Refleksi Makna Hari Santri untuk NKRI

1 komentar 474 views
banner 160x600
banner 468x60

Santri PP. Syaichona Moh. Cholil Bangkalan

Asscholmedia.net – Santri memang tak sekeren Mahasiswa, Asatid, tidak pula sekeren Dosen, tidak segagah pemegang jabatan Rektor, Gedung pesantrenpun tidak semegah dan se-elit Universitas. Tapi saya bangga menjadi Santri, pesantrenku Kerren, karna kyaiku mendidikku dengan spirit spiritualitas dan patriotisme yang mampu mensinergikan antara kaum nasionalis dan kaum agamis dalam memperjuangkan Agama dan Bangsa. Inilah sejarah mencatat dengan istilah Resolusi Jihad yang diserukan oleh Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama dan para kyai sepuh untuk mendobrak semangat santri dan menyerukan pada penjajah saat itu, bahwa pesantren dan segenap santri di dalamnya akan berjuang mempertahankan negara ini, NKRI tercinta.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri tanggal 22 Oktober 2015 yang bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1437 Hijriyah merupakan bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan, Kiprah santri teruji dalam mengokohkan pilar-pilar NKRI berdasarkan Pancasila yang bersendikan Bhinneka Tunggal Ika.

Santri berdiri di garda depan membentengi NKRI dari berbagai ancaman. Pada tahun 1936, sebelum Indonesia merdeka, kaum santri menyatakan Nusantara sebagai DΓ’rus SalΓ’m. Pernyataan ini adalah legitimasi fikih berdirinya NKRI berdasarkan Pancasila. Tahun 1945, kaum santri setuju menghapuskan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan dan kesatuan bangsa. Tahun 1953, kaum santri memberi gelar Presiden Indonesia, Ir. Soekarno, sebagai Waliyyul Amri ad-DlarΓ»ri bis Syaukah, pemimpin sah yang harus ditaati dan menyebut para pemberontak DI/TII sebagai bughat yang harus diperangi. Tahun 1965, kaum santri berdiri di garda depan menghadapi rongrongan ideologi komunisme. Tahun 1983/1984, kaum santri memelopori penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa-bernegara dan menyatakan bahwa NKRI sudah final sebagai konsensus nasional (mu’Òhadah wathaniyyah).

Selepas Reformasi, kaum santri menjadi bandul kekuataan moderat sehingga perubahan konstitusi tidak melenceng dari khittah 1945 bahwa NKRI adalah negara-bangsa bukan negara agama, bukan negara suku yang mengakui seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama dan golongan. Tanpa kiprah kaum santri, dengan sikap-sikap sosialnya yang moderat (tawassuth), toleran (tasΓ’muh), proporsional (tawΓ’zun), lurus (i’tidΓ’l), dan wajar (iqtishΓ’d), NKRI belum tentu eksis sampai sekarang.

Pada saat ini Jihad semakin kontemporer dan kontekstual dalam penerapannya, santri saat ini dihadapkan pada situasi yang lebih berat dengan adanya perubahan global yang begitu massif, adanya ancaman paham radikalisme yang menjurus kepada terorisme, narkoba, saling hujat menghujat karena perbedaan dukungan politik, perbedaan dukungan tim sepakbola sampai menuai korban dan kasus hukum, Orang-orang menjadi gagap terhadap perbedaan, dan gandrung dengan simbol-simbol agama yang sekadar ada di β€œkulit”, tanpa merenungi lebih jauh ke substansi agama yang sebenarnya bersifat memberi rahmat dan kedamaian. Sentimen primordial terasa, sikap keberagamaan eksklusif menguat, perbedaan terus diruncingkan, sehingga ikatan kebangsaan dan nasionalisme mulai mengikis.

Baca juga:

Di titik inilah, momentum Hari Santri dilaksanakan tidak hanya dengan seremonial upacara, euforia, kirab pesantren, konfoi, arak arakan, update status di medsos belaka, akan tetapi lebih jauh dari itu lewat sejarah panjangnya tentang nasionalisme para kiai, ulama, dan santri dalam menggalang kekuatan melawan penjajah, menjadi relevan diresapi dan diteladani menjadikan dasar refleksi itu untuk berbenah dan terus meningkatkan kualitas santri demi kemajuan bangsa. Santri harus meneladani semangat jihad para pendahulunya yaitu semangat jihad ke Indonesia an, begitulah esensi dari pernyataan β€œJas Merah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah)” Ir. Soekarno. berusaha untuk tidak melupakan sejarah karena dalam sejarah terdapat ibroh pelajaran yang sangat berharga begitulah Al-Qur’an surat Yusuf Ayat 111 Β Ω„ΩŽΩ‚ΩŽΨ―Ω’ ΩƒΩŽΨ§Ω†ΩŽ فِى Ω‚ΩŽΨ΅ΩŽΨ΅ΩΩ‡ΩΩ…Ω’ ΨΉΩΨ¨Ω’Ψ±ΩŽΨ©ΩŒ Ω„Ω‘ΩΨ£ΩΩˆΫŸΩ„ΩΩ‰ Ω±Ω„Ω’Ψ£ΩŽΩ„Ω’Ψ¨ΩŽΩ°Ψ¨Ω Ϋ—

Menjaga NKRI juga dibutuhkan banyak asupan gizi, baik gizi berupaΒ  ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum karena Santri dituntut untuk berkonstribusi tidak hanya di bidang pendidikan saja akan tetapi juga harus bisa berperan diberbagai sektor baik struktural kepemerintahan, kemaritiman, perekonomian, IT, kemasyarakatan yang sangat kompleks ini,Β  keduanya itu dalam konteks kekinian diibaratkan seperti kaki tidak bisa dipisahkan karena tuntutan waktu dan keadaan. Jadi, santri harus bisa menjawab semua tantangan ini dengan dasar keilmuan yang dimiliki.

Oleh: Ahmad Nurun, S.H (Alumni PP. Syaichona Moh. Cholil Bangkalan)

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas