SYEKH SA’DUDDIN AL-MURAD; Pecinta Ilahi Yang Rendah Hati (Bagian 1)

Asscholmedia.net – Secara khusus Syekh Nuruddin menyampaikan hal yang berkaitan dengan orang yang di Hauli pada saat ini, seorang yang mulia dan kemuliaannya hanya diketahui oleh Allah SWT, seorang yang telah menyebarkan Thariqoh Syadziliyah terutama di pulau Madura.

Bacaan Lainnya

Ini adalah haul yang ke 5 dari wafatnya beliau, semoga Allah SWT merahmatinya dan Allah SWT merahmati kita dengan barokah beliau dan dengan barokah orang-orang sholeh. Beliau adalah orang yang sangat dekat dengan Allah, guru kita yang mulia Syekh Sa’duddin bin Muhammad Salim bin Muhammad Ali bin Muhammad Salim Al-Murad. Beliau adalah keturunan Sayyidil Husain yang nasabnya bersambung dengan kakek Nabi Muhammad SAW. Beliau bermadzhab Imam Syafi’i dan Thariqoh beliau mengikuti Thariqoh Syadziliyah.

Beberapa manfaat dari mengenang orang-orang yang sholeh, Pertama adalah akan cinta kepada mereka dan dicintai oleh mereka. Kedua akan mengikuti mereka. Ketiga akan turun rahmat dari Allah karena ketika kita mengenang atau menyebut orang sholeh maka akan diturunkan rahmat yang berlimpah dari Allah. Dan diantara manfaat lainnya adalah semakin semangatnya kita untuk menaikkan derajat di sisi Allah SWT sehingga kita bisa mengikuti mereka di dalam derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.

Syekh Sa’duddin belajar di rumah yang penuh dengan ilmu, penuh ketaqwaan, penuh pensucian jiwa dan penuh peningkatan derajat di sisi Allah SWT. Ayahanda serta kakek Syekh Sa’duddin adalah orang-orang yang berilmu, taqwa kepada Allah dan merupakan orang-orang yang berpengaruh di Kota Syuriah, dimana Negara Syuriah merupakan Negara yang memiliki keistimewaan dibandingkan dengan Negara-negara lainnya.

Read more:

Semenjak usia remaja, Syekh Sa’duddin sudah banyak mempelajari ilmu bahkan ilmu yang paling menonjol dari beliau adalah ilmu pensucian jiwa sehingga disebut Katatib, karena mereka tidak hanya mempelajari teori tetapi sudah memperaktikkan ilmu-ilmu tersebut sebelum masuk madrasah. Jadi, jiwa-jiwa mereka memang sudah bersih terlebih dahulu sehingga setiap ilmu yang dipelajarinya langsung masuk ke dalam sanubari dan bisa membuat hati sangat bercahaya oleh karena itulah ilmu mereka sangat bermanfaat.

Sebelum belajar di Madrasah, Syekh Sa’duddin sudah hafal Al-Qur’an dan pada saat itu, Syekh Sa’duddin masuk Madrasah dalam usia 7 tahun. Kemudian ketika berumur 12 tahun, Syekh Sa’duddin melanjutkan belajarnya di pondok syar’i bernama Raudhatul Al-Hidaiyah di kota Hamam, kota tempat beliau tinggal. Di pondok Raudhatul Al-Hidaiyah inilah beliau menuntut ilmu selama 4 tahun.

Pada tahun pertama, di pondok tersebut santri hanya 10 orang. Di tahun kedua malah tambah berkurang yaitu hanya 5 orang. Di tahun ketiga hanya tersisa 3 santri saja, dan pada tahun terakhir (tahun ke 4) hanya Syekh Sa’duddin yang bertahan. Maka beliau menjadi satu-satunya murid yang masih belajar karena belum lulus, namun karena luar biasanya Syekh Sa’duddin langsung mendapatkan ilmu dari guru-gurunya yang mulia.

Keluarga Syekh Sa’duddin tergolong keluarga miskin, selama 3 tahun belajar di pondok, yang beliau makan hanyalah roti dan air, tapi Syekh Sa’duddin tidak pernah memberi tahu pada keluarganya kalau yang ia makan hanya roti dan air. Di saat sekolah pun beliau tidak punya tas, karenanya beliau membuat tas yang terbuat dari kayu hasil pahatannya sendiri untuk membawa kitab-kitabnya. Agar dapat memenuhi kebutuhannya untuk membeli kitab yang akan di pelajari, beliau menjual kitabnya yang sudah di pelajari. Kitab yang dibelipun bukan kitab baru melainkan kitab yang sudah banyak coretan dan tulisannya.

Pada tahun berikutnya, Pondok Pesantren yang ditempati belajar oleh Syekh Sa’duddin akan membuka pendaftaran santri baru, tapi Syekh Sa’duddin malu karena di Pondok Pesantren tersebut hanya beliau saja yang menjadi murid, maka beliaupun minta izin kepada guru-gurunya untuk keluar dari pondok tersebut agar tidak menjadi beban bagi gurunya. Kemudian Syekh Sa’duddin melanjutkan belajarnya ke Halab di Pondok Pesantren Sya’baniyah.

Beliau adalah orang yang sangat menjaga diri, malu jika minta sesuatu pada ayahnya. Bahkan beliau seumur hidupnya tidak pernah meminta uang 1 sen pun, kepada ayahandanya melainkan beliau demi untuk mendapatkan uang bekerja sendiri selama musim panas dalam beberapa bulan kemudian hasil uangnya digunakan untuk menutupi kehidupannya selama setahun.

Pekerjaan apa saja beliau lakukan, bahkan pernah menjadi pekerja sebagai tukang kayu, membuat sandal, dan menjahit pakaian. Beliau melakukan itu untuk memperoleh uang sebagai bekal biaya belajarnya.

Di tahun ke 4, beliau langsung diterima di Pondok Pesantren Sya’baniyah dan belajar menuntut ilmu, di sana beliau sama seperti murid-murid yang lain. Akan tetapi beliau memiliki satu keistimewaan karena beliau berada disamping orang yang hanya punya satu lemari sedangkan semua murid mempunyai dua lemari dan ternyata orang yang punya satu lemari itu menjadi gurunya Syekh Sa’duddin. Beliau bernama Syekh Abdul Qodir Isa dan beliaulah yang mengarang kitab Hakikat Ilmu Tasawuf.
Bersambung di bagian 2 …..

Reporter: Rofi
Redaktur: Ach. Hafsin

Disampaikan oleh Syekh Nuruddin bin Syekh Saduddin dengan berbahasa Arab, diterjamah langsung oleh Habib Ubaidillah Al-Habsy Surabaya. Pada acara Haul Akbar Syekh Saduddin bin Salim Al-Murad As-Suri di Alun-alun Kota Bangkalan. 23 Maret 2019/17 Rajab 1440.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

1 Komentar