Menjadi Santri Masa Kini

Asscholmedia.net – Pondok Pesantren sebagai salah satu pendidikan tertua di Indonesia yang peletakan dasar-dasar diawali sejak masa wali songo menyebarkan Islam di tanah Jawa telah berkontribusi besar terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia utamanya dalam bidang pendidikan Pondok Pesantren menjadi benteng yang selalu menjaga dan menanamkan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti yang baik.

Bacaan Lainnya

Pondok Pesantren sebagai embrio lahirnya generasi penerus bangsa diharapkan mampu menjaga eksistensinya dengan memberikan pendidikan yang dibutuhkan oleh masyarakat kekinian dalam melaksanakan peran dan fungsinya sebagai lembaga pendidikan pondok pesantren dituntut berkembang dan tidak ketinggalan dengan perkembangan dunia global sehingga beberapa pondok pesantren mengintegrasikan pendidikan formal dalam kurikulum diniyah dan ada pula yang mendirikan pendidikan formal disamping mempertahankan kesalafannya.

Perkembangan dunia pesantren tentunya menuntut peran dan fungsi lebih dari seorang santri, bukan lagi sebatas ustadz ataupun penceramah. Namun lebih daripada itu, seorang santri hari ini dituntut mampu berperan dan mewarnai perkembangan dunia nasional dalam berbagai sektor mulai dari pendidikan, pertanian, perikanan, pembangunan, perekonomian dan politik.

Santri diharuskan untuk berperan dalam posisi-posisi yang strategis untuk membangun dan mempertahankan NKRI di masa depan, jangan sampai persatuan bangsa Indonesia yang hari ini diuji dengan viralnya berita-berita hoax yang provokatif dan tidak bertanggung jawab menjadi bercerai berai disebabkan kelompok-kelompok separatis yang sengaja ingin memecah belah keutuhan NKRI.

NKRI merupakan warisan dari para Ulama sekaligus pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia dengan Pancasila sebagai falsafah negara menjadikan Indonesia damai dan sentosa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika yang menyatukan masyarakat plural dan heterogen.

Seringkali santri merasa puas dengan profesinya sebagai guru ngaji ataupun pengajar Madrasah Diniyah (tanpa mengesampingkan bahwa hal itu sangat mulia dan penting) padahal sebagaimana disabdakan oleh baginda Rasul: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain” Maka selayaknya santri merambah dunia ekonomi yang hari ini kebanyakan masyarakat Indonesia menjadi buruh di negara sendiri. Sebab beberapa perusahaan ataupun badan usaha milik negara telah dikuasai oleh pihak asing dengan kepemilikan saham yang lebih besar. PT Indosat Tbk misalnya, dikuasai perusahaan Qatar Telecom sebesar 65%. Bahkan Telkomsel yang mengaku paling Indonesia sahamnya dimiliki oleh perusahaan Singapura Sing Tel Mobile sebanyak 35%. Kemudian 66% saham XL dikuasai Axiata Group Berhad perusahaan asal Malaysia sementara AXIS dan Tri semuanya dikuasai oleh asing sehingga praktis hampir semua frekuensi telekomunikasi Indonesia dikuasai oleh asing, ini baru dari telekomunikasi sudah membuat kita manahan dada.

Baca juga:

Lalu bagaimana dengan perusahaan besar yang lain, bersiap siaplah menahan sesak dada kalian bagi para perokok 97% saham Sampoerna milik Philips Morris Amerika Serikat, saat kita mandi pakai sabun Lux ataupun sikat gigi pakai Pepsodent ketahuilah itu adalah produk-produk Unilever Inggris dan bagitupula saat kita membangun rumah ataupun pondok pesantren menggunakan semen Gresik sebagian besar sahamnya milik Cemex Meksiko, begitupun semen Tiga Roda 61% sahamnya milik Heidelberg Jerman apalagi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lain seperti elektronik rasanya tidak perlu saya sebutkan bahwa semua HP yang kita gunakan adalah produk luar negeri.

Data-data di atas bukan untuk memprovokasi ataupun melarang kita membeli produk-produk itu sebab tak ada larangan dalam agama untuk bertransaksi dengan siapapun selama akadnya baik, namun hal di atas saya sampaikan agar sebagai kaum santri kita sadar bahwa selama ini kita telah tertidur dengan membiarkan kekayaan dan aset negara menjadi milik asing karena barangkali sebagai santri kita merasa semua itu bukanlah tugas kita, tugas santri adalah mengajar dan mendidik, padahal di luar sana para penguasa yang tidak memiliki keimanan yang kuat telah menjual aset-aset negara yang seharusnya royalti perusahaan-perusahaan itu kembali pada rakyat dari rakyat dan untuk rakyat.
Coba kita ingat bagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda: “kefakiran itu lebih mendekatkan pada kekufuran” secara tidak langsung Nabi tidak melarang kita untuk menguasai ekonomi selama dipergunakan dengan cara yang baik bahkan nabi juga telah bersabda “kejayaan Islam itu dapat di raih melalui ilmu dan harta” ilmu sebagai ruh yang mendasari perjuangan dan harta sebagai bekal yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

Baca juga:

Oleh karenanya santri hari ini harus mampu bersaing dalam segala sektor baik ekonomi ataupun politik, jangan sampai pemimpin bangsa ini diserahkan pada orang yang tidak bertanggung jawab disebabkan tidak memiliki keimanan yang kuat, sudah cukup santri berdiam diri melihat segala kecurangan yang dilakukan oleh tangan-tangan penguasa, saatnya santri bangkit membuktikan kemampuannya melalui ilmu yang telah didapat selama mengenyam pendidikan di Pesantren.

Penulis: Zainal Arifin, S.Pd.I (Alumni PP. Syaichona Moh. Cholil)
Redaktur: Ahmad Hafsin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.