Mengucapkan Selamat Natal Bertentangan Dengan Akidah Islam

banner 160x600
banner 468x60

Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang melarang seorang Muslim memulai mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani. Hadits tersebut menyatakan:
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لاَ تَبَدَءُوا اْليَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيْتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيْقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ (رواه مسلم).
Artinya; “Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: janganlah memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani. Jika kamu bertemu mereka di jalan, pepetlah jalannya itu kearah yang lebih sempit”. (Kitab As-Salam, bab Al-Nahyu An-Ibtida’ Ahlu Al-Kitab bi Al-Salam. Hadits no: 2167. Jilid 4).

Ulama berbeda paham mengenai makna larangan tersebut. Dalam kitab Subul As-Salam karya Muhammad bin Ismail Al-Kanlani (Jilid 4, Hal 155) antara lain dikemukakan bahwa sebagian ulama madzhab Syafi’i tidak memahami larangan tersebut dalam arti haram, sehingga mereka membolehkan menyapa non-Muslim dengan ucapan salam. Pendapat ini merupakan juga pendapat sahabat Nabi, Ibnu Abbas, Al-Qadhi Iyadh dan sekelompok ulama lain membolehkan mengucapkan salam kepada mereka kalau ada kebutuhan. Pendapat ini juga dianut oleh Alqamah dan Al-Auza’i.

Bahkan dalam riwayat Bukhari dijelaskan tentang sahabat Nabi bahwa orang Yahudi bila mengucapkan salam terhadap orang Muslim tidak berkata, “Assalamu’alaikum” tetapi “Assamu’alaikum”, yang berarti “kematian atau kecelakaan bagi mu”.

Rasulullah saw bersabda:
حدثنا عثمان بن أبي شيبة حدثنا هشيم أخبرنا عبيد الله بن أبي بكر بن أنس حدثنا أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ اْلكِتَابِ فَقُوْلُوا وَعَلَيْكُمْ (رواه بخاري ومسلم)
Artinya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda: Apabila Ahlul Kitab memberi salam kepadamu maka ucapkanlah ‘alaikum (bagi andalah)”. (Shahih Bukhari, bab Kaifa Al-Roddu ala Ahlu Dzimmah bi As-Salam, No: 5903 dan Shahih Muslim, bab An-Nahyu anil Ibtida’ Ahl-Kitab, No: 2163, Jilid 4).

Jika demikian wajarlah apabila Nabi melarang memulai salam untuk mereka dan menganjurkan untuk menjawab salam mereka dengan “’Alaikum”, sehingga jika yang mereka maksud dengan ucapan itu adalah kecelakaan atau kematian, maka jawaban yang mereka terima adalah “bagi andalah (kecelakaan itu)”.

Mengucapkan “Selamat Natal” masalahnya berbeda. Dalam masyarakat kita, banyak ulama yang melarang tetapi tidak sedikit juga yang membenarkan dengan beberapa catatan khusus.

Sebenarnya dalam Al-Qur’an ada ucapan selamat atas kelahiran Nabi Isa:
وَالسَّلَامُ عَلىَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (مريم: 33)
Artinya: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Surah ini mengabadikan dan meyetujui ucapan selamat natal pertama yang diucapkan oleh Nabi mulia itu, akan tetapi persoalan ini jika dikaitkan dengan hukum agama tidak semudah yang diduga banyak orang, karena hukum agama tidak terlepas dari konteks, kondisi, situasi, dan pelaku.

Yang melarang ucapan “Selamat Natal” mengaitkan ucapan itu dengan kesan yang ditimbulkannya, serta makna populernya, yakni pengakuan ketuhanan Yesus Kristus. Makna ini jelas bertentangan dengan akidah Islamiah, sehingga ucapan “Selamat Natal” paling tidak dapat menimbulkan kerancuan dan kekaburan.

Ucapan selamat atas kelahiran Nabi Isa (Natal), manusia agung lagi suci itu, memang ada di dalam Al-Qur’an, tetapi kini perayaannya dikaitkan dengan ajaran agama Kristen yang keyakinannya terhadap agama Isa al-Masih berbeda dengan pandangan Islam. Mengucapkan “Selamat Natal” atau menghadiri perayaannya dapat menimbulkan kesalah pahaman dan dapat mengantarkan kita kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami sebagai pengakuan akan ketuhanan al-Masih, satu keyakinan yang secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan alasan ini lahirlah larangan dan fatwa haram untuk mengucapkan “Selamat Natal”, sampai-sampai ada yang beranggapan ucapan selamat, aktivitas apapun yang berkaitan atau membantu terlaksananya upacara Natal tidak dibenarkan.

Oleh: Muhammad Rofi’i

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Mengucapkan Selamat Natal Bertentangan Dengan Akidah Islam"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.