Program PDF PP. Syaichona Moh. Cholil; Menggagas Pesantren Masa Depan

banner 160x600
banner 468x60

Brosur 1

Brosur 2

asscholmedia.net – Pesantren merupakan kekuatan civil society (masyarakat sipil) yang sangat handal. Sebelum Negara lahir, pesantren telah ada bahkan turut serta aktif dalam pendirian Negara dan Bangsa. Dari rahim pesantren melahirkan tokoh ulama dan pemimpin umat. Ketika dibandingkan dengan pendidikan lain, pesantren lebih komplek, heterogen (terdiri atas berbagai unsur yang berbeda sifat atau beraneka ragam) dan massif.

Selama ini pemerintah belum sepenuhnya mengakui pendidikan yang ada di pesantren, lulusan pesantren pun banyak yang tidak diikut sertakan dalam mewarnai NKRI. Lulusan pesantren salafiyah selama ini dianggap hanya mampu mengaji saja. Mereka juga tidak memiliki ijazah formal sehingga akses terhadap dunia luar menjadi terbatas. Ijazah pesantren tidak cukup untuk bisa digunakan modal untuk masuk di kursi-kursi kepemerintahan, bahkan ijazah pesantren tidak bisa digunakan untuk sekedar melamar kerja di perusahaan-perusahaan swasta. Intinya, ijazah pesantren tidak seperti ijazah sekolah formal yang bisa multi fungsi.

Pendidikan formal tingkat pendidikan dasar dan menengah yang dikenal oleh Negara kita selama ini hanyalah satuan pendidikan formal, yaitu jenis pendidikan umum yang menjadi otoritas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (SD, SMP, SMA/SMK) dan jenis pendidikan umum berciri khas Islam yang menjadi otoritas Kementrian Agama Pendidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (MI, MTs, MA).

Lulusan pendidikan, baik dari sekolah (pendidikan formal seperti SD, SMP, SMA/SMK) maupun dari madrasah (pendidikan formal berciri khas Islam seperti MI, MTs, MA) dengan tanpa ada sentuhan pendidikan pesantren, dalam banyak hal oleh sebagian besar masyarakat dinilai belum cukup mampu untuk melahirkan ahli di bidang ilmu agama Islam (Mutafaqqih fiddin).

Materi agama Islam yang diajarkan selama 2 hingga 3 jam pelajaran di sekolah dan materi agama Islam yang diwujudkan dalam 5 (lima) mata pelajaran al-Qur’an-Hadits, Fiqh Aqidah-Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab yang diajarkan dalam beberapa jam pelajaran yang jauh lebih sedikit dibanding dengan mata pelajaran umum di madrasah, dengan tanpa mendapatkan layanan pendidikan pesantren, itu dinilai belum mampu melahirkan lulusan yang memiliki kapabilitas atau kompetensi ulama mutafaqqih fiddin (ahli di bidang ilmu agama Islam). Tegasnya, lulusan sekolah dan lulusan madrasah secara murni tidak mampu menghasilkan kader ulama.

Di lain sisi, ketika Pesantren salaf mencoba menyelenggarakan pendidikan formal di dalam pesantren guna untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap ijazah formal di era sekarang, terkadang akan berdampak terhadap menurunnya kwalitas santri yang dikarenakan tenaga mereka terlalu diforsir secara terus menerus untuk belajar ilmu agama di Madrasah Salafiyah sekaligus belajar ilmu umum di sekolah formal dengan berbagai macam kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan, dan secara otomatis konsentrasi mereka akan pecah yang dikhawatirkan hasil akhirnya tidak ada yang matang dengan sempurna (tidak ahli di bidang ilmu agama, juga tidak ahli di bidang ilmu umum).

Selain itu, juga rawan terhadap kesalafan pesantren tersebut akan terkikis sedikit demi sedikit yang pada akhirnya berubah menjadi pesantren modern yang lebih kental keilmuan umumnya. Sangat miris memang, ketika kita melihat kenyataan seperti di atas. Namun, Alhamdulillah saat ini sudah ada Pendidikan Diniyah Formal (PDF) yang ditargetkan bisa menjadi batu loncatan bagi Kaderisasi Ulama, serta sarana bagi Pondok Pesantren untuk bisa menjadikan para alumninya bisa ikut andil dalam mewarnai NKRI, karena ijazahnya benar-benar mendapatkan pengakuan penuh dari Negara dan memiliki fungsi yang sama dengan ijazah sekolah formal pada jenjang yang sama.

Kementerian Agama dengan bermitra dengan Pesantren-Pesantren tertentu yang dianggap kompeten membuka ruang baru dan memberikan pilihan kepada masyarakat untuk mendidik putera-puteri mereka menjadi kader ulama melalui layanan Pendidikan Diniyah Formal (PDF).

Landasan hukum dari PDF ini adalah Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam, yang merupakan turunan atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan yang merupakan implementasi dari Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
PDF merupakan salah satu dari entitas kelembagaan pendidikan keagamaan Islam yang bersifat formal untuk menghasilkan lulusan mutafaqqih fiddin (ahli ilmu agama Islam) guna menjawab atas langkanya kader mutafaqqih fiddin.

Jenjang PDF dimulai dari jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi. Jenjang pendidikan dasar ditempuh pada PDF Ula selama 6 (enam) tahun dan PDF Wustha selama 3 (tiga) tahun, Jenjang pendidikan menengah ditempuh pada PDF Ulya selama 3 (tiga) tahun. Sedangkan jenjang pendidikan tinggi ditempuh pada Ma’had Aly untuk program sarjana (S1), magister (S2) dan doktor (S3).

Kurikulum yang dikembangkan oleh PDF terdiri atas pendidikan umum dasar dan pendidikan keagamaan Islam berbasis kitab kuning (kutub al-turats). Mata pelajaran pendidikan umum hanya terdiri atas materi-materi dasar dari Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Untuk tingkat ulya ditambah dengan Seni dan Budaya, sementara mata pelajaran keagamaan Islam hingga tingkat ulya meliputi: Al-Qur’an, Tajwid, Tauhid, Tarikh, Hadist, lmu Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Akhlaq, Tasawuf, Tafsir, Ilmu Tafsir, Bahasa Arab, Nahwu, Shorof, Balaghoh lmu Kalam, llmu Arudh, Ilmu Mantiq, dan llmu Falak yang semuanya berbasis kitab-kitab salaf yangn sudah bertahun-tahun dipelajari di Pondok Pesantren.

Mulai tahun 2016 M. Madrasah Diniyah Salafiyah Al-Ma’arif Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Demangan Barat Bangkalan sudah terdaftar sebagai salah satu Pendidikan Diniyah Formal (PDF) yang ada di Indonesia, dengan harapan santri-santri yang belajar di Pondok Pesantren ini lebih maksimal karena untuk mendapatkan pengetahuan mendalam tentang agama yang menjadi modal terbesar untuk selamat dan sejahtera di dunia dan akhirat.

Hal lain yang juga perlu diketahui bahwa ijazah formal yang banyak dibutuhkan di masa sekarang ini, mereka (santri-santri) tidak perlu lagi sekolah ganda dan mengeluarkan biaya tambahan dan lain sebagainya, dengan begitu akan lebih efisien dalam masalah tenaga dan juga biaya.

Ilmu-ilmu umum yang bersifat pokok yang menjadi suatu kebutuhan di zaman sekarang ini, seperti Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan PKN juga diajarkan di PDF ini. Tidak hanya itu, sebagai modal ketika santri boyong dari Pesantren, kami (Pengurus Pondok Pesantren) mulai tahun ajaran 1440-1441 H. akan membekali santri-santri PDF dengan ketrampilan-ketrampilan tertentu sesuai bakat atau keahlian santri seperti lokomotif, multimedia, menjahit dan wirausaha yang lain (Pendidikan Vokasi).

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Program PDF PP. Syaichona Moh. Cholil; Menggagas Pesantren Masa Depan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.