Syekh Ibrahim bin Adham; Seorang Sufi yang Terjebak

asscholmedia.net – Dalam dunia sufistik, Ibrahim bin Adham bin Mansur bin Yazid bin Jabir (w. 160 H/777 M) merupakan salah satu tokoh sufi yang mashur di zamannya. Memiliki julukan Abu Ishaq, Al-‘Izli, At-Tamimi, Al-Khurasani, atau Al-Balkhi. Namanya kerap muncul di kalangan kaum sufi, sering disebut dalam karya-karya mistis para sufi ternama seperti Jalaluddin Rumi dalam “Matsnawi” atau Fariduddin  Attar dalam “Manthiqut Thair” dan “Tadzkiratul Auliya”, pengembaraan hidupnya sering menjadi perbincangan, kisah-kisahnya juga banyak ditulis dalam sejarah, biografinya tercatat dalam kitab-kitab (Hilyatul Auliya Juz 1 hal 367,  Al-Bidayah wal Nihayah Juz 10 hal 135, Al-I’lam Juz 1 hal 31 dan lain-lain).

Selain terkenal karena zuhud, alim, dan wara’, beliau juga seorang raja (sekitar tahun 730 M) dan terlahir dari trah bangsawan arab kaya raya di Balakh yaitu salah satu kota yang terkenal di Khurosan (sekarang bagian wilayah Afganistan). Ilmu agamanya banyak diperoleh di Baghdad (Iraq), Syam dan Hijaz. Di tiga negeri inilah beliau belajar ilmu agama pada sumbernya langsung.

Bacaan Lainnya

Dalam tradisi kesufian, Ibrahim bin Adham banyak diceritakan tentang tindakan keberanian, rendah hati, serta gaya hidupnya yang cukup bertolak belakang dengan kehidupannya semasa menjadi Raja Balkh. Setelah 14 tahun berkelana pada padang pasir akhirnya beliau sampai ke Makkah dan hidup sebagai tukang kayu dan berkebun. Terkadang Ibrahim bin Adham berjalan sampai jauh ke Selatan hingga ke wilayah Gaza. Semasa mengarungi perjalanan, ia sangat menghindari untuk mengemis dan lebih memilih bekerja banting tulang untuk membiayai kebutuhannya sehari-hari. Begitulah ia menjalani hidup menjadi seorang petapa yang mashur.

Makam Syekh Ibrahim bin Adham juga memiliki sujumlah makam yang ada diberbagai tempat. Menurut Ibnu Asakir menyatakan bahwa Ibrahim bin Adham dimakamkan di sebuah pulau di Bizantium, sementara sumber lain menyatakan makamnya ada di Tirus, di Baghdad, ada juga yang menyatakan bahwa makamnya ada di kota Nabi Luth. Pendapat lain juga mengatakan makam Ibrahim bin Adham terletak di dalam Gua Yeremia di Yerusalem, dan pendapat terakhir menyatakan bahwa makam Ibrahim bin Adham terletak dikota Jablah (sekitar pantai Suriah).

Mengarungi sisa umurnya dengan menjauhi perkara duniawi, ia menekankan akan pentingnya ketenangan dan meditasi dalam melakukan pelatihan pengendalian tubuh dan jiwa. Banyak peristiwa dialaminya terjadi di luar nalar akal manusia biasa akan tetapi didalamnya mengandung banyak hikmah. Salah satu kisah beliau berikut ini penulis kutip dari buku “Zaid, Hiburan Orang-orang Shalih, Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah”. Sengaja menyajikan kisah ini agar kita bisa mengambil pelajaran dari setiap kisah-kisah beliau dan tidak menganggap lebih baik dan benar dari siapapun bahkan dari hewan sekalipun.

Suatu ketika Ibrahim bin Adham berjalan di tepi pantai, tanpa sengaja ia melirik sepasang manusia berduaan dengan begitu mesranya. Dibenaknya terlintas bahwa sepasang kekasih itu sedang dimabuk cinta dan terlihat pula disekeliling mereka beberapa botol minuman yang baru saja dikosongkan isinya. Sesaat kemudian, Ibrahim bin Adham terkesima dengan pemandangan yang dia lihat sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia berpikir bertapa musykilnya sepasang manusia ini bermaksiat sedemikian mudahnya, seakan tak ada dosanya.

Tiba-tiba dalam jarak beberapa meter di depan mereka, gelombang laut besar menerjang pinggiran pantai. Menghanyutkan siapapun yang berdekatan, beberapa orang berusaha berdiri, berenang, dan berlari menjauh ke arah daratan. Namun nahas, lima lelaki tak kuasa diseret gelombang.

Seketika, lelaki mabuk yang sedang bermesran di pinggir pantai itu berlari kencang menuju ke arah lima orang yang hanyut. Ia berusaha menarik satu persatu lelaki yang hampir terbawa arus. Ibrahim bin Adham yang melihat kejadian itu hanya bisa tercengang, berdiri mematung ditempatnya. Antara tercengang dengan kejadian yang baru saja terjadi begitu cepat dan tidak bisa berenang.

Sementara si lelaki ini begitu cekatan berlari dan berenang. Tak membutuhkan waktu lama, si pemuda mabuk tadi berhasil menyelamatkan empat orang. Kemudian ia kembali. Namun bukan kembali ke perempuan yang sempat ditinggalkan sejenak, lelaki ini justru menuju ke arah Ibrahim bin Adham, tiba-tiba saja ia mengucapkan beberapa kalimat, padahal Ibrahim bin Adham tidak bertanya sepatah katapun.

“Tadi itu aku hanya bisa menyelamatkan empat nyawa, sementara kau seharusnya menyelamatkan sisa satu nyawa yang tidak bisa aku selamatkan”.

Belum selesai kebingungan Ibrahim bin Adham, lelaki ini melanjutkan, “Perempuan yang di sebelahku itu adalah ibuku”. Ia memberikan alasan, seolah ia mampu membaca semua apa yang dipikirkan oleh Ibrahim bin Adham.

Kejadian sederhana itu mampu menyadarkan Ibrahim bin Adham. Seketika itu hati beliau dipenuhi sesal dan taubat. Lelaki yang sempat dianggap sebagai ahli maksiat ternyata jauh lebih baik dibandingkan beliau yang masyhur ahli ibadah. Kejadian itu begitu membekas dalam hidup Ibrahim bin Adham hingga wafatnya. Jika seorang sang sufi seperti Ibrahim bin Adham saja bisa terjebak dalam perangkap itu, bagaimana dengan kita manusia yang hidup di akhir zaman?

Betapa seringnya kita berada pada posisi menjustifikasi manusia atas sedikit fakta yang kita tahu tentang cuplikan perjalanan hidupnya, kita menuduhnya dengan stigma yang sangat tidak pantas.

Tatkala seorang teman yang tak menyapa ketika berpapasan dengannya sekali waktu, seketika kita beropini bahwa ia sombong. Padahal dibalik itu, ia sedang dirundung masalah besar, bersedih, atau juga tak melihat kita.

Di saat seorang teman tak memberi kita pinjaman uang, seketika kita menduga ia pelit. Padahal dibalik itu, ia sedang berusaha untuk mendapatkan banyak uang untuk kebutuhan ibunya atau untuk membayar hutang-hutangnya.

Di saat seorang karib tak memenuhi undangan kita, terlintas dibenak jika ia seorang yang tak menghargai. Padahal dibalik itu, dia mendapatkan sebuah tanggungan yang harus segera diselesaikan di hari itu juga sementara ia sungkan untuk memohon izin dikarenakan penghormatannya.

Penyebab retaknya ukhuwah dengan sesama salah satunya disebabkan urusan salah persepsi, lalu melahirkan saling mencurigai dan saling bersu’udzon. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori no. 6064 dan Imam Muslim no. 2563, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena berprasangka buruk adalah sedusta-dustanya ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang brsaudara ”.

Betapa tak bermanfaatnya berburuk sangka, menstigmisasi, dan menghakimi seseorang dari apa yang sedikit pengetahuan kita tentang dia. Ketika seseorang berburuk sangka dan sangkaannya itu benar, maka sama sekali ia tak akan mendapat pahala apapun. Sementara jika ia berburuk sangka dan sangkaannya itu salah, maka pasti atasnya perbuatan dosa. KH. Nawawi Abdul Jalil Sidogiri berdauh, “Husnudzon lebih baik dibandingkan su’udzon, meski sangkaan baiknya ternyata salah dan sangkaan jeleknya ternyata benar”.

Penulis: M. Rofi’i

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.