MENGAMBAR KILAT DAN PETIR DALAM BINGKAI KETAKUTAN DAN HARAPAN

banner 160x600
banner 468x60

Saat guntur bergemuruh disertai kilat berkelakar, maka ada dua kemungkinan yang tergambar dalam benak kita. Pertama kita cemas jika ada halilintar yang menyambar karena petir biasanya muncul setelah kilat berpendar mengurat langit. Kedua, ada harapan yang menyungging senyum semoga rinai-rinai hujan turun membasahi gerah kemarau yang pengap.

Seperti ada sosok ketakutan dan keinginan yang mejelma dalam satu raga atau ada gigil ketakutan di negeri ini dan senyum keinginan di negeri orang.

Seperti ucapan salah satu jawara Arab yang menyanjung pedangnya: “Pedang ini adalah kemenangan untuk para kekasihku dan kematian untuk semua musuh-musuhku.”

Atau seperti cerita yang pernah disampaikan seorang kepala negara kepadaku pada tahun 1953 di sebuah dusun antara Thaif dan Makkah tentang seorang wanitah sholihah penghafal al-Qur’an yang bernama Aminah.

Wanita itu memiliki dua putri yang sama-sama telah menikah dan tinggal di rumah suaminya masing-masing. Salah satu dari suami putrinya berkerja sebagai petani dan suami dari putri yang lain bekerja sebagai pembuat tungku dari tanah liat.

Pada suatu hari Aminah mengatakan kepada suaminya. “Tidakkah kau menginginkan pergi menengok keadaan putri-putri kita?”

“Iya besok, pagi-pagi sekali aku akan berangkat menengok putri-putri kita. Aku rindu pada mereka berdu. Lama semenjak mereka menikah, aku tidak bersua dengan mereka.” Jawab sang suami.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali suami Aminah berangkat kerumah putri-putrinya. Pertama kali yang ia singgahi adalah putrinya yang bersuamikan petani.

“Bagaimana kabarmu putriku, suamimu, kehidupan dan mata pencarian keluargamu?” Tanya suami Aminah.

Putri Aminah menjawab: “Alhamdulillah Ayahada! Kabarku dan suamiku baik, aku bersamanya juga baik dan rukun tapi doakan semoga Allah ﷻ segara menurun kami hujan-Nya karena kami sedang bercocok tanam dan menanti hujan datang.”

Maka dengan hati tulus, sang ayah mengangkat tangannya sembari berdoa:

“Ya Allah! Aku memohon padamu, turunkan hujan untuk mereka”.

Selelai dari satu putrinya, suami Aminah berpindah mengunjungi putrinya yang lain.

Sesampainya dirumah sang putri, suami Aminah bertanya: “Bagamana kabarmu dan kabar suamimu putriku?”.

“Alhamdulillah kabarku dan suamiku baik Ayahanda, namun aku berharap ayah mau mendoakan kami agar Allah ﷻ tidak segera menurunkan hujan beberapa hari kebelakang karena kami saat ini sedang membuat tunggu dari bahan tanah liat untuk kami jual ke pasar dan jika hujan turun maka rusaklah semua tungku yang kami buat.” Jawab putri sang putri.

Sang ayah dengan hati tulus juga mendoakan putrinya yang satu sembari berkata:

“Ya Allah! Jangan Kau turunkan hujan beberapa ini untuk mereka”.

Setelah itu, suami Aminah kembali pulang ke rumahnya menceritakan semua kejadian dan keadaan putri-putri dan menantunya pada Aminah istrinya namun masih ada suatu yang menganjal di hatinya saat mengingat doa yang pernah dipanjat pada masing-masing putrinya. Bak buah simalakama, satu dari doa yang telah diucapkan akan menjadi kebaikkan pada salah satu putrinya tapi disisi lain salah satu doanya akan menjadi petaka bagi putrinya yang lain begitu juga sebaliknya.

Aminah berkata: “Tenanglah suamiku! Dengarkan apa yang akan aku katakan padamu. Sesungguhnya apa yang kau cemaskan barusan tidak akan menjadi kenyataan dan Allah ﷻ Yang Maha Suci kuasa untuk mengabulkan semua doamu.”

“Seharusnya aku harus berbuat apa istriku!” Sahut suami Aminah lirih.

Aminah pun jawab: “Tidakkah kau membaca firman Allah ﷻ:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُزْجِيْ سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهٗ ثُمَّ يَجْعَلُهٗ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖ ۚ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ جِبَالٍ فِيْهَا مِنْۢ بَرَدٍ فَيُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَصْرِفُهٗ عَنْ مَّنْ يَّشَاۤءُ ۗ …. ﴿النور : ۴۳﴾

“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki………. (QS. An-Nur: 43).

Mendangar jawab Aminih yang menyejukkan, suami Aminah seketika bersujud syukur karena Allah ﷻ telah memberikannya rezeki istri shalihah yang mampu menuntut dirinya pada kebanaran masalah agama.

Itulah kisah inpspiratif yang menggungah jiwa setiap seorang mau membaca dan mendengarkannya. Kisah antara cemas ketakutan dan keinginan yang terbelenggu saat melihat petir bergelegar yang tidak lain merupakan perwujudan arti tersirat dari firman Allah ﷻ:

هُوَ الَّذِيْ يُرِيْكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَّطَمَعًا وَّيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ ۚ ﴿الرعد : ۱۲﴾

Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu, yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menjadikan mendung.” (QS. Ar-Ra’d: 12).

Oleh: Abdul Adzim

Waallahu A’lamu
…………………………………………………………………………

Tulisan ini dikutip dari Syaikh as-Sayyid al-Allamah Asy-Sya’rawi dalam sebuah vedio ceramahnya, Tokoh yang memiliki nama lengkap Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi salah satu ulama dunia yang cukup berpengaruh pada abad ke-20. Seorang Hafidz al-Qur’an sejek usia 11 tahun dan masih keturunan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Pakar bahas Arab dan Sastra, Seorang Mufassir al-Qur’an, dai ulung dan penulis produktif dengan segudang karya. Lahir pada tanggal 17 Rabi’ul al-tsani 1329 H/ 15 April 1911 M, di Desa Daqadus, Provinsi ad-Daqahliyah, Mesir. Wafat pada usia 87 pada tanggal 22 Shofar 1419 H/17 Juni 1998 M dan di desa kelahirannya.

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik