SISA AIR WUDHU OBAT SEGALA PENYAKIT

Tidak ada komentar 183 views
banner 160x600
banner 468x60

Di dalam kitab-kitab fiqh disebutkan tentang anjuran meminum sisa air wudhu, salah satunya bisa kita jumpai dalam Kitab Fathu al-Muin bi Syarhi Qurratu al-Ain bi Muhimmati ad-Din karya Syekh Zainuddin al-Malibari (w. 987 H):

( وشربه ) من ( فضل وضوئه ) لخبر إن فيه شفاء من كل داء

Dan (disunahkan) meminum sisa air wudhu, karena ada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa di dalamnya terkandung obat dari segala macam penyakit. [Fathu al-Mu’in, Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 15].

Dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah juga disebutkan:

نَصَّ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ عَلَى أَنَّ مِنْ مُسْتَحَبَّاتِ الْوُضُوءِ أَنْ يَشْرَبَ الْمُتَوَضِّئُ عَقِبَ فَرَاغِهِ مِنَ الْوُضُوءِ ، مِنَ الْمَاءِ الَّذِي زَادَ فِي الإْنَاءِ ، لِمَا وَرَدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْعَلُهُ.

Ulama Syafiiyah dan Hanafiyah menganjurkan agar meminun sisa air wudhu yang masih ada dalam wadah sesaat setelah melakukan wudhu karena Nabi Saw pernah juga minum bekas air wudhu. [al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, www.islamport.com juz 2 hal 162]

Lalu bagaimanakah keutamaan meminum sisa air wudhu tersebut dan bagaimanakah cara sesunguhnya?

Ada banyak riwayat hadist yang menjelaskan keutamaan meminum sisa air wudhu di antaranya:

أَخْبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ سَيْفٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَتَّابٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي حَيَّةَ قَالَ رَأَيْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَوَضَّأَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا ثُمَّ قَامَ فَشَرِبَ فَضْلَ وَضُوئِهِ وَقَالَ صَنَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا صَنَعْتُ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Daud Sulaiman bin Saif dia berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Attab berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dari Abu Hayyah, dia berkata: “Aku melihat Ali ra berwudlu tiga kali-tiga kali, kemudian berdiri dan meminum air sisa wudlunya, dan berkata; “Rasulullah ﷺ melakukan, seperti yang ku lakukan sekarang.”

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺃﻣﺎﻣﺔ ” ﺍﻟﺸُّﺮْﺏُ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻞِ ﻭُﺿُﻮْﺀِ ﺍْﻟﻤُﺆْﻣِﻦِ ﻓِﻴْﻪِ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻣِﻦْ ﺳَﺒْﻌِﻴْﻦَ ﺩَﺍﺀً ﺃَﺩْﻧَﺎﻫَﺎ ﺍْﻟﻬَﻢُّ” ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻌﻜﺎﺷﻲ ﻛﺬﺍﺏ ﻭﻭﺍﺿﻊ” .

Dari Aby Umamah: “Meminum kelebihan air wudhu` orang mu`min itu tedapat obat dari tujuh puluh penyakit. Yang paling rendah darinya adalah penyakit Himm (cacingan, kecemasan, penuan dini). Dalam sanad hadits ini terdapat perawi bernama al-‘Ukasyi (Muhammad bin Ishaq) yang dianggap pembohong dan pemalsu berita.

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الْمُنْكَدِرِ يَقُولُ سَمِعْتُ جَابِرًا يَقُولُ مَرِضْتُ فَأَتَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ يَعُودَانِي فَوَجَدَانِي قَدْ أُغْمِيَ عَلَيَّ فَتَوَضَّأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَبَّ عَلَيَّ وَضُوءَهُ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Manshur dari Sufyan dia berkata: “Saya mendengar Ibnu Al Munkadir berkata: “Aku mendengar Jabir berkata: “Aku sedangsakit, kemudian Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar datang menjengukku dan keduanya mendapati diriku pingsan, maka beliau berwudlu dan air sisa wudlunya disiramkan kepadaku.” [HR. An-Nasai dalam Kanzu al-Amal karya al-Mutaqiy al-Hindiy juz 9 hal 308 dan Tadzkiratu al-Maudhu’at karya al-Fattaniy hal 209].

Abdul Ghani al-Nabulisi al-Hanafi (w 1143 H) pernah membuktikan keampuhan dari keutamaan minum sisa air wudhu dalam kitab Syarhu al-Hidayah Ibnu I’mad (w 1223 H) sebagaimana disebutkan dalam kitab Raddu al-Mukhtar karya Syaikh Muhammad Amin (w 1252 H) yang dikenal dengan sebutan Ibnu Abidin, dia berkisah:

ومما جربته أني إذا أصابني مرض أقصد الاستشفاء بشرب فضل الوضوء فيحصل لي الشفاء ، وهذا دأبي اعتمادا على قول الصادق صلى الله عليه وسلم في هذا الطب النبوي الصحيح

“Termasuk hal yang telah aku coba ketika aku terkena suatu penyakit, maka aku berniat menyembuhkan penyakit tersebut dengan meminum bekas air wudhu, kemudian kesembuhan berhasil bagiku. Dan akhirnya ini menjadi kebiasaanku dengan berpegangan pada sabda Nabi ﷺ dalam pengobatan nabawi yang shahih ini.”

Adapun tata caranya sebagaimana disebutkan Ibnu Abidin dalam kitab yang sama, boleh diminum seluruh atau sebagaian, dalam keadaan berdiri sambil menghadap kiblat, dan boleh juga minum dalam keadaan duduk. Dan setelah minum, dianjurkan untuk membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ اشْفِنِي بِشِفَائِكَ ، وَدَاوِنِي بِدَوَائِكَ ، وَاعْصِمْنِي مِنَ الْوَهَل وَالأْمْرَاضِ وَالأْوْجَاعِ

“Ya Allah, sembuhkanlah aku dengan kesembuhan-Mu, obatilah aku dengan obat-Mu, dan lingdungilah aku dari penyakit dan sakit.” [Raddu al-Muhtar ala Dari al-Mukhtar Syarhi Tanwirul al-Abshar, juz 1 hal 254-255].

Terdapat keterangan dari al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolani (w 852 H) dalam kitabnya Fathu al-Bari Syarhu Shahih al-Bukhari:

وَالْمُرَادُ بِالْفَضْلِ الْمَاءُ الَّذِي يَبْقَى فِي الظَّرْفِ بَعْدَ الْفَرَاغِ

“Bahwa yang dimaksud sisa air wudhu adalah air yang masih tersisa dalam wadah setelah selesai wudhu”. [Fathu al-Bari, Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 266].

Sementara Syaikh Badruddin al-‘Aini (w 855) dalam kitabnya Umdatu as-Sariy Syarhi Shahih al-Bukhari mengatakan:

الْمرَاد من فضل الْوضُوء يحْتَمل أَن يكون مَا يبْقى فِي الظّرْف بعد الْفَرَاغ من الْوضُوء ، وَيحْتَمل أَن يُرَاد بِهِ المَاء الَّذِي يتقاطر عَن أَعْضَاء المتوضئ ، وَهُوَ المَاء الَّذِي يَقُول لَهُ الْفُقَهَاء : المَاء الْمُسْتَعْمل

“Bahwa yang dimaksud sisa air wudhu adalah air yang masih tersisa dalam wadah setelah selesai wudhu dan hal itu bisa mengarah pada pengertian air yang menetes dari anggota orang berwudhu yaitu air yang istilahkan oleh ahli fikh sebagai air musta’mal”.

Pernyataan Syaikh Badruddin al-‘Aini ini senada dengan isi hadist yang sampaikan Al-Sa-ib bin Yazid:

ﺫَﻫَﺒَﺖْ ﺑِﻲْ ﺧَﺎﻟَﺘِﻲْ ﺇِﻟﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْﻳﺎَ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺇِﻥَّ ﺍﺑْﻦَ ﺃُﺧْﺘِﻲْ ﻭَﺟْﻊٌ ﻓَﻤَﺴَﺢَ ﺭَﺃْﺳِﻲْ ﻭَﺩَﻋَﺎ ﻟِﻲْ ﺑِﺎﻟْﺒَﺮَﻛَﺔِ ﺛُﻢَّ ﺗَﻮَﺿَّﺄَ ﻓَﺸَﺮِﺑْﺖُ ﻣِﻦْﻭُﺿُﻮْﺋِﻪِ

“Saya pergi bersama bibiku kepada Nabi SAW. Kemudian dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak saudariku sakit kepala. Lalu Nabi ﷺ mengusap kepalaku dan mendoakanku dengan keberkahan. Kemudian Nabi ﷺ wudhu dan aku minum dari air bekas wudhu Beliau lalu aku berdiri di belakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian Beliau”. (Shahih Muslim hadits no.2345).” [Umdatu as-Sariy, Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 3 hal 108-109].

Abdullah bin Hijzai asy-Syarqawi (w 1127) dalam karyanya Syaru Mukhtashar memberikan memberikan komentar tentang hadist di atas:

وهذا أنسب بما قصده الشارب من تبرك وحنئذ يكون دليلا للشافعية على طهارة الماء المستعمل وحمله على التدواى أو على أنه من خصائصه ﷺ أو على أنه مستعمل في التحديد أو في التثليث

“Hadist ini lebih tempatnya diarahkan pada orang yang meminum bekas air wudhu orang lain dengan tujuan mengharap keberkahan, karena itulah kalangan Syafi’iyah menjadikan hadits ini sebagai landasan bahwa air musta’mal itu suci. Selain itu hadits ini memuat tentang metode pengobatan yang dilakukan Nabi ﷺ, kekhususan yang hanya boleh dilakukan Belaiu atau menjelaskan bahwa air tersebut bekas digunakan dalam memperbarui wudhu atau dalam basuhan ketiga. [Syaru Mukhtashar al-Syamili al-Muhammadiyah li al-Imam at-Tirmidzi, Cet. Kasyidah hal 82].

Lebih lanjut al-Imam Badruddin al-‘Aini menambahkan: “Para ulama fikh berselisih pendapat mengenai hukum meminum air musta’mal. Menurut Abu Hanifah terdapat tiga pendapat: Najis mukhaffaf, najis mughaladzah dan suci tapi tidak bisa mensucikan. Pendapat yang terakhir ini adalah pendapat yang dipilih dan lebih masyhur di kalangan Hanafiyah. Menurut Imam Malik hukumnya suci dan dapat mensucikan, pendapat ini juga dianut oleh an-Kha’i, al-Hasan al-Bishri, az-Zuhri, Sufyan ats-Tsauri dan Abi Tsur. Sedangkan menurut asy-Syafi’i hukumnya suci tapi tidak mensucikan, ini adalah pendapat qaul jadidnya asy-Syafi’i. Imam Zafar bin Hudail mengatakan: “Bila air musta’mal itu berasal dari suatu yang suci, maka hukum air musta’mal tersebut suci sebaliknya bila air musta’mal berasal dari suatu yang digunakan menghilangkan hadats, maka hukumnya suci namun tidak bisa mensucikan”.

Pada dasarnya penggunakan sisa air wudhu itu lebih umum dibandingkan menggunakannya untuk sekedar minum, menghilangkan hadats dan membersihkan kotoran atau menggunakannya sebab bercampur dengan air mutlak.

Ringkasnya, hukum meminum sisa air wudhu tidak boleh sama sekali, menurut pendapat yang mengatakan bahwa air musta’mal itu najis. Diperbolehkan dalam segala hal pemakain, menurut pendapat yang mengatakan bahwa air musta’mal itu suci dan dapat mensucikan pada lainnya. Ketiga, boleh diminum, digunakan membuat adonan, memasak dan menghilangkan kotoran, menurut pendapat yang mengatakan bahwa air musta’mal itu suci tapi tidak bisa mensucikan pada lainnya. [Umdatu as-Sariy, Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 3 hal 108-109].

Oleh: Abdul Adzim

Waalahu A’lamu

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas