HSN 2019: Santri Unggul Indonesia Makmur

Asscholmedia.net – Sebagaimana telah resmi dari Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU) sebagai penyelenggara Sayembara Logo Hari Santri 2019 yang terbentuk dari kata “santri” yang ditulis aksara Arab karya Muhammad Ainun Na’im. Kata “santri” membentuk sebuah logo yang menggambarkan kobaran api, menunjukkan semangat menyala kalangan santri dalam mengamalkan fatwa Resolusi Jihad NU dan semangat mereka dalam memelihara keutuhan NKRI demi mewujudkan Indonesia makmur dan sejahtera.

Bacaan Lainnya

Adapun tema yang diusung bersamaan dengan logo tersebut adalah ”Santri Unggul Indonesia Makmur”. Namun, tema tersebut masih belum konkrit adanya jika tanpa komentar-komentar langsung dari para santri. Dengan demikian, simaklah berikut ini beberapa komentar dari alumni PP. Syaichona Moh. Cholil yang disajikan oleh Asschol Media sebagai momentum HSN 2019.

Salah satu alumni yang sejak tahun 1995 sudah menimba ilmu di PP. Syaichona Moh. Cholil memberikan Statetment bahwa, “Santri adalah siswa yang mencari ilmu di pondok pesantren salaf atau pondok modern. Santri adalah orang yang selalu mencari ridho Allah dengan cara selalu taat kepada kyai. Santri adalah pelajar yang selalu ikhlas menjalankan perintah kyai dan ustadnya tanpa banyak tanya karena penghormatannya”.

“Dalam tradisi struktur sosial masyarakat, santri memghormati guru atau kyai ada di tingkat ke tiga setelah bhuppa’, bhuppu, ghuruh dan ratoh. Penghormatan pada seorang guru melebihi kepada ratoh atau pemimpin”, imbuhnya.

Santri asal pulau garam, Pamekasan tepatnya, juga menegaskan bahwa “Santri ikut berjuang untuk bangsa dan negara atas perintah para kyai atau ulama’ sehingga layak dan pantas untuk mendapatkan momentum peringatan hari santri”.

“Santri adalah siswa yang komplit dalam konteks pengetahuan agama dan sains/umum sehingga sudah saatnya santri menunjukkan eksistensi sebagai masyarakat baik level lokal dan nasional. Sehingga santri unggulan adalah sebuah tujuan yang saat ini bisa dicapai oleh kader-kader santri di semua lapisan pesantren di seluruh Indonesia”, pungkas Usman (sapaan akrabnya) yang saat ini telah menyandang gelar Doktor (Dr) dan menjadi Dosen, sekaligus Sekretaris Pengurus Pusat Asschol.

Baca juga:

Alumni PP. Syaichona Moh. Cholil asal Kec. Sepulu Bangkalan, juga memberikan Statetment tentang HSN 2019 ini. Dikatakan bahwa, “Peran santri tidak hanya menjadikan kyai dan santri sebagai simbol dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Namun dibutuhkan keikutsertaan santri dalam mewujudkan keadilan untuk mensejahterakan rakyat. Hal ini dapat diimplementasikan melalui beberapa aspek, baik dalam dunia politik, ekonomi, sosial dan budaya. Tentu untuk mewujudkan hal itu membutuhkan proses yang tidak mudah, karena penataan dan tatakelola program pondok pesantren harus mampu menyiapkan SDM yang mumpuni dalam menyongsong Indonesia keemasan yang diiringi bonus demografis”, Tegas Ahmad Sukron (Peneliti The Initiative Institute Surabaya dan Dosen UNUSA).

Ketua II Pengurus Pusat Asschol, Ust. Nur Faqih, S.Pd.I, Sekitar tahun 1988 Sudah Di Pondok Demangan, beliau memaknai tema HSN yaitu menanamkan semangat juang se dalam-dalamnya ke dalam hati sanubari bahwa kesatuan dan persatuan bangsa wajib dan mutlaq di pertahankan sebagai bentuk cinta kepada tanah air (Hubbul wathon minal iman). Karena perjuangan Santri dan para Ulama tidak bisa diabaikan begitu saja, perjuangan mereka tanpa pamrih demi kemerdekaan Indonesia yang multi etnik ini, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi santri punya saham besar dalam tegak nya NKRI yang kita cintai ini”, tegasnya, dia merupakan lulusan S1 STAIS Bangkalan.

Reporter: Rofi
Redaktur: Ahmad Hafsin 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.