Jangan Sembarangan Meletakkan Logo NU dan Ini Pesan Habib Ali Kwitang

banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net – Sebagai warga NU, sudah sepatutnya untuk selalu mengingat dan mengenang semua perjuangan yang telah dilakukan oleh para kiai-kiai NU terdahulu. Membaca sejarahnya, teladani pituahnya dan mengikuti manhajnya. Salah satunya adalah digagasnya logo NU yang memiliki sejarah panjang dan unik serta penuh kharismatik.

Nu dikenal sebagai ormas yang memiliki nama-nama legendaris seperti; simbol jagat, bintang sembilan, juga dikenal sebagai ormas yang memiliki lambang bumi. Lambang-lambang itu memiliki makna yang terus menemukan relevansi. Simbol tersebut juga mengalami perkembangan sesuai dengan dinamika zaman. Simbol makna Kedalaman NU ini dapat dilihat dari proses mempertimbangkannya, yang memang mengatasi kondoisi-kondisi manusiawi, sehingga makna yang disebarkan juga melewati zaman.

Melalui hasil istikharah KH. Ridwan Abdullah pada Muktamar NU ke-2 di Hotel Muslimin Peneleh Surabaya, 9 Oktober 1927 (Robiul Awal 1346) inilah lambang NU dicetuskan, digambar langsung oleh beliau dan di acara itulah pertama kali bendera NU dikibarkan dengan Lebar 4 meter dan Panjang 6 meter, ini merupakan bentuk asli lambang NU. Pada muktamar  ini pula, Kiai Raden Adnan dari Solo selaku pimpinan sidang meminta KH. Ridwan Abdullah untuk menjelaskan arti lambang NU.

Secara rinci Kiai Ridwan Abdullah menjelaskan semua isi yang terdapat dalam lambang NU itu. Beliau menjelaskan: “Lambang tali adalah lambang agama. Tali yang melingkari bumi melambangkan Ukhuwah Islamiyah kaum muslimin seluruh dunia. Untaian tali yang berjumlah 99 melambangkan Asmaul Husna. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Besar Muhammad SAW. Empat bintang kecil samping kiri dan kanan melambangkan Khulafaur Rasyidin, dan empat bintang di bagian bawah melambangkan madzhabul arba’ah (empat madzhab). Sedangkan jumlah semua bintang yang berjumlah sembilan melambangkan Wali Songo.”

Di balik citra dan kewibawaan lambang NU karya KH Ridwan Abdullah 1884-1962 (Dalam buku Antologi Sejarah, Istilah, Amaliyah, dan Uswah NU disebutkan bahwa KH. Ridwan Abdullah adalah salah santri dari Syaikhona Moh. Cholil Bangkalan) yang bisa kita lihat sekarang, buatlah sejarah pembuatan menyimpan kisah dan makna yang sangat dalam dan menarik untuk kita ketahui. Tidak seperti proses kreatif lahirnya karya senior pada umumnya yang membahas tentang daya guna dan kecerdasan kognitif  belaka, namun tidak hanya atas dasar dua daya itu lambang NU berhasil dibuat. Di samping mengerahkan daya imajinasinya, KH. Ridwan Abdullah juga menggerakkan kekuatan spiritualnya. Sebenarnya aspek yang terakhir ini yang memegang peran terpenting di belakang terciptanya lambang NU.

Logo NU merupakan simbol organisasi hasil dari upaya lahir batin yang dilakukan oleh ulama-ulama NU. Banyak diskusi menjelaskan tentang semua ikhtiar, baik lahiriah maupun batiniah melalui para ulama. Karena itu, setiap warga NU harus menjaganya dari berbagai tindakan yang bisa merendahkan logo NU. Seperti misalnya, dalam penggunaan logo NU pada produk-produk konveksi pada industri tekstil, khususnya pada produk mencakup sarung yang biasanya menggunakan logo NU. Pada produk lain, seperti peci, kaos, dan baju. Pertimbangannya adalah karena akhlak dan soal etika. Tidak etis untuk kita membuka logo yang dibuat oleh para ulama itu ditaruh di bagian yang kurang sopan. Sepanjang ditaruh di tempat yang etis, maka hal itu sah-sah saja. Ini murni karena pertimbangan akhlak kita. Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal PBNU HA Helmy Faishal Zaini (warta NU Online, published; Sabtu 20 Juni 2020 WIB).

Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi atau lebih terkenal dengan Habib Ali Kwitang

Berikut kisah Habib Ali Kwitang terkait dengan lambang NU. Pada sebuah siang, para kiai berkumpul di Kantor Partai Nahdatul Ulama. Mereka duduk di atas karpet yang digelar di sebuah ruangan besar. Mereka bermusyawarah di dalamnya untuk menjawab sejumlah masalah sosial keagamaan dan kebangsaan yang muncul di era Sukarno.

Puluhan kitab yang diperlukan diturunkan dari lemari buku. Semuanya diletakkan di atas lekar panjang, sejenis rehal yang biasa dijadikan tempat menaruh Al-Quran. Semua ini dipakai untuk memudahkan peserta musyawarah untuk melihat rujukan akurat terkait teks yang diperlukan.

Pada musyawarah ini tampak hadir Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi atau lebih terkenal dengan Habib Ali Kwitang, Al-Habib Ali bin Husein Al-Athas atau Habib Ali Bungur, Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Athas. Habib Ali Kwitang memenuhi undangan anak angkatnya, KH Idham Chalid yang ketika merupakan Ketua Umum PBNU.

Sebagaimana diketahui, NU saat itu merupakan partai politik, Partai Nahdlatul Ulama, yang ikut berkoalisi dengan pemerintah di Era Kepresidenan Sukarno. Selesai musyawarah, semua hadirin tampak masih pada tempat duduk masing-masing. Mereka akan menyantap hidangan ala kadarnya yang disediakan tuan rumah.

Abdullah dan beberapa pemuda NU ketika itu terlihat keluar-masuk shaf hadirin. Ia mengantarkan makanan dan minuman yang disediakan. Pada gilirannya Abdullah berusaha duduk bersimpuh di hadapan Habib Ali. Ia pun menurunkan nampan kaleng bermotif warna-warni berisi makanan dan minuman.

Habib Ali Kwitang curiga dengan motif di balik nampan. Ia meminta Abdullah untuk mengangkat nampan tersebut. Ketika diangkat, tampaklah lambang NU di pantat nampan.

“Ini kok bisa begini. Maksudnya apa ini?” tanya Habib Ali Kwitang kepada Abdullah dengan suara pelan.

Ruangan mendadak senyap. Semua perbincangan para kiai dan segala aktivitas seisi ruangan berhenti. Semua mata tertuju pada Habib Ali Kwitang dan Abdullah.

“Iya bib, ini adalah penanda bahwa nampan ini milik Partai NU,” jawab Abdullah. Habib Ali mengangguk.

Ia kemudian memanggil anak angkatnya KH Idham Chalid.

“Jangan kalian berani-berani membuat jatuh perkumpulan ini dengan meletakannya di bawah,” kata Habib Ali menasihati penuh kasih sayang layaknya orang tua dan anak.

Nasihat ini disaksikan dari dekat oleh Habib Ali bin Husein Al-Athas (Habib Ali Bungur), Habib Muhammad bin Ali Al-Athas, KH Muhammad Naim (Guru Naim Cipete), KH Falak Bogor, dan para kiai lain yang duduk dekat dengan Habib Ali Kwitang.

Menangkap isyarat tersebut, Kiai Idham Chalid kemudian meminta para pemuda untuk mengganti nampan dengan piring sebagai wadah makanan. Setelah insiden itu ruangan kembali ramai oleh perbincangan para kiai. (cerita ini diambil dari Majelis Kwitang Habib Ali Al-Habsyi).

oleh: M. Rofi’i / Asschol Media

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas