Akal Dalam Perspektif Agama Samawi

Tidak ada komentar 316 views
banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net – Dalam sepanjang kehidupannya, manusia selalu berusaha mengatasi keterbatasan yang dimiliki. Penemuan alat bantu dari zaman ke zaman terus berkembang seakan tak ada batas. Semua itu ditopang dengan karunia Allah yang begitu besar, yaitu akal. Hasilnya, kini bisa menikmati beragam kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi yang dikemukannya.

Mobil, kereta, dan pesawat terbang, memungkinkan manusia menempuh perjalanan jauh dalam waktu yang relative singkat dengan tingkat kelelahan yang rendah. Begitu juga telefon, internet, satelit, dan alat komukasi lainnya, memudahkan manusia mengirimkan pesan kepada orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung dalam waktu yang begitu cepat. Bahkan, tekhnologi mutakhir telah mampu mengamati dan memanfaatkan atom, zat paling kecil yang menyusun materi, belum lagi perjalanan ruang angkasa dan kemajuan di bidang kedokteran.

Begitulah pencapain-pencapain yang telah dihasilkan oleh manusia. Sayangnya, beragam kemudahan tersebut tidak membuat kebanyakan manusia beriman kepada Allah SWT, bahkan menjadi pemicu bagi pembangkang terhadap ajaran yang dibawa para Nabi, dan menyeret mereka kepada pengingkaran adanya sang pencipta, sehingga berasumsi bahwa alam jagat raya ini ada dengan sendirinya, terus berevolusi dan bersifat kekal. Sungguh mengena apa yang difirmankan Allah dalam al-Quran: “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabb-nya”. (QS. Ar-Rum:8)

Baca juga:

Kemajuan-kemajuan yang dicapai tersebut, ditambah dengan ghazwulfikri (perang pemikiran) dan perasaan inferiority complex (rendah diri) dibawah hegemoni barat, juga telah membuat sekelompok kaum muslimin mendudukkan akal tidak pada porsinya, sehingga berani menolak nash yang shohih jika menurut mereka bertentangan dengan akal.

Penyimpangan Akal
Penyimpanagan akal dimulai tatkala Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam AS. Iblis enggan melaksanakan perintah Allah SWT karena merasa dirinya lebih mulia dari pada Adam AS. Menurut logikanya, dirinya diciptakan dari api semestinya lebih mulia dari pada Adam yang ‘hanya’ diciptakan dari tanah. Karena itu Iblis diusir dari surga, dijauhkan dari rahmat Allah SWT, ditetapkan laknat atasnya dan dinyatakan termasuk golongan yang binasa sebagaimana firman Allah: “Maka keluarkanlah kamu dari surga sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukanku tetap atasmu sampai hari pembalasan“. (QS.Shad 77-78)

Penyimpangan akal ini kemudian diikuti oleh Fir’aun, yang dengan kekuasaanya, menyeru kaumnya, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” (QS. An-Nazi’at:24) Sehingga Allah SWT kemudian menenggelamkannya di laut merah, dan tentu saja adzab akhirat telah menunggunya.

Baca juga: RKH. Fakhrillah Aschal: Mintalah Pertolongan Dengan Sabar dan Shalat !!!

Lalu dalam sejarah perjalanan Islam, muncullah ahli ilmu kalam dan yang mengikuti mereka, seperti para pengikut Mu’tazilah. Mereka menempatkan akal sebagai sumber dan landasan suatu dalil dan didahulukan daripada wahyu (syariat). Sehingga jika ada nash (dalil), namun (menurut mereka) bertentangan dengan akal, maka nash tersebut ditolak, Tidak heran jika Imam Syafi’i RA berkata, “Hukuman terhadap ulama ilmu kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma dan diarak keliling kampung dan kabilah untuk dinyatakan dihadapan mereka, inilah balasan bagi orang yang meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan terjun dalam ilmu kalam”.

Penghormatan Islam Terhadap Akal
Islam bukanlah agama yang memasung akal, namun tidak pula memberikan kebebasan seluas-luasnya. Islam menyuruh manusia mengakifkan akal, mengerahkan kemampuan berfikir, agar bisa memperoleh manfaat dalam segala kehidupannya. Al-Qur’an dalam banyak tempat mendorong manusia menggunakan akal sesuai kemampuannya agar sampai kepada kepuasan penggunaannya yaitu: (1) Tafakkur dan tadabbur tentang kebenaran al-Qur’an. (2) Memikirkan ciptaan Allah SWT. (3) Memikirkan hikmahnya syariat Allah SWT. (4) Memikirkan kondisi umat-umat terdahulu dan apa yang mendorong mereka melakukan kedurhakaan. (5) Memikirkan tentang dunia dan kenikmatannya yang fana.

Memikirkan dan mentadabburi perkara-perkara di atas bukanlah tujuan utama, yang diinginkan dari tadabbur dan tafakkur tersebut adalah untuk meluruskan hati, akidah, dan perbaikan kehidaupan di bumi dengan metode yang benar.

Rambu-Rambu Bagi Akal
Meskipun Islam memuliakan akal, namun terdapat batasan-batasan terhadap gerak akal agar tidak tersesat. Akal memiliki kemampuan yang terbatas, sehingga tidak mungkin dapat mencapai setiap hakikat. Apabila berusaha menyelami lebih dalam untuk mengetahui hakikat, akan banyak persoalan jadi samar dan terjatuh dalam kegelapan, akibatnya akan banyak mengalami kesalahan dan terjerumus dalam bahaya. Maka Islam memerintahkan akal untuk tunduk dan melaksanakan syariat yang sudah jelas hukumnya walaupun ia belum mengetahui hikmah dan sebab mengapa ia diperintah.

Islam melarang akal menerjuni hal-hal yang tidak diketehuinya dan diluar jangkauan pengetahuan, seperti masalah dzat Allah SWT, ruh, hakikat dan lain sebagainya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang dzat-Nya”.

Oleh: Zainul Muzab (Alumni PP. Syaichona Moh. Cholil Bangkalan)

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas