PENTINGNYA SELALU DALAM KAADAAN BERWUDHU, BERIKUT HIKMAHNYA

Ada yang bertanya, apa pentingnya seseorang selalu dalam keadaan berwudhu (suci). Bukankah hal itu sangat memberatkan bagi sebagian orang dan apa hikmah yang tersirat di dalamnya?

Daimul wudhu atau selalu dalam keadaan suci, memang begitu memberatkan terlebih di era milenial sekarang. Tapi bagi orang yang senantiasa ingin dekat dengan Tuhannya atau Kekasihnya hal itu malah menjadi sebuah keharusan dan kebanggaan tersendiri agar Sang Tuhan atau Kekasihnya selalu betah berada didekatnya.

Bacaan Lainnya

Berikut alasan dan hikmah yang disampaikan ulama tentang pentingnya selalu dalam keadaan berwudhu :

Dalam kitab Muraqi al-Ubudiyah, Syaikh Nawawi al-Bantani mengutip perkataan Syaikh al-Bujairimiy dari Sayyidiy Mushthafa al-Bakriy dalam kitab al-Waahiyah al-Jaliyah fibThariqi al-Khalwatiyah mengatakan: Disunnahkan selalu dalam keadaan berwudu karena terdapat hadits qudsi yang menjelaskan:

«يَا مُوسَى إذَا أَصَابَتْك مُصِيبَةٌ وَأَنْتَ عَلَى غَيْرِ وُضُوءٍ فَلَا تَلُومَنَّ إلَّا نَفْسَك».

“Wahai Musa apabila engkau tertimpa suatu musibah padahal engkau tidak dalam keaadaan berwudu’ maka jangan engkau menyalahkan atau mencela orang lain kecuali dirimu sendiri.”

Nabi Muhammad ﷺ juga pernah bersabda:

«دُمْ عَلَى طَهَارَةٍ يُوَسَّعُ عَلَيْك الرِّزْقُ»

“Senantiaskanlah dalam keadaan wudhu’ niscaya rizki akan diluaskan bagimu”.

Sementara dalam kitab al-Bariqah al-Muhammadiyah fi Syarhi ath-Thariqatu al-Muhammadiyah, Syakh Abi Said Muhammad bin Mushthafa al-khadamiy (w. 1176 H) mengutib dari sebagian ulama menyebutkan:

من دوام على الوضوء أكرمه الله تعالى بسبع خصال، الأول: ترغيب الملائكة في صحبته، الثاني: لايزال القلم رطبا من كتابة ثوابه، الثالث: تسبيح أعضائه وجوارحه، الرابع: لاتفوته التكبير الأولى الخامس: إذا نام بعث ملكا يحفظه من شر الثقلين، السادس: يسهل الله عليه سكرات الموت، السابع: أن يكون في أمان الله تعالى ما دام على الوضوء.

“Barang siapa yang selalu dalam keadaan berwudhu, maka Allah akan memuliakannya dengan tujuh perkara: 1- Para malaikat senang dalam menemaninya. 2- Qalam tidak pernah kering menulis pahalanya. 3- Semua aggota badannya melantunkan tasbih. 4- Tidak akan pernah ketinggalan dalam takbiratul ihram saat sholat bersama imam. 5- Ketika tidur Allah malaikat mengutus para malaikat agar menjaganya dari kejelekan Manusia dan Jin. 6- Allah akan memudahkannya saat sakratul maut. 7- Selalu berada dalam lindungan Allah selama ia masih dalam keadaan punya wudhu.

Lalu Syaikh Abu al-Laits Nashru bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim as-Samarqandiy (w. 373 H) menambahkan dalam kitabnya Bustanu al-‘Arifin: “Sayogyanya bagi manusia, bila hendak tidur berwudhu terlebih dahulu karena Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، لاَ يَسْتَيْقِظُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَلاَنًا، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا، وَإِنِ اسْتَطَاعَ إِنْسَانٌ أَنْ يَكُوْنَ أَبَدًا عَلٰى الطَّهَارَةِ فَلْيَفْعَلْ.

“Barang siapa yang tidur dalam keadaan suci, maka ada satu malaikat ikut tidur di pakaian atau kain yang menempel di badannya. Tidaklah ia terbangun sesaat pada malam hari melainkan malaikat itu berkata: “Ya Allah, berilah ampunan bagi hamba-Mu Fulan, sebab ia tidu dalam keadaan suci. Bila manusia mampu selamanya dalam keadaan suci, maka lakukanlah.”

Dari Nabi ﷺ sesungguhnya beliau bersabda kepada shohabat Anas bin Malik:

إِنْ أَتَاكَ المَوْتَ وَأَنْتَ عَلٰى اْلوُضُوءِ لَمْ تَفَتْكَ الشَهَادَةُ

“Jika kematian datang kepadamu sedangkan kamu sedang punya wudlu maka syahadat tidak akan hilang darimu.”

Dan dikatakan sesungguhnya arwah-arwah orang mukmin itu naik ke langit jika ia tidur, maka roh yang suci diperbolehkan bersujud dan yang tidak suci tidak diperbolehkan.

Waallahu A’lamu

Oleh: Abdul Adhim
Tenaga Pendidik Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan

Referensi

📒Muraqi al-Ubudiyah ala Matni Bidayatu al-Hidayah| Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawiy hal 46.

📒Syakh Abi Said Muhammad bin Mushthafa al-khadamiy| al-Bariqah al-Muhammadiyah fi Syarhi ath-Thariqatu al-Muhammadiyah juz 5 hal 232.

📒Syaikh Abu al-Laits Nashru bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim as-Samarqandiy| Bustanu al-‘Arifin| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 56.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

1 Komentar