AMALAN MEMPERLEBAR SHIROT DI AKHIRAT

Di antara yang wajib di imani oleh orang Mukmin adalah percanya adanya Shiroth yaitu jembatan yang dijelaskan oleh banyak Ulama dalam kitab-kitabnya sebagai jembatan yang dibentangkan di atas api nereka, yang lebih tajam dari mata pedang dan lebih halus dari rambut, sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang shahabat Rasululullah ﷺ, Abu Sa’id al-Khudriy Radhiyallahu anhu:

بَلَغَنِي أَنَّ الْجِسْرَ أَدَقُّ مِنَ الشَّعْرَةِ وَ أَحَدُّ مِنَ السَّيْف

ِAbu Sa’id Radhiyallahu anhu mengatakan: “Aku diberitahu bahwa jembatan itu lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari mata pedang Jembatan akan dilewati oleh setiap insan setelah pengadilan di padang mahsyar.” [HR. Muslim, no. 183]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah potongan hadits yang panjang tentang kondisi pada hari kiamat:

…وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ، فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُهَا، وَلاَ يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ إِلَّا الرُّسُلُ، وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ: اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ …

“ … dan dibentangkanlah ash-shirath di antara kedua punggung neraka jahannam. Maka aku dan umatku adalah yang pertama kali melintasinya. Tidak ada seorang pun yang berbicara ketika itu kecuali para rasul. Ucapan para rasul ketika itu adalah,’Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah’ … “ [HR. Bukhari no. 806].

Dalam kitab Nuzhatu al-Majalis wa Mutakhabi an-Nafais, Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 2 hal 44, Syaikh Abdurrahman as-Shufuriya asy-Syafi’i (w. 894 H) mengatakan:

فائدة: رأيت في كتاب النورين في إصلاح الدارين من قال خلف كل فريضة أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له إلها واحدا وربا شاهدا لا معبود سواه ونحن له مسلمون جعل الله له الصراط أربعة أذرع أي عرض أربعة أذرع

(Sebuah faidah) : Aku melihat dalam kitab an-Nurain fi Ishlahi ad-Darain : ” Barang siapa setiap selesai shalat fardhu mengucapkan: “asyhadu an laa ilaaha illalloh wahdahu laa syariikalah ilaahan waa hidan warobban syaahidan laa ma’buuda siwah wanahnu lahuu muslimuun”. maka Allah menjadikan Shirothol Mustaqim empat Dziro”.

Maksudnya selebar empat dziro’, dziro’ artinya lengan bagian bawah, kalimat tersebut digunakan untuk menyebut ukuran kira-kira 40 cm.

Lalu ketika menjelaskan keadaan orang-orang yang akan melewati Shirot, Rasulullah ﷺ bersabda :

فَيَمُرُّ أوَّلُكُمْ كَالبَرْقِ قُلْتُ : بأبي وَأمِّي ، أيُّ شَيءٍ كَمَرِّ البَرقِ ؟ قَالَ : ألَمْ تَرَوا كَيْفَ يمُرُّ وَيَرْجِعُ في طَرْفَةِ عَيْن ، ثُمَّ كَمَرّ الرِّيحِ ، ثُمَّ كَمَرِّ الطَّيْرِ ، وَشَدِّ الرِّجَال تَجْري بهمْ أعْمَالُهُمْ ، وَنَبيُّكُمْ قَائِمٌ عَلَى الصِّراطِ ، يَقُولُ : رَبِّ سَلِّمْ سَلِّم

ْ ‘Orang pertama diantara kalian akan melewatinya dengan secepat kilat,’ Aku berkata, “Demi bapak dan ibuku !Apakah yang secepat kilat itu ? Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidakkah kalian dia lewat dan kembali lagi dalam waktu, kemudian ada secepat tiupan angin, ada yang seperti (terbangnya) burung dan ada yang seperti larinya lelaki tangguh. Mereka dibawa oleh amal perbuatan mereka. Pada hari itu, nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas shirât sambil berdo’a : Wahai Rabb, Selamatkanlah ! Selamatkanlah ! [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Waallahu A’lamu

Oleh: Abdul Adhim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.