MENYOAL HUBUNGAN “SELALU DALAM KEADAAN SUCI” DENGAN “LUASNYA REZEKI”

banner 160x600
banner 468x60

Di edisi kemarin, Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Muraqi al-Ubudiyah, yang dikutip dari Syaikh al-Bujairimiy sempat mengutarakan dalil disunnahkannya selalu dalam kaadaan suci di antaranya sabda Nabi Muhammad ﷺ:

«دُمْ عَلَى طَهَارَةٍ يُوَسَّعُ عَلَيْك الرِّزْقُ»

“Senantiaskanlah dalam keadaan wudhu’ niscaya rizki akan diluaskan bagimu”.

Hadits ini dalam benak saya masih menyisakan sebuah pertanyaan: “Apa hubungannya ‘selalu dalam keadaan suci’ dengan ‘diluaskan rezeki’?”. Karena penasaran, saya mencoba membuka beberapa kitab para ulama. Barang kali di sana ada jawaban yang bisa mengobati rasa penasaran saya.

Pertama, saya menemukan hadits tersebut di dalam kitab Kanzu al-‘Amal fi Sunani al-Aqwal wa al-Af’al karya ‘alauddin Ali bin Hisamuddin al-Hindi al-Barhanafuriy yang di kenal dengan sebutan al-Muttaqi al-Hindi al-Daniy al-Makkiy (w. 975 H) dengan redaksi hadits yang panjang, di antara penggalan haditsnya berbunyi seperti hadits teks di atas.

Dalam kitab ini al-Muttaqi memulai hadits dengan pernyataan Imam Jalaluddin as-Suyuthi yang berkata: “Aku menemukan hadits ini di sebuah tulisan milik Syaikh Syamsuddin bin al-Qamah dalam kitab Majmu’nya yang diperoleh dari Abi al-‘Abbas al-Mustaghfiriy, beliau berkata: “Pada suatu hari saya hendak menuntut ilmu ke Mesir pada al-Imam Abi Hamid al-Mishriy, sesampai di Mesir saya memohon pada al-Imam Abi Hamid agar sudi meriwayatkan hadits dari riwayat Khalid bin al-Walid ra namun beliau malah memintaku berpuasa selam setahun terlebih dahulu, baru kemudian beliau sudi meriwayatkan hadist tesebut dengan sanad dari para gurunya hingga sampai pada Khalid bin Walid ra, berkata: “Datang seorang laki-laki pada Nabi ﷺ sembari berkata: “Sesungguh hamba ingin bertanya tentang urusan dunia dan akhirat”. Nabi ﷺ bersabda: “Mulailah bertanya tentang apa yang ada pada dirimu”. Laki-laki itu kemudian bertanya:

يا نبي الله! أحب أن أكون أعلم الناس

“Wahai Nabi Allah! Aku ingin menjadi paling alimnya manusia.” Nabi ﷺ menjawab:

اتق الله تكن أعلم الناس

“Bertakwalah pada Allah ﷻ, nicaya kau akan menjadi paling alimnya manusia”. – hingga sampai pada pertanyaan:

أحب أن يوسع علي في الرزق

“Hamba ingin rezeki hamba diluaskan”.-hingga akhir hadits.

Kedua, dalam tafsir Hadaiqu al-Rawhi wa ar-Rayhan fi Rawabiy Ulumi al-Qur’an karya Syaikh Muhammad Amin bin Abdillah al-Uramiy al-‘Alawiy al-Hararay asy-Syafi’i. Ulama produktif yang baru wafat pada 7 Rabiul Awwal 1441 H tahun kemarin ini, saat menafsri Ayat:

إِنَّا لَمُغْرَمُونَ، بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ

(sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami tidak9 mendapat hasil apa pun.” (QS. Al-Waqi’ah:66-67) menyatakan: “Bahwa rezeki itu bisa terhalang disebabkan dosa-dosa kemaksiatan yang dilakukan manusia.”

Dalam hadits disebutkan:

«ما من سنة بأمطر من أخرى، ولكن إذا عمل قوم بالمعاصي حول الله ذلك إلى غيرهم، فإذا عصوا جميعا صرف الله ذلك إلى الفيافي والبحار»

Artinya: “Tidak dari satu tahun turun hujan berbeda dengan tahun yang lain, tetapi bila satu kaum berbuat kemaksiatan, maka Allah ﷻ akan mengalihkan hujan itu pada lainnya. Ketika mereka semua berbuat kemaksiatan, maka Allah ﷻ akan mengalihkan hujan itu pada gurun dan gunung-gunung.”

Hadits Nabi ﷺ:

«دُمْ عَلَى طَهَارَةٍ يُوَسَّعُ عَلَيْك الرِّزْقُ»

“Senantiasakanlah dalam keadaan wudhu’ niscaya rizki akan diluaskan bagimu”.

Dari dua hadits ini bisa disimpulkan, jika selalu dalam keadaan suci dapat meluaskan rezeki, maka melakukan kebalikannya dapat menghalangi datangnya rezeki. Rezeki itu ada yang dhahir (tampak) ada yang bathin (tidak tampak) begitu juga suci dan najis. Maka dari itu, bagi pencari rezeki secara mutlak, harus senantiasa dalam keaadansuci.

Bila kalian bertanya: “Bagaimana dengan ulama-ulama Salaf, kebanyakan dari mereka fakir padahal mereka selalu dalam keadaan suci?

Aku jawab: “Benar, tapi ulama-ulama Salaf dalam memperoleh rezeki maknawi (tidak tampak) lebih banyak dari pada ulama-ulama Khalaf dan rezeki maknawi adalah inti dari semua rezeki yang anugerahkan pada manusia. Mereka para ulama Salaf tampak fakir dalam urusan rezeki dhahir (yang tampak di mata) karena hakikinya kesempurnaan rasa butuh mereka (pada Allah ﷻ) sebagaimana yang pernah diminta Nabi ﷺ dalam doanya:

«اللهم أغنني بالافتقار إليك»

“Ya Allah! Kayakan aku dengan butuh padamu”

Mereka mencegah diri dari kaya Shuwariy (yang tampak di mata) karena untuk menselaraskan kehidupan dhahir batin mereka. Mereka itu paling kayanya orang-orang kaya yang berwujud orang-orang fakir sedang yang selain mereka adalah paling fakirnya orang fakir yang berwujud orang-orang kaya. Maka sesungguhnya orang-orang yang diberi rezeki adalah orang yang dikaruniai rezeki makanan ruh seperti ilham (intuisi), ulum (pengetahuan-pengetahuan dan fuyud (limpahan-limpahan ilmu ma’rifat) sedangkan orang-orang yang terhalang rezekinya adalah orang-orang yang terhalang dari semua itu.

Ketiga, dalam kitab Ruhu al-Bayan fi tafsiri al-Qur’an karya Syaikh Ismail Haqqi al-Hanafiy al-Khalwatiy al-Barousawiy (w. 1127 H) mengatakan: “Tidakah kau lihat bahwa Nabiyullah Ibrahim al-Khalil as tidak terbakar oleh api yang dinyalakan Namrud bahkan mendapat rezeki yang agung dari sisi Allah ﷻ Yang Maha Cinta karena sesungguhnya setiap kenikmatan yang dhahir (tampak) adalah untuk orang-orang yang dekat dengan Allah ﷻ namun segala kenikmatan dhahir dirasa kerap berlawanan dengan kenikmatan batin yang dimiliki mereka. Hakikatnya, semua balasan (pahala) bagi mereka akan diberikan kelak di akhirat sedang dunia ini terlalu sempit tidak akan mampu menampungnya.”

Aku memohon pada Allah ﷻ, semoga kita semua diberi ketekunan untuk mengamalkan sunnah selalu dalam keadaan suci dan aku memohon perlindungan pada Allah ﷻ semoga kita semua dijauhkan dari sifat anti pati dan malas karena sesungguhnya malas berbuat kebajikan menjadi penyebab kelalaian dan terhalang dari Allah ﷻ sebagaimana beramal kebajikan dapat menyebabkan musyahadah (menyaksiakan kehadiran Dzat Yang Maha Suci) dan tersingkapnya segala sekat penghalang. Maka Sesungguh Tajalliyatu al-Wujudiyah (manifestasi eksistensi keberadaan Allah ﷻ) dapat melahirkan Tajalliyatu al-Musyahadah (manifestasi penyaksian hadirnya Allah ﷻ). Dan dari penjelasan ini rahasia yang tersirat dalam hadits:

«دُمْ عَلَى طَهَارَةٍ يُوَسَّعُ عَلَيْك الرِّزْقُ»

“Senantiasakanlah dalam keadaan wudhu’ niscaya rizki akan diluaskan bagimu.” telah terkuak. Artinya, bila sesuci dhahir (tampak) dapat menarik rezeki yang kasat mata, maka sesuci batin (tidak terlihat) juga bisa menarik rezeki yang tersirat. Kesimpulannya bahwa setiap raga dan ruh mempunyai asupan. Asupan raga adalah sesuci dhahir dan asupan ruh adalah sesuci batin yang akan tampak di kehidupan mendatang karena ruh tidak pernah mati dan bisa merasakan sesuatu tampa batas baik di dunia maupun akhirat.

اللهم اجعلنا من خلص العباد وثبت أقدامنا في ظريق الرشاد بحق النون والصاد

Ya Allah! Jadikan kami bagian dari hamba hamba yang selamat dan teguhkan kaki-kaki kami berjalan di jalan petujuk dengan rahasia kebenaran huruf Nun dan Shad.

Waallahu A’lamu

Oleh: Abdul Adhim

Referensi:

📒Muraqi al-Ubudiyah ala Matni Bidayatu al-Hidayah| Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawiy hal 46.q

📒 ‘Alauddin Ali bin Hisamuddin al-Hindi al-Barhanafuriy| Kanzu al-‘Amal fi Sunani al-Aqwal wa al-Af’al| Mu’sasatu al-Risalah jilid 16 hal 127

📒 Syaikh Muhammad Amin bin Abdillah al-Uramiy al-‘Alawiy al-Hararay asy-Syafi’i| Hadaiqu al-Rawhi wa ar-Rayhan fi Rawabiy Ulumi al-Qur’an| Daru Thawqi an-Najah jilid 18 hal 395

📒 Syaikh Ismail Haqqi al-Hanafiy al-Khalwatiy al-Barousawiy| Ruhu al-Bayan fi tafsiri al-Qur’an| Darul al-Kutub al-Ilmiyah juz 7 hal 170

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas