Lora Muhammad Ismail Amin Al-Kholily: Ramadhan Penuh Berkah di Tanah Seribu Wali

banner 160x600
banner 468x60

“Seringkali engkau berbuat buruk, lantas pertemananmu dengan orang-orang yang lebih buruk darimu membuat dirimu merasa telah berbuat baik”

Hikmah Ibnu Atha’illah ini adalah sebuah fenomena yang banyak terjadi pada kita di bulan Ramadhan. Baca Quran hanya beberapa lembar tiap hari, Tahajjud cuma dua raka’at, Tarawih tanpa khusuk secepat kilat, hanya dengan itu kita sudah merasa ‘berbuat’ banyak dan telah menunaikan hak Ramadhan sebaik-baiknya. Penyebab utamanya adalah lingkungan.

Lingkungan memang memiliki peran yang sangat besar disini, jika disekitar kita hanya berisi orang-orang yang melihat Ramadhan sebagai Tradisi tahunan yang akan lewat begitu saja (sahur-buka-tarawih dan habis itu hari raya) maka dengan Amal ibadah yang sangat hematpun kita sudah akan merasa puas dan berbagga, gara-garanya ya itu.. lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang lebih parah dari kita, yang tak pernah memperlakukan Ramadhan sebagai ‘Ramadhan’. Melihat mereka, Kita tak akan pernah mempunyai inspirasi dan motivasi yang kuat untuk menjadi lebih baik dalam mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan.

Berbeda jauh dengan apa yang aku saksikan dan rasakan sendiri di Kota Seribu Wali ini. – yang seringkali aku katakan bahwa Ramadhan-nya adalah salah satu yang terbaik di dunia -. Disini bulan Ramadhan benar-benar hidup, Atmosfer Ramadhan begitu kental terasa, orang-orang disini seakan berlomba-lomba untuk menimbun amal kebaikan sebanyak-banyaknya di bulan penuh keberkahan ini.

Waktu itu aku pernah iseng nantangin salah seorang anak muda penjaga toko di Tarim, namanya Yunus, pemuda berwajah polos asli desa Ramlah, meski gitu dia adalah seorang hafidz Alquran.

“Gimana kalo di Ramadhan ini kita bertanding? Siapa yang paling banyak hatam Alquran dia yang menang ” aku mengajukan sebuah tawaran

“Bismillah, ayo.. ” jawab Yunus sambil tersenyum.

“Emangnya kamu udah punya target mau hatam berapa kali di Ramadhan kali ini? ” aku bertanya lagi.

“Insyaallah sepuluh kali” jawabnya santai. Sepuluh kali itu kata dia termasuk sedikit, karena waktu itu dia juga sedang sibuk belajar buat ujian akhir semester selain kesibukan jagain toko orang. (Tukang jaga tokonya aja bisa hatam sebanyak itu, gimana ulama-ulamanya?) dan sampai sekarang aku masih ingat wajah polos dengan senyum sederhananya ketika menjawab pertanyaan itu. di kota ini aku menemukan banyak orang seperti dia, nggak punya fesbuk, gak kenal Watsap, gak tahu apa itu Tweeter dan Instagram, punya hp paling hp jaman belanda. tapi hebatnya mereka mempunyai wajah yang lebih teduh dari wajah kita, senyum yang lebih tulus dari senyum kita dan hati dan perangai yang lebih indah dari hati dan perangai kita.

Ramadhan di Tarim adalah Ibadah, ibadah dan ibadah.

Disini orang-orang begitu ‘sibuk’ di malam-malam Ramadhan, gak ada kata ngantuk apalagi tidur !. Habis buka puasa (Takjil), mereka langsung Sholat Maghrib dilanjutkan Sholat Bakdiyah dan Sholat Tasbih 4 Raka’at setelahnya. Sholat Tasbih selesai setelah itu Asya’ (makan malam) dan istirahat sejenak menanti adzan isya dan Sholat Tarawih.

Di Tarim inilah kita bisa melaksakan Sholat Tarawih ‘sepuas-puasnya’. 20 raka’at, 40 raka’at, 60 raka’at atau bahkan 100 raka’at !

Meski tergolong kota yang kecil dan sederhana, Tarim memiliki Ratusan masjid di dalamnya ! Dulu bahkan ada yang mengatakan jumlah masjid di Tarim sama dengan Jumlah hari dalam setahun ! 365 !

Masjid-masjid disini mempunyai sistem ‘Tarawih estafet’. Misal : Jam 19:00 di Masjid A, Jam 19:30 di masjid B, jam 20:00 masjid C begitu seterusnya sampai memasuki waktu sahur. Jadi sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang disini – apalagi di 10 hari terakhir Ramadhan – melakukan ‘loncat-loncat’ Tarawih dari satu masjid ke masjid lainnya. Imbasnya, Tarim semalam penuh selalu ‘hidup’ dengan suara-suara imam tarawih. Setelah Tarawih- diseling-selingi pembagian kopi khas Tarim – akan diadakan pembacaan doa dan qasidah-qasidah yang dinamakan ‘Fazariyah’ dan ‘watriyah’. Yang berisi penjelasan keutamaan-keutamaan Ramadhan dan nasehat-nasehat untuk memotivasi agak kita menjadi lebih bersemangat dalam berburu kebaikan di malam-malam selanjutnya.

Sehabis sahur, sebagian masjid mengadakan witir berjamaah -lagi- . Melaksanakan sholat witir 8 raka’at hingga witir mereka lengkap menjadi 11 raka’at dan Dilanjutkan dengan Wirid-wirid akhir malam sambil menanti adzan subuh.

Setelah Sholat Subuh, jalanan Tarim akan tampak ramai dipenuhi Motor-motor dan mobil-mobil yang berjalan menuju satu tempat tujuan, Darul Musthafa ! Tujuan mereka adalah menghadiri pengajian Tafsir yang diadakan Habib Umar Bin Hafidz. Musholla Ahlul Kisa’ di Darul Musthafa selalu full jama’ah di setiap subuh Ramadhan. Kaum lelaki hadir pengajian, para wanita juga gak mau kalah dengan ikut menyimak lewat AlertnabawiTV atau Radio Nurul Iman.  Matahari terbit dan pengajian selesai. Orang-orang beristirahat dan Tarim akan tampak seperti kota mati sampai waktu Dhuhur tiba. Setelah Dhuhur biasanya mereka akan sibuk membaca Alquran, baik secara jamaah(hizb) atau per-orangan, setelah ashar mereka akan ngabuburit dengan menghadiri Majlis-Majlis Ilmu yang ada di Masjid-masjid Tarim. Kebanyakan dari mereka menghadiri pengajian Habib Umar Di Musholla Ahlul Kisa’ Darul Musthafa.

Dan jangan tanyakan Bagaimana Tarim di Asyrul Awakhir, 10 Malam terakhir Ramadhan. Dimalam-malam itu setiap Masjid mempunyai Jadwal Khotm Quran yang akan dihatamkan dalam shalat Tarawih. Dan setiap masjid yang mengadakan Khatm sudah pasti akan dipenuhi Puluhan ribu Jama’ah yang meluber sampai lorong-lorong jalan !

Begitulah seterusnya sampai Ramadhan berakhir, tak ayal, dulu orang-orang Tarim selalu menangis bagai orang yang baru ditinggal mati istrinya di penghujung akhir Ramadhan, seakan berat sekali berpisah dengan bulan yang penuh dengan pemberian Allah itu. Bahkan konon mereka masih meratapi kepergian Ramadhan sampai 6 bulan setelahnya.

Dan sekarang Ramadhan sudah di ambang pintu. Ada yang antusias, penuh semangat, memiliki banyak target amal ibadah dan niat-niat luhur untuk lebih mendekat kepada-Nya. Ada juga yang biasa-biasa aja, senang karena Menu-menu istimewa yang akan tersaji di atas meja, kluyuran malam, sahur-tidur-buka-tarawih, fesbukan, watsapan, instagraman. Udah itu aja dan habis itu beli baju baru buat hari raya, baginya Ramadhan tak ubahnya tradisi dan adat tahunan.

Ramadhan dengan segala keagungan dan keindahannya, amal ibadah yang dilipatgandakan pahalanya, pintu-pintu rahmat Allah yang dibuka lebar-lebar begitu saja, dan puluhan keutamaan yang telah Rasulullah Saw jelaskan dalam sabda-sabdanya. jika dengan itu semua kita masih belum tergoda untuk berubah, mendekat, dan berusaha menjadi hamba yang lebih baik maka kebaikan apa lagi yang bisa diharapkan dari diri kita ?

Ia yang masih gitu-gitu saja dalam bulan Ramadhan, tak ada perubahan, tak berusaha lebih untuk mendekat kepada-Nya, dan tak pernah mau menjauhi diri dari hal-hal yang tidak diridhoi-Nya lebih-lebih pandangan-pandangan haram dan ghibah. Orang yang seperti itu bisa dikatakan sebagai seorang Hamba yang ‘kebangeten’. Yang saking kebangetennya Malaikat Jibril pernah berdoa atas Hamba yang semacam itu, doa yang kemudian disetujui dan diamini oleh Rasulullah Saw. “Barang siapa yang melewati bulan Ramadhan tetapi Allah belum mengampuni dosa-dosanya, maka semoga Allah memberikan kecelakaan atasnya.”

Marhaban Ya Syahra Ramadhan, semoga kita bukan termasuk dari orang-orang yang mengucapkan Marhaban kepadamu tapi sikap dan kelakuannya malah menunjukkan ketidak pedulian terhadap keagungan dan kemuliaanmu.

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas