Kebodohan Membuat Seseorang Kehilangan Akal Sehatnya

Ahli satra Arab mengatakan:

Bacaan Lainnya

خير المواهب العقل ، وشر المصائب الجهل

“Paling baiknya anugerah adalah akal dan paling jeleknya musibah ada kebodohan”.

Hujjatul Islam al-Ghozali mengatakan: “Tidak ada enaknya menjadi orang bodoh, meski kadang bermanfaat”. Pernyataan ini, Beliau kemas dalam kisah drama yang begitu menginspirasi dalam kitab Master Piecenya, Ihya’ Ulumiddin:

Seorang laki-laki pergi ke dokter dengan istrinya, dan menceritakan bahwa istrinya mandul, tidak memberinya anak.

Dokter memandang perempuan tersebut, memeriksa deyut nadinya, dan berujar, “Saya tidak dapat menangani kemandulan istri Anda, karena saya telah mengetahui bahwa tak kurang dalam 40 hari istri Anda akan mati.”

Ketika mendengar hal itu, perempuan tersebut seketika cemas dan takutan. Hidupnya menjadi gelisah dihantui kematian. Semua harta yang dimiliki ia ditinggalkan. Segala wasiat telah disampaikan. Sisa waktunya ia gunakan untuk ibadah dan bertaubat atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. Apalah arti kemewahan harta, kebagaian keluarga dan keindahan dunia kalau sebentar lagi kematian meleyapkan semua? Menjelang 40 hari yang dijanjikan, perempuan itu semakin sedih hingga makan dan dan minum tak lagi menggiyurkan.

Jam demi jam ia menunggu ajal, detik demi detik ia menyiapkan pedihnya kematian namun setelah tiba pada waktu yang telah ditentukan ia masih hidup dan ucapan dokter itu ternyata bohong belaka.

Kemudian dengan geram dan marahnya suami perempuan itu pergi mendatangi sang dokter sembari meminta pertanggung jawaban: “Anda ternyata pembohong besar! Kami menunggu kematian itu serasa dunia sudah kiamat. Bagaimana Anda bisa berbuat seperti itu? Bentak suami perempuan itu”.

Dengan santai sang dokter menjelaskan: “Saya sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi, Saya lakukan semua itu karena istrimu terlalu gemuk, lemak dalam tubuhnya telah menutupi haramnya dan dapat memengaruhi kesuburannya. Satu-satunya jalan yang dapat membuatnya kurus dan ramping adalah takut pada kematian. Sekarang ia sudah sembuh. Pulanglah! Gauli istrimu, insyaallah sebentar lagi ia mengandung anak-anakmu”.

Oleh Abdul Adzim

Waallahu A’lamu

📖 Hujjatu al-Islam Abu Hamid Mauhammad al-Imam al-Ghozali ath-Thusy| Ihya’ Ulumiddin| Thoha Putra Semarang juz.1, hal. 31.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.