Kitab Al-Matnus Syarif Karya Syaichona Cholil Bangkalan

banner 160x600
banner 468x60

Dalam dunia literatur Islam atau kitab kuning (كتب التراثية), sering kali kita temui beberapa istilah yang biasa muncul dalam sampul maupun halaman depan suatu cetakan mushaf kitab. Namun tak jarang tidak disebutkan secara jelas sehingga membuat pembaca kebingungan. Istilah tersebut antara lain Matan (متن), Syarah (شرح), dan Hasyiyah (حاشية).

Matan adalah suatu karangan tulisan yang merupakan kitab induk. Biasanya hanya sebatas tulisan singkat dan padat yang disusun dalam beberapa bab maupun pasal. Matan bisa berupa syair atau nadhom, bisa juga berupa kalam natsar atau prosa.

Syarah adalah sebuah karya tulisan yang berisi tentang penjelasan, perincian dan penafsiran dari suatu kitab induk. Bisa dikatakan syarah merupakan perluasan pembahasan dari suatu kitab induk (matan) yang penjelasannya lebih detail. Ulama yang menulis syarah disebut dengan istilah As-Syarih (الشارح).

Hasyiyah adalah penjelasan, komentar maupun pelengkap daripada kekurangan-kekurangan yang mungkin ada pada syarah, terkadang juga berupa komentar terhadap kitab matan itu sendiri. Hasyiyah tidak mencakup keseluruhan isi kitab, namun hanya sebatas bagian yang dikira penting saja.

Tradisi penulisan kitab berbentuk matan, syarah dan hasyiyah hingga abad ini terus dilestarikan. Tidak hanya di timur tengah bahkan di Nusantra ini pun sudah banyak ulama-ulama pesantren yang juga turut andil dalam melestarikan kajian khazanah keislaman ini.

Syaichona Moh. Cholil bin Abdul Lathif, salah satu ulama pesantren asal Bangkalan Madura yang juga turut andil dalam hal ini. Salah satu dari beberapa karyanya adalah Al-Matnus Syarif Al-Mulaqqab bi Fathil Lathif. Teks utama yang bertajuk Pembuka kebaikan pada kitab yang dikarang oleh beliau ini merupakan kitab matan yang berbicara mengenai dasar-dasar hukum Islam (ilmu fiqh). Yang menarik dari kitab setebal 36 halaman ini bukan hanya karena kharisma penulisnya saja, melainkan kitab ini telah menghadirkan kesan baru bagi pembaca yang sebagian orang sampai saat ini menganggap bahwa literatur keislaman seperti kitab terkesan rumit dan susah. Hal ini karena beliau berhasil merangkai Bahasa dengan lugas dan mudah di paham.

 

Dalam pembahasan kitab tersebut, setidaknya terdapat tiga intisari yang bisa diambil oleh peresensi untuk disuguhkan pada pembaca. Pertama, kitab ini berbicara tentang pijakan teologis (akidah) paling mendasar dengan menanamkan sikap kepatuhan dan keyakinan berupa pengenalan terhadap rukun Iman dan rukun Islam (hal 1-2).

Kedua, Beliau menyinggung permasalahan lain yang juga tidak kalah penting. Hal ini berkaitan dengan tata nilai ibadah seorang hamba pada tuhannya yakni berupa adab atau etika. Karena bagaimanapun, praktik ibadah tidak hanya fokus pada seperangkat aturan berupa syarat-rukun ataupun kesunnahan. Hal itu memang harus, namun mengedepankan etika juga tidak kalah pentingnya (hal 4-5). Contoh sederhananya, Syaichona Cholil mewanti-wanti untuk tidak membelakangi kiblat tatkala melakukan aktivitas yang menurut keumumannya dianggap tidak pantas. Semisal pada saat membuang hajat (qadhil hajat).

Ketiga, kitab ini merumuskan tema yang menyangkut keabsahan dalam beribadah yang dalam hal ini, Syaichona Cholil memulai pembahasan dengan mengurai tuntutan bersuci (thaharah) yang merupakan prosedur awal sebelum melakukan ibadah berikutnya (hal 6-14). Selanjutnya, beliau membahas persyaratan sebelum melakukan shalat dan permasalahan yang terkait, serta menyajikan aturan-aturan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kesempurnaan ibadah. Begitu juga dalam kitab ini dijelaskan bagaimana tata cara merawat jenazah (tajhizul janaiz), puasa Ramadhan, Itikaf, risalah haji dan umrah sebagai bagian akhir.

Walaupun kitab ini hanya berbentuk kitab matan, namun beliau berhasil menyuguhkan beberapa tema yang biasanya tidak ditemukan dalam kitab sejenisnya. Tema yang dimaksud misalnya, tata aturan melakukan salam (As-Salam). Dijelaskan bahwa kalimat Salam harus makrifat, disambung dengan huruf Kaf khitab yang berkedudukan jamak dan tidak boleh ada jeda pemisah saat mengucapkan dua kalimat salam: السلام عليكم. Persoalan ini yang menurut sebagian kalangan dianggap hal sepele sekalipun telah maklum, namun jarang kitab-kitab matan yang menguraikannya. Biasanya hanya ditemukan dalam kitab model Syarah atau Hasyiyah.

Selain itu, persamaan ‘Salam’ adalah Tahlil yang bermakna menghalalkan. Mengapa demikian, karena ketika telah mengucapkan salam seorang telah halal melakukan aktivitas yang sebelumnya dilarang, seperti melakukan aktivitas yang bisa membatalkan shalat. Pengertian ini berdasarkan sabda Rasulullah saw: Pijakan yang menjadi kunci shalat adalah wudhu sementara yang mengharamkan (beraktivitas) selain shalat adalah takbiratul ihram dan tindakan yang menghalalkan (beraktivitas) selain shalat adalah salam. Simpelnya, salam menjadi penutup serangkaian syarat-rukun dalam shalat dan telah dihalalkan untuk melakukan aktivitas tertentu yang sebelumnya dilarang dalam shalat.

Pada akhirnya, kitab ini mampu meminimalisir kesulitan dalam memahami literatur keislaman khususnya dalam proses mempelajari ilmu fiqih, terlebih untuk kalangan pemula (basic level) dan juga relevan jika kiranya dijadikan kurikulum dasar khususnya di sekolah-sekolah di Bangkalan. Karena faktanya, tidak banyak lembaga pendidikan berbasis diniyah yang menggunakan kitab-kitab karangan beliau, kalaupun ada itu hanya sebatas bahan pengajian di Musholla (seperti di beberapa Pondok Pesantren).

Terlepas dari itu, melestarikan buah karya ulama nusantara seperti Syaichona Moh. Cholil adalah merupakan wujud kepedulian kita bersama dalam menjaga warisan yang amat berharga, karena bagaimanapun kita tidak pernah bisa membalas jasa-jasa yang tak terhitung yang telah mengalir sebagai sumbangsih keilmuan semasa beliau hidup. Wallahu a’lam.

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Kitab Al-Matnus Syarif Karya Syaichona Cholil Bangkalan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.