروية والوظائف الليلية والنهارية إنما تستحب للمتجرد للعبادة الذي لا شغل له غيرها أصلا بحيث لو ترك العبادة لجلس بطالا ، وأما العالم الذي ينفع الناس بعلمه في فتوى أو تدريس أو تصنيف فترتيبه الأوراد يخالف ترتيب العابد ، فإنه يحتاج إلى المطالعة للكتب وإلى التصنيف والإفادة ويحتاج إلى مدة لها لا محالة ، فإن أمكنه استغراق الأوقات فيه فهو أفضل ما يشتغل به بعد المكتوبات ورواتبها ، ويدل على ذلك ما ذكرناه في فضيلة التعليم والتعلم في كتاب العلم ، وكيف لا يكون كذلك وفي العلم المواظبة على ذكر الله تعالى ، وتأمل ما قال الله تعالى وقال رسوله ، وفيه منفعة الخلق وهدايتهم إلى طريق الآخرة ، ورب مسألة واحدة يتعلمها المتعلم فيصلح بها عبادة عمره ولو لم يتعلمها لكان سعيه ضائعا .

Ketahuilah! Bahwa membaca dan mengamalkan semua wirid, dzikir dan amalan yang telah dianjurkan (Rasulullah, Shabat, Tabi’in dan para ulama) baik bacaan siang atau bacaan malam hendaknya sesuai dengan propesi masing-masing individu. Artinya, semua wirid, dzikir amalan tersebut lebih relevan bila ditekuni oleh orang yang mengfokuskan diri dalam ibadah atau orang yang sama sekali tidak disibukan dengan duniawi.

Sedang bagi mereka yang memiliki keluasan ilmu, fatwa, gagasan dan karangannya sangat bermanfaat bagi orang banyak. Maka wirid yang relevan bagi mereka adalah memperbanyak mentelaah kitab-kitab, mengarang dan memberi faidah dengan ilmunya pada umat bukan malah menghabiskan waktunya memperbanyak wirid dan dzikir.

Al-Imam al-Ghozali mengatakan: Andaikan orang yang alim, disepanjang waktunya digunakan untuk mentelaah kitab-kitab dan menyapaikan dakwah, memberi faidah pada umat manusia, itu lebih utama dari pada menyibukan diri dengan ritual-ritual sunnah setelah sholat maktubah dan rawatibnya sebagaimana yang telah saya sebutkan dalam bab keutamaan mengajar dan belajar ilmu di kitabu al-Ilmu (lihat: kitabu al-Ilmu).

Bila kalian bertanya, kenapa bisa begitu? Karena dalam (belajar dan mengajar) ilmu terdapat kontinuitas dan ritualitas dzikir pada Allah ﷻ. Ada penghayatan dan pengkajian firman Allah ﷻ dan sabda-Nya. Ada manfaat yang besar bagi makluk dan merupakan jalan hidayah menuju akhirat.

Barangkali satu ilmu diajarkan pada seorang murid, dia bisa memperbaiki ibadah sang murid sepanjang usianya. Kok seandainya dia tidak pernah mengajarkan ilmu pada sang murid, tentu jerih payah ibadah sang murid akan sia-sia (karena tampa ilmu).

وأما العامي والمتعلم فحضوره مجالس العلم والوعظ أفضل من اشتغاله بالأوراد ، وكذلك المحترف الذي يحتاج إلى الكسب لعياله فليس له أن يضيع العيال ويستغرق الأوقات في العبادات بل ورده في وقت الصناعة حضور السوق والاشتغال بالكسب ، ولكن ينبغي أن لا ينسى ذكر الله تعالى في صناعته.

Sedangkan bagi mereka yang merasa awam dan pelajar, hadir di majelis ilmu pengajian umum lebih utama dari pada menyibukan diri dengan wiridan. Begitu juga bagi para buruh kerja yang butuh menafkahi keluarganya, tidak boleh metelantarkan keluarganya dengan mementingkan beribadah sepanjang waktu. Bahkan wiridnya adalah pergi kepasar dan masuk kerja saat waktunya namun jangan lupa hendaknya sambil dzikir pada Allah ﷻ saat kerja berlangsung (kalau memungkinkan).

Waallah A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📖 Tahdzibu Mau’dhatu al-Mukminin min Ihya Ulumuddin Lil al-Imam al-Ghazali| Syaikh Jamaluddin al-Qasimiy| Kitab. net hal 85.

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas