Gema Takbiran di Hari Raya: Hukum & Dalilnya

banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net – Saat hari raya tiba Rasulullah ﷺ memerintahkan pada para sahabat dan umat Islam untuk menghiasi malam hari raya dengan memperbanyak melantunkan takbir.

Dalam kitab Fathu al-Qarib al-Mujib karya Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Qasyim al-Syafi’i disebutkan bahwa takbir pada malam hari raya disunnahkan. Kesunahan ini ditujukan untuk semua orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan, sendirian ataupun berjemaah, mukim ataupun musafir, sedang berada di rumah, masjid, ataupun di pasar.

Syaikh Al-Bajuri dalam Hasyiyah-nya menambahkan: disunnahkan membaca takbir dengan suara yang keras, alasannya karena untuk menampakan syi’ar Islam yang terkandung dalam perayaan hari raya kecuali bagi orang perempuan yang berada dikawasan orang laki-laki dan Khuntsa (berkelamin ganda sejak lahir). Anjuran pembacaan takbir ini berlandaskan firman Allah ﷻ:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS al-Baqarah Ayat : 185).

Begitu juga anjuran Rasulullah ﷺ dalam haditsnya yang berbunyi:
” زَيِّنُوا أَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيرِ ”

“Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir.”

Anjuran memperbanyak takbir ini sepadan dengan imbalan yang dijanjikan karena sabda Rasulullah ﷺ:

اكثروا من التكبير ليلة العيدين فانهم يهدم الذنوب هدما

“Perbanyaklah membaca takbiran pada malam hari raya (fitri dan adha) karena hal dapat melebur dosa-dosa.”

Dan Nabi ﷺ:

من أحيا ليلة العيد أحيا الله قلبه يوم تموت القلوب

“Siapa yang menghidupkan malam hari raya (Fitri dan Adha), maka Allah akan menghidupkan hatinya di hari dimana hati-hati telah mati.”

Baca juga:

Syaikh Al-bajuri dalam kitabnya Hasyiyah al-Bajuri ala Ibnu Qasim menjelaskan makna yang terkandung dalam hadist yang disebut terakhir. Bahwa yang dimaksud “menghidupkan malam hari raya” adalah menghidupkan dengan mengerjakan Ibadah paling sedikit dengan melaksanakan sholat isya’ secara berjemaah dan berlanjut melaksanakan sholat subuh dengan berjemaah dan yang dimaksud “Allah ﷻ akan menghidupkan hati” adalah hatinya tidak disibukkan dengan urusan dunia sedangkan yang maksud “hati yang mati” adalah hati yang dipenuhi dan disibukkan dengan cinta dunia.

Bentuk bacaan takbir adalah:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَّقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ”

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, dan segala puji hanya milik Allah. Allah Maha Besar dengan sesungguhnya. Dan segala puji yang banyak hanyak untuk Allah. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Tidak ada tuhan selain Allah, hanya Allah. Yang Telah membenarkan janji-Nya, Menolong hamba-Nya, memenangkan pasukan-Nya dan mengalahkan musuh-musuhnya hanya dengan sendirian”.

Waallahu A’lam.

Penulis: Ust. Abdul Adzim (Staf Pengajar PP. Syaichona Moh. Cholil Bangkalan) 

 

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas