DAIMUL WUDHU’, TRADISI ULAMA YANG SUDAH JARANG DIAMALAKAN

Dalam letiratur ulama, banyak dikisahkan tentang kebiasaan Salafu ash-Shalihin mengamalkan Daimul Wudhu’ (selalu dalam keadaan suci) bahkan hingga akhir hayat mereka. Mulai dari kalang Sahabat, Tabi’in dan Tabi’in Tabi’in sampai pada generasi ulama berikutnya. Mereka seperti berlomba-lomba demi mendapatkan predikat orang mukmin sejati sebagaimana disinyalir Baginda Nabi ﷺ dalam haditsnya:

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ”

Bacaan Lainnya

“Istiqomahlah kalian dan kalian tidak akan mampu beristiqomah secara sempurna, serta ketahuilah bahwa sesunguhnya sebaik-baik amalan kalian adalah sholat, dan tidak ada (orang yang bisa) menjaga wudhu kecuali seorang mukmin”. (HR. Malik, Ahmad, Ibnu Majjah,dan Ad Darimi dari riwayat Tsauban dari Salim bin Abi Al-Ja’di dari Manshur dari Sufyan dan Waki’ dari Ali bin Muhammad).

Menurut Syaikh Ali bin Sulthon Muhammad al-Qariy (w. 1014 H) dalam kitabnya (Mirqoti al-Mafatih Syarh Misykatu al-Mashobih, Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz. 2 hal. 18-19), yang di maksud sabda Nabi ﷺ: “Tidak ada (orang yang bisa) menjaga wudhu kecuali seorang mukmin” adalah secara hakekat dan secara hukum agar mencakup pada orang yang tidur dalam keadaan berwudhu. Sedangkan arti yang tersirat dalam hadits tersebut adalah “Tiada yang melanggengkan wudhu kecuali orang mukmin yang sempurna dalam keimanannya, senantiasa menyaksikan dengan hati dan badannya dalam kehadirat Rabbnya, karena hadir dalam kehadirat yang suci tanpa kesucian Hissi maka jauh dari tata krama bahkan berhak untuk diusir dari pintu.”

******

Diceritakan bahwa tidak sedikit dari kalangan Sahabat Nabi ﷺ yang membiasakan diri Daimul Wudhu, di antaranya Abdullah bin Umar bin Khattab ra sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut:

512- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زِيَادٍ ، عَنْ أَبِي غُطَيْفٍ الْهُذَلِيِّ , قَالَ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي مَجْلِسِهِ فِي الْمَسْجِدِ ، فَلَمَّا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ , قَامَ فَتَوَضَّأَ فَصَلَّى ، ثُمَّ عَادَ إِلَى مَجْلِسِهِ ، فَلَمَّا حَضَرَتِ الْعَصْرُ , قَامَ فَتَوَضَّأَ وَصَلَّى ، ثُمَّ عَادَ إِلَى مَجْلِسِهِ ، فَلَمَّا حَضَرَتِ الْمَغْرِبُ , قَامَ فَتَوَضَّأَ وَصَلَّى ، ثُمَّ عَادَ إِلَى مَجْلِسِهِ ، فَقُلْتُ : أَصْلَحَكَ اللَّهُ ، أَفَرِيضَةٌ ، أَمْ سُنَّةٌ , الْوُضُوءُ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ ؟ قَالَ : أَوَفَطِنْتَ إِلَيَّ ، وَإِلَى هَذَا مِنِّي ؟ فَقُلْتُ : نَعَمْ ، فَقَالَ : لاَ , لَوْ تَوَضَّأْتُ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ ، لَصَلَّيْتُ بِهِ الصَّلَوَاتِ كُلَّهَا ، مَا لَمْ أُحْدِثْ ، وَلَكِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ يَقُولُ : مَنْ تَوَضَّأَ عَلَى طُهْرٍ ، فَلَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ ، إِنَّمَا رَغِبْتُ فِي الْحَسَنَاتِ.

Telah meriwayatkan hadist pada kami Muhammad bin Yahya, Abdullah bin Yazid al-Muqri’u, Abdurrahman bin Ziyad dari Abi Ghuthaifi al-Hudzaliy, beliau berkata: “Aku telah mendengar terhadap Abdullah bin Umar bin Khattab ra di majlis (pengajian)nya di Masjid. Ketika sholat telah dikumandangkan, Abdullah bin Umar bin Khattab ra berdiri lalu mengambil wudhu kemudian melaksanakan sholat lalu kembali lagi ke majisnya. Ketika waktu sholat Ashar telah dikumandangkan, beliau berdiri lalu mengambil wudhu kemudian melaksanakan sholat lalu kembali lagi ke majisnya. Ketika waktu sholat Maghrib telah dikumandangkan, beliau berdiri lalu mengambil wudhu kemudian melaksanakan sholat lalu kembali lagi ke majisnya. Lantas aku berkata dan bertanya: “Semoga Allah ﷻ menjadikan Anda lebih baik, apakah wudhu’ yang Anda lakukan setiap Anda melakukan sholat. Wudhu fardu atau sunnah? Abdullah bin Umar ra berkata: “Apakah engkau ingin mengerti dan ingin tahu hal ini dariku? Aku berkata: “Ya”. Abdullah bin Umar ra menjawab: “Bukan (wudhu fardhu atau sunnah), bila aku wudhu kerena hendak melaksanakan sholat Subuh, maka aku gunakan wudhu itu untuk sholat Subuh dan semua sholat lainnya selagi aku tidak berhadats (batal) tapi aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang berwudhu dalam keadaan masih suci, maka ditulis baginya sepuluh kebaikan.” (HR. Ibnu Majah dari kitab Sunan Ibnu Majah no. 512).

Dalam hadits lain, Bilal bin Rabah juga dikisahkan sebagai salah satu sahabat yang senantiasa mengamalkan amalan ini sebagaimana yang termaktub dalam hadits:

1098- حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ أَبِي حَيَّانَ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ ‏ “‏ يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَىَّ فِي الْجَنَّةِ ‏”‏‏.‏ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ‏.‏

Telah meriwayatkan hadits pada kami, Ishak bin Nashir, Abu Usamah, Abi Hayyan dari Abi Zur’atah dari Abi Hurairah ra: Bahwa pada suatu hari, Rasulullah ﷺ bertanya pada Bilal bin Rabah setelah melaksanakan sholat faja (Subuh): “Wahai Bilal, ceritakan padaku amal apakah yang engkau kerjakan dalam islam hingga aku mendengar suara langkah kakimu dalam surga berada di depanku? Bilal menjawab: “Ya Rasulallah, aku tidak pernah melakun amalan yang aku harapkan dariku, bahwa sesungguhnya aku tidak pernah bersuci (melakukan wudhu) setiap saat, siang dan malam kecuali setelah itu aku melakukan shalat yang telah diperintahkan untuk aku lakukan.”

Begitu juga Said bin al-Musayyab dari kalangan Tabi’in di kisahkan, selama 50 tahun tidak pernah ketinggalan takbiratul ihramnya imam, tidak pernah melihat telengkuk orang yang sholat di depannya karena selalu ada di shof pertama dan selam 50 tahun pula melakun sholat Subuh dengan wudhu sholat Isya’ (Waffayatu al-A’yan wa Anba’u Abna’i az-Zaman juz. 2 hal. 313, Darul al-Kutub al-Ilmiyah).

Syaikh Jalaluddin Abdurrahman Abu Bakar as-Syutyhiy (w. 911 H) dalam kitabnya (ar-Rasail al-‘Asyrah hal. 269 Daru al-Kutub al-Ilmiyah) dari riwayat al-Khatib dari Hammda bin Yunus dari Asad bin Amr mengisahkan: “Bahwa Imam Abu Hanifah ra selama 40 tahun selalu menjaga sholat Subuh dengan wudhu sholat Isya’, Abu Hanifah ra di mayoritas malamnya diisi dengan membaca al-Qur’an hingga khatam dalam satu rakaat sholatnya dan dikatakan sering terdengar isak tangisan beliau saat membaca al-Qur’an di malam hari hingga para tetangganya ikut merasa haru dan iba. Dalam satu riwayat dikatakan, bahwa Abu Hanifah ra selalu mengakhatam al-Qur’an di tempat dimana beliau meninggal dunia sebanyak 70 ribu kali.”

Serta masih banyak kisah dari ulama-ulama lain yang belum sempat penulis sebutkan satu persatu seperti Imam Malik bin Anas, Abdurrahman bin al-Aswad an-Nakha’i, Ibnu Abi Abi ad-Dunya dan lainnya.

Maka cukuplah sekiranya kisah-kisah di atas membuktikan bahwa para Salafu ash-Shalih benar-benar selalu hidup dalam keadaan suci agar senantiasa jiwa dan raga bisa hadir bersama Allah ﷻ disetiap waktu dan keadaan serta memberi tauladan bagi kita selaku umat Islam pewaris para Nabi ﷺ dan ulama agar mentradisikan kembali amalan yang mulia ini.

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adhim
Tenaga Pendidik Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.