Media Sosial Dalam Perspektif Fikih (Bagian 1)

2 comments 112 views
banner 160x600
banner 468x60

Media sosial seperti Facebook, Twiter, Instagram, WhatsApp, Telegram, Line dan lain sebagainya tak ubahnya negara kecil yang terpetak dalam rekaan yang menghubungkan manusia satu dengan lainnya. Semua itu terfasilitasi oleh perangkat lunak yang mampu memberi permintaan apapun yang ia hubungkan.

Disebalahnya ada akun tetangga dan juga group yang bisa disinggahi, tak ubahnya ruang lingkup bertetangga di lingkungan pedesaan, dimana manusia bisa saling berinteraksi, tutur sapa, berbagi, serta saling menyambangi. Bak gambaran di dunia nyata, semua terangkum di dalamnya, namun disitu juga ada konflik yang melengkapi alur ceritanya.

Kecanggihan teknologi sebagai informasi yang tak terbendung lagi, memberi ruang tanpa sekat, tua muda bisa bersama, laki perempuan bisa berkumpul dalam ruang media sosial. Ini menyisakan PR fikih baru yang sebelumnya tidak terbahas bahkan tidak tergambarkan. Jika pada biasanya, kajian fikih lebih konkret dalam pembahasan sesuatu yang tampak, maka disini ada hal yang tidak lumrah pada masa lalu dan ini memerlukan kajian mendalam mengingat produksi hukum yang tergali melegitimasi masalah social kemasyarakatan pada umumnya.

Bergunjing
Sementara yang terjadi di media sosial tidak hanya sebatas perkenalan dan sebagainya, disana juga dilengkapi dengan berbagai kepentingan, bahkan yang iseng pun tak ketinggalan menyelaraskan diri di media sosial. Bahkan di dunia nyata, pergunjinganpun menjadi obrolan pengisi waktu. Ngalor-ngidul disana-sani, menggunjing orang-orang yang tidak disukai. Mungkin mereka bukan tidak mengerti tentang hukum bergunjing, tetapi memang tidak afdol jika di media sosial tidak dibumbui pergunjingan.

Bisa dikatakan, bergunjing adalah bagian haqqul adamy (dosa kepada sesama manusia) yang telah digariskan dari bagian dosa-dosa besar. Si pelaku tidak akan mendapat ampunan Allah selagi ia tidak meminta maaf terlebih dahulu kepada orang yang telah dipergunjingkan, maka tidak heran jika Al-Ghazaly dalam Ihya Ulumiddinnya mengharuskan pelaku penggunjingan untuk menyesali perbuatannya dan bertaubat serta menyesali atas apa yang telah ia perbuat.

Tujuannya supaya ia mendapat pengampunan yang berkaitan dengan haqqullah, kemudian ia meminta maaf dan ridho dari orang yang telah ia pergunjingkan. Tetapi Al-Hasan mencukupkan dengan beristingfar tanpa mengharuskan meminta ridho atas penggunjingannya kepada orang yang ia dholimi, sedangkan Mujahid mencukupkan dengan memuji dan mendoakan baik kepadanya.

Dari berbagai cara pertaubatan yang telah diusulkan oleh para ulama, Al-Ghazaly sendiri lebih membenarkan terhadap pendapat Atho’ bin Abi Robah, bahwa pelaku ghibah wajib baginya untuk menghadiri orang yang telah dia rasani, dengan berkata “Aku telah mendustakan perkataanmu serta mendholimi dan menjelekkanmu, jika engkau mau, ambillah hakmu, dan jika ridho, engkau bisa memaafkanku” (Ihya Ulumiddin, Juz: 3, Hal: 189).

Jadi bagi orang yang melakukan ghibah, wajib bagi dia untuk meminta kehalalannya jika ia mampu, jika ia tidak ada atau ia sudah meninggal dunia, maka dia harus memperbanyak istighfar dan berdoa serta memperbanyak melakukan amal kebaikan.

Ghibah (bergunjing) menurut Syarofuddin al-Nawawy adalah menyebut orang lain dengan sesuatu yang tidak disukainya, baik menyebut dengan pengucapan, tulisan, dan atau dengan berisyarah kepadanya, baik isyarah tersebut dengan kepala, tangan, dan atau mata (Al-Azdkar: 301). Sedangkan menurut Al-Ghazaly, ghibah adalah menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukai andai penyebutan tersebut sampai ketelinganya, baik penyebutan tersebut terhadap kekurangan yang ada pada tubuhnya, nasabnya, atau budi pekertinya, perbuatannya, perkataannya, agamanya, atau bahkan dalam urusan keduniawiannya sampai tentang pakaian, rumah, dan kendarannya (Ihya Ulumiddin: Juz: 3 Hal: 177). Kesemuanya tersebut termasuk bagian dari ghibah. Jadi pada kesimpulannya adalah semua pergunjingan yang tidak disukai apabila sampai ketelinga orang yang dirasani, apapun bentuknya maka itulah ghibah. Maka siapapun yang berperan didalamnya, ia masuk dalam bagiannya, jika ia mampu maka ia harus mencegahnya dengan mengalihkan pembicaraan, tetapi jika tidak mampu maka harus ingkar dengan hati dan menghindar darinya.

Ilustrasi Media Sosial. Dok: WinNetNews.com

Hukum asal gibah (menggunjing) memang haram, tetapi ada batas-batas tertentu dalam pergunjingan yang diperbolehkan. Menurut Syarofuddin al-Nawawy dalam al-Azdkarnya, ada enam poin dalam bergunjing yang diperbolehkan. Pembolehan ini menurut beliau, jika tujuannya benar secara syariat yang tidak bisa dilewati kecuali harus dengan menggunjingnya (gibah).

  1. Ada pendholiman, maka diperbolehkan kepada orang yang didholimi untuk mengadukan kedholimannya kepada sulthon (pemerintah), qhody, dan yang sederajat yakni, kepada pihakpihak berwenang yang mempu mengatasi kedholiman yang menimpa kepada orang yang mengadu tersebut.
  2. Meminta tolong untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan ahli maksiat kepada jalan yang benar, maka ia boleh berkata kepada pihak yang dirasa punya kemampuan amar ma’ruf nahi mungkar “Si A melakukan ini dan itu, tolong ia dicegah” dan lain sebagainya.Tetapi disini, tetap dengan tujuan hanya menjadikan pelantara untuk menghilangkan kemungkaran, jika tidak ada tujuan demikian, maka hukumnya tetap haram.
  3. Meminta fatwa kepada mufti, seperti dengan berkata “Ayah atau saudaraku atau si A atau si B telah melakukan ini dan itu, apakah hal itu boleh atau apa pendapatmu.
  4. Menakut-nakuti orang-orang Islam dari kejelekan dan menasehati mereka.
  5. Ada orang yang terangterangan dengan kefasikannya atau kebidahannya, seperti peminum homer dan lain sebagainya.
  6. Mencari tahu utuk mengenali, seperti mencari seseorang yang dikenal dengan panggilan si buta, si pincang dan lain sebagainya, maka boleh baginya mencari tahu dengan panggilan tersebut, tetapi hanya sebatas mencari tahu untuk mengenali saja.

Semua pembolehan tersebut jika tujuannya baik dan murni dengan enam hal tersebut, tetapi jika niatnya bukan yang demikian maka hukum menggunjing tetap kembali kepada hukum asal yakni haram.

Penulis: Halwani El-Ramzy, S.Pd.I
Redaktur: Ach. Hafsin

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas