INILAH ALASAN MANUSIA DIBERI AKAL DAN SYAHWAT

banner 160x600
banner 468x60

Akal merupakan suatu anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia yang digunakan untuk berpikir dalam segala hal seperti alat untuk mentafakuri alam semesta sehingga ia mendapat petunjuk untuk beriman kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya.

Akal pulalah yang dipakai manusia sebagai alat untuk menggali ilmu-ilmu dan rahasia-rahasia alam untuk dimanfaatkan buat kepentingan manusia. Maka dengan akallah yang membedakan dan melebihkan manusia dari seluruh makhluk yang lainnya di muka bumi ini.

Sekalipun manusia dilebihkan oleh Allah ﷻ dengan makhluk lainnya, bukan berarti manusia terbebas dari kesalahan karena manusia selain diberi akal, ia juga diberi nafsu. Faktor inilah yang membedakan manusia dengan makhik lain seperti malaikat dan hewan. Artinya bila manusia benar-benar mengunakan akalnya hingga bisa memilah antara yang benar dan yang buruk maka manusia naik mengungguli kemulia malaikat sebalik bila manusia hanya menggunakan nafsunya, maka manusia bisa lebih rendah dari pada hewan.

Dalam kitab Hasyiah al-Kunawiy, Syaikh Ishamuddin Ismail bin Muhammad al-Hanafi ala Tafsir al-Imam al-Baidhawiy (w. 1195 H) mengatakan:

ﺧﻠﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﻋﻘﻮﻻً ﺑﻼ ﺷﻬﻮﺓ ، ﻭﺧﻠﻖ ﺍﻟﺒﻬﺎﺋﻢ ﺷﻬﻮﺓ ﺑﻼ ﻋﻘﻮﻝ، ﻭﺧﻠﻖ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﻭﺭﻛﺐ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﻭﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ، ﻓﻤﻦ ﻏﻠﺐ ﻋﻘﻠﻪ ﺷﻬﻮﺗﻪ ﺍﻟﺘﺤﻖ ﺑﺎﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ، ﻭﻣﻦ ﻏﻠﺒﺖ ﺷﻬﻮﺗﻪ ﻋﻘﻠﻪ ﺍﻟﺘﺤﻖ ﺑﺎﻟﺒﻬﺎﺋﻢ .

“Allah ﷻ menciptakan malaikat berakal tanpa syahwat, dan menciptakan hewan mempunyai syahwat tanpa akal, serta menciptakan manusia secara melengkap dengan akal dan syahwat. Barang siapa yang akalnya mampu menguasai syahwatnya maka dia berhak disandingkan dengan para malaikat, dan siapa yang syahwatnya menundukan akalnya maka dia tidak ubahnya binatang.”

Hikmah dari ucapanan tersebut, bahwa manusia bukan hanya diberi akal sebagaimana malaikat yang hanya hidup beribadah dan tak akan terjerus dalam kesalahan, tapi manusia juga diberi syahwat dan amarah sebagaimana binatang yang tidak akan luput dari kekhilafan dan berbuat dosa yang selalu menghiasi dalam hidupnya.

Syaikh Ibnul Qoyyim al-Juziyah (w. 751 H) dalam kitabnya Thaqatu al-Hijrataini wa Babu al-Sa’adataini menambahkan:

أن الحكمة الالهية اقتضت تركيب الشهوة والغضب في الانسان .وهاتان القوتان فيه بمنزلة صفاته الذاتية لا ينفك عنهما وبهما وقعت المحنةوالابتلاء وعرض لنيل الدرجات العلى واللحاق بالرفيق الاعلى والهبوط الى اسفل سافلين فهاتان القوتان لا يدعان العبد حتى ينيلانه منازل الابرار او يضعانه تحت اقدام الأشرار ولن يجعل الله من شهوته مصروفة الى ما اعد له في دار النعيم وغضبه حمية لله ولكتابه ولرسوله ولدينه كمن جعل شهوته مصروفة في هواه وامانيه العاجلة وغضبه مقصور على حظه حتى عن قال— والمقصود ان تركيب الانسان على هذا الوجه هوغاية الحكمة ولا بد ان يقتضي كل واحد من القوتين اثره فلا بد من وقوع الذنب والمخالفات والمعاصي فلا بد من ترتب آثار هاتين القوتين عليهما ولو لم يخلقا في الانسان لم يكن انسانا بل كان ملكا فالترتب من موجبات الانسانية كما قال النبي صلى الله عليه و سلم كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون فأما من اكتنفته العصمة وضربت عليه سرادقات الحفظ فهم اقل افراد النوع الانساني وهم خلاصته ولبه
:” كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.أن الحكمة الالهية اقتضت تركيب الشهوة والغضب في الانسان .وهاتان القوتان فيه بمنزلة صفاته الذاتية لا ينفك عنهما وبهما وقعت المحنةوالابتلاء وعرض لنيل الدرجات العلى واللحاق بالرفيق الاعلى والهبوط الى اسفل سافلين فهاتان القوتان لا يدعان العبد حتى ينيلانه منازل الابرار او يضعانه تحت اقدام الأشرار ولن يجعل الله من شهوته مصروفة الى ما اعد له في دار النعيم وغضبه حمية لله ولكتابه ولرسوله ولدينه كمن جعل شهوته مصروفة في هواه وامانيه العاجلة وغضبه مقصور على حظه حتى عن قال— والمقصود ان تركيب الانسان على هذا الوجه هوغاية الحكمة ولا بد ان يقتضي كل واحد من القوتين اثره فلا بد من وقوع الذنب والمخالفات والمعاصي فلا بد من ترتب آثار هاتين القوتين عليهما ولو لم يخلقا في الانسان لم يكن انسانا بل كان ملكا فالترتب من موجبات الانسانية كما قال النبي صلى الله عليه و سلم: كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Hikmah ilahiyah menunjukkan adanya syahwat dan marah pada diri manusia: Bahwa dua sifat ini merupakan salah satu sifat-sifat dasar yang dimiliki setiap manusia yang tidak bisa terlepas dari keduanya. Maka dengan sebab kedua sifat ini, ujian dan cobaan, impian untuk memperoleh darajat yang mulia, berkumpul dengan Rafiqil al-A’la (Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh) dan turun pada derajat yang paling rendah pasti akan menimpa pada manusia.

Dua sifat itu, tidak bisa ditinggalkan oleh seorang hamba hingga ia mendapat derajat al-Abror atau jatuh dibawah kaki keburukan. Allah ﷻ tidak akan menjadikan syahwat (keinginan) seseorang yang diarahkan pada suatu yang telah dijanjikan kelak di surga kenikmatan dan kemarahannya yang diarahkan untuk melindungi Allah ﷻ, kitab, rasul dan agama-Nya, sama dengan orang yang melampiaskankan syahwatnya pada hawa nafsu, ambisi sesat dan membiarkan kemarahannya pada bagiannya (hal yang negatif) hingga ucapa beliu:

Maskud dari manusia tidak akan bisa lepas dari salah satu sisi dari dua sifat ini adalah bahwa efek dua sisi dari sifat tersebut akan terus mempengaruhi pada kehidupan mereka. Maka tentu manusia akan terjerumus dalam dosa, penyimpangan dan kemaksiatan. Melekatnya pengaruh kekuatan dua sifat itu pun menjadi sebuah keharusan.

Andai dua sifat tersebut tidak diciptakan pada diri manusia, maka mereka tidak akan menjadi manusia, melainkan malaikat. Maka, keberadaan dua sifat tersebut (syahwat dan marah) termasuk dari tabiat manusia. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”. (HR Tirmidzi 2499, Shahih at-Targhib 3139).

Waallahu A’lamu

Oleh Abdul Adzim

Referensi:

📖 Syaikh Ishamuddin Ismail bin Muhammad al-Hanafi ala Tafsir al-Imam al-Baidhawiy, Hasyiah al-Kunawiy, Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 51.

📖 Syaikh Ibnul Qoyyim al-Juziyah, Thaqatu al-Hijrataini wa Babu al-Sa’adataini, Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 171.

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas